Sadio Mane: Dari Jalanan Bambali Menuju Legenda Sepak Bola Afrika
Bagi Sadio Mane, semuanya bermula di Bambali. Di wilayah barat daya Senegal itulah ia memulai petualangan sepak bolanya di jalanan bertanah merah dan lapangan berpasir. Di sana juga, saat berusia 13 tahun pada 2005, ia menyaksikan kebangkitan epik Liverpool dalam final Liga Champions melawan AC Milan.
Ukiran Prestasi Gemilang
Sejak momen inspiratif itu, perjalanan Mane melesat bak roket. Ia berhasil mengangkat trofi bergengsi Liga Champions dan Premier League bersama Liverpool, klub yang dulu ia idolakan. Tak hanya di level klub, Mane juga sukses membawa tim nasional Senegal, yang dijuluki Teranga Lions, meraih gelar juara Piala Afrika.
Mane mencetak penalti penentu kemenangan melawan Mesir di final edisi 2021, sebuah momen yang ia gambarkan sebagai “hari terbaik dalam hidup saya dan trofi terbaik dalam hidup saya.” Sebagai bentuk pengakuan atas prestasinya, sebuah stadion kemudian dinamakan sesuai namanya di kota Sedhiou, yang berjarak kurang dari empat jam dari kampung halamannya.
Ambisi dan Sinyal Perpisahan di Piala Afrika
Pada sebuah kesempatan, Mane pernah menyatakan bahwa ia memiliki peluang untuk memenangkan gelar Piala Afrika kedua. Kala itu, sang penyerang mengungkapkan perasaannya setelah golnya di babak kedua menyingkirkan Mesir di semifinal.
“Kami tahu bagaimana bermain di final,” kata Mane.
“Sebuah final memang harus dimenangkan. Saya akan sangat senang memainkan final Piala Afrika terakhir saya, menikmatinya, dan membuat negara saya menang.”
Harapan Rekan Setim untuk Sang Legenda
Meskipun ada sinyal dari Mane tentang potensi perpisahan, gelandang Pape Gueye mengungkapkan bahwa skuad timnas bertekad untuk meyakinkan Mane, yang ia sebut sebagai “legenda Senegal,” untuk mengubah pikirannya. Mereka berharap Mane akan tetap bertahan dengan tim setidaknya hingga edisi 2027 yang akan digelar di Kenya, Tanzania, dan Uganda.
“Kami akan mencoba menahannya bersama kami sedikit lebih lama, karena ia masih punya tahun-tahun hebat untuk diberikan,” ujar pemain Villarreal berusia 26 tahun itu kepada BBC Afrique.
“Saya mendengar apa yang ia katakan dan kami akan melihat apa yang ia putuskan. Tapi kami sangat ingin ia tetap bersama kami selama bertahun-tahun lagi.”
Dampak dan Konteks
Perjalanan karier Sadio Mane adalah kisah inspiratif tentang bagaimana seorang anak dari Bambali bisa menaklukkan dunia sepak bola. Dari menyaksikan final Liga Champions di masa kecil hingga mengangkat trofi yang sama dan memimpin negaranya meraih kejayaan Piala Afrika, Mane telah mengukir namanya dalam sejarah. Sinyal potensi perpisahannya dari ajang Piala Afrika menciptakan diskusi hangat di kalangan penggemar dan rekan setim, yang sangat berharap agar legenda mereka tetap memimpin Teranga Lions di masa mendatang.
(LC/GN)
sumber : www.bbc.com
Leave a comment