Musim Newcastle United Terpuruk Usai Kekalahan Menyakitkan
Dalam waktu empat hari, musim Newcastle United bisa dibilang hancur. Sebelum menghadapi Barcelona, tim besutan Eddie Howe memiliki harapan untuk melaju ke perempat final Liga Champions, disertai impian meraih kemenangan derby perdana mereka di Premier League setelah 15 tahun.
Ironisnya, mereka kini harus menjalani istirahat selama tiga minggu setelah mengalami kekalahan memalukan 7-2 di Camp Nou dan hampir tidak memiliki harapan untuk tampil di Liga Champions musim depan setelah kalah dalam derby yang mengecewakan.
Kedua penampilan di babak kedua dalam dua pertandingan terakhir sangat mengecewakan dengan alasan yang berbeda, dan ini mempertanyakan arah yang diambil oleh klub.
Atasi Masalah Striker
Sebelum dua kekalahan menyakitkan itu, penampilan Newcastle menunjukkan tanda-tanda positif, namun pilihan striker yang diambil tampak merugikan. Kedua pemain striker yang didatangkan pada musim panas dengan total biaya £119 juta tidak pernah tampil sebagai penyerang utama sejak kekalahan 3-2 melawan Brentford pada 7 Februari.
Nick Woltemade tidak memulai pertandingan sebagai penyerang tunggal sejak hasil imbang 1-1 melawan Paris Saint-Germain pada fase liga Liga Champions bulan Januari. Sementara itu, Yoane Wissa hanya diturunkan dalam satu dari 15 susunan awal terbaru. Setelah kekalahan dari Brentford, ia hanya mendapatkan waktu bermain total 60 menit sebagai pemain pengganti.
Anthony Gordon yang telah mencetak 17 gol musim ini menunjukkan performa cukup baik. Namun, ia menunjukkan kelemahan ketika dimainkan sebagai penyerang tengah di babak kedua melawan Sunderland, dengan beberapa peluang yang terbuang. Meski Will Osula sempat hampir dijual, ia dianggap bisa lebih baik dibanding Woltemade dan Wissa dalam memimpin lini depan Newcastle.
Menambah striker baru, bahkan mungkin dua, adalah prioritas utama untuk musim panas mendatang. Kehilangan Alexander Isak yang dijual ke Liverpool pada hari batas transfer September lalu telah menjadi bencana bagi Newcastle.
Evolusi Departemen Kiper
Di kedua ujung lapangan, Newcastle masih kesulitan. Tidak mengherankan jika mereka kesulitan ketika di posisi penting seperti striker dan kiper, mereka menggunakan pemain yang bukan pilihan utama akibat kurangnya kualitas dari kiper utama yang seharusnya.
Nick Pope pernah menempati posisi kiper nomor satu, namun setelah serangkaian kesalahan yang dilakukan, ia digantikan oleh Aaron Ramsdale. Meski Ramsdale tampil cukup baik, persentase penyelamatannya hanya 61,8 persen, yang merupakan yang terendah kedua di Liga Premier untuk kiper yang telah bermain lebih dari 600 menit musim ini.
Kekurangan kesempatan untuk mendapatkan James Trafford musim lalu saat ia kembali ke Manchester City dari Burnley terasa merugikan. Departemen kiper perlu disegarkan total demi mendapatkan pemain yang mampu memberikan jaminan dan melakukan penyelamatan yang baik.
Rencanakan Rekrutmen dengan Jelas
Masalah rekrutmen menjadi sorotan utama dari para penggemar. Dengan pengeluaran sebesar £241 juta pada musim panas lalu, Newcastle justru mengakhiri jendela transfer dengan susunan pemain yang lebih lemah dibanding saat memulainya. Tidak adanya pemain baru yang menambah kualitas tim di lima jendela transfer terakhir menjadi beban berat.
Newcastle perlu memiliki strategi rekrutmen yang jelas untuk musim panas mendatang dan berkomitmen untuk mengikutinya. Saat mereka akhirnya menjual Isak dengan catatan rekor transfer Inggris, tim merasakan dampak negatif dari keputusan pribadi yang tidak cepat.
Beberapa pemain seperti Sandro Tonali, Bruno Guimaraes, Tino Livramento, dan Gordon kini dikaitkan akan hengkang setelah musim berakhir. Newcastle harus mengetahui siapa yang akan dipertimbangkan untuk dijual, berkomunikasi dengan mereka, dan segera menandatangani pengganti.
Pada musim panas mendatang, ini menjadi jendela transfer terpenting bagi Newcastle sejak takeover tahun 2021. Perombakan besar skuad sangat mungkin dilakukan dan rencananya harus ditetapkan dengan jelas dan dijalankan dengan tepat.
Ambil Keputusan Tegas dalam Perombakan Skuad
Newcastle harus tegas musim panas ini. Tidak ada ruang untuk emosi saat mempertimbangkan masa depan para pemain yang telah membawa klub keluar dari zona degradasi. Pemain seperti Kieran Trippier dan Fabian Schar telah berkontribusi besar, namun tim butuh pemain lebih muda untuk berkembang.
Ross Wilson, direktur sepak bola, harus siap membuat keputusan sulit dan bersedia menghadapi kerugian finansial untuk pemain-pemain yang tidak sesuai. Jika manajer Howe merasa Wissa bukan bagian dari rencana tim, maka langkah lebih baik adalah memindahkan pemain tersebut.
Dukung Eddie Howe atau Ambil Arah Baru
Bunyi boo terdengar jelas setelah kekalahan melawan Sunderland. Meskipun tidak semua pendukung menentang Howe, ketidakpuasan semakin meningkat. Howe mengakui bahwa ia “kecewa dengan kinerjanya” namun menegaskan berkomitmen penuh pada tugas ini.
Pihak manajemen Newcastle telah berkeras bahwa Howe adalah pelatih jangka panjang mereka. Jika itu tetap, mereka harus mengumumkannya secara publik dan mendukung Howe dengan rencana yang baik. Namun, jika mereka ragu, keputusan perlu diambil sebelum Newcastle bermain lagi.
Tingkatkan Pendapatan
David Hopkinson, CEO baru, membawa arah baru bagi klub. Rencana untuk menjadikan Newcastle salah satu klub terkemuka dunia pada tahun 2030 sangatlah ambisius. Beberapa kerja sama besar akan diumumkan sebelum akhir musim sebagai langkah untuk meningkatkan pendapatan klub.
Hopkinson perlu membuktikan bahwa rencana ini tidak hanya sekadar berbicara, tetapi dapat direalisasikan dengan substansi yang kuat di belakangnya.
Bangun Momentum dengan Pengumuman Besar
Walaupun organisasi internal klub sudah stabil, tetapi perasaan stagnasi masih terlihat pada proyek yang dipimpin oleh Dana Investasi Publik Arab Saudi. Newcastle perlu menjelaskan rencana mereka dalam pembangunan fasilitas baru seperti pusat pelatihan dan stadion, agar komitmen pemilik klub lebih terlihat.
Hentikan Rekor Buruk Derby
Kekalahan beruntun dalam derby kontra Sunderland menjadi penghalang bagi kemajuan Newcastle. Sejak terakhir menang di Premier League pada 2011, Newcastle menelan delapan kekalahan dalam sebelas pertemuan. Secara psikologis, kemenangan di derby ini sangat penting bagi mereka untuk meraih status elite di liga.
(LC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment