Berikut adalah artikel yang ditulis ulang sesuai permintaan Anda untuk garisfinish.com:
Kembalinya Aymeric Laporte Ancam Mimpi Piala Dunia Bek Muda Spanyol
Perjalanan karier Cristiano Ronaldo membuatnya pernah berbagi ruang ganti dengan banyak bek elite, dari pemenang Liga Champions di Madrid hingga proyek ambisius di luar negeri. Salah satu mantan rekan setim Ronaldo kini secara perlahan membentuk ulang lanskap sepak bola internasional menjelang Piala Dunia 2026.
Saat Spanyol mulai mempersempit opsi pemainnya untuk turnamen akbar tersebut, sebuah figur yang familiar dan terpercaya kembali menjadi sorotan. Situasi ini memberikan tekanan tak terduga pada seorang bintang muda di level klub. Konsekuensinya bisa sangat besar: mimpi Piala Dunia yang terancam.
Dengan Ronaldo yang sebelumnya pernah bermain bersama Aymeric Laporte di Al-Nassr, kebangkitan kembali Laporte kini terasa jauh melampaui sepak bola klub. Bagi Spanyol, kontinuitas dan kepercayaan adalah hal penting, dan realitas ini mungkin harus dibayar mahal oleh pemain muda.
Dilema Luis de la Fuente
Pelatih timnas Spanyol, Luis de la Fuente, menghadapi salah satu tugas penyeleksian skuad paling rumit selama masa jabatannya. Dengan turnamen mendatang di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada yang semakin dekat, La Roja sebagian besar dibangun di atas fondasi kampanye sukses mereka di Euro 2024.
Stabilitas telah dihargai, namun persaingan semakin ketat. Posisi lini tengah sudah terancam, dengan performa gemilang dari Martin Zubimendi dan Mikel Merino yang memberikan tekanan pada nama-nama mapan. Bahkan mantan kapten Alvaro Morata menghadapi perjuangan berat untuk mengamankan tiketnya.
Namun, mungkin area paling bergejolak adalah lini pertahanan tengah, di mana pengalaman, keandalan, dan kebugaran ditimbang melawan potensi pemain muda.
Awal Gemilang yang Pudar bagi Dean Huijsen
Sedikit pemain yang menembus skuad Spanyol secepat Dean Huijsen. Pertama kali dipanggil pada bulan Maret, bek muda ini langsung memberikan kesan di perempat final Nations League dan dengan cepat menjadi fitur reguler setiap kali dia bugar. Antara Maret dan Oktober, dia tidak melewatkan satu menit pun untuk tim nasional.
Namun, momentum itu kini terhenti. Cedera telah mengganggu ritmenya, memaksanya absen dari beberapa jeda internasional. Selama periode yang sama, performanya di level klub juga menurun, dengan kesalahan-kesalahan yang tidak biasa mulai muncul dalam penampilannya.
Menurut surat kabar Spanyol Marca, faktor-faktor ini telah bergabung untuk menempatkan posisinya di Piala Dunia dalam bahaya serius.
Faktor Laporte Kembali Berperan
Komplikasi terbesar bagi Huijsen bukan hanya persaingan internal, tetapi juga kembalinya seorang pemimpin yang dipercaya. Kepindahan Laporte kembali ke sepak bola Spanyol sepenuhnya mengubah persamaan.
Meskipun masa bermainnya di Arab Saudi sempat menyebabkan penurunan sementara dari rencana skuad Spanyol, Laporte tetap menjadi salah satu bek paling dipercaya de la Fuente. Bersama Robin Le Normand, ia membentuk pasangan bek tengah pilihan utama pelatih selama Euro 2024 di Jerman.
Kini kembali bersatu di tanah domestik, keduanya secara luas dianggap hampir pasti masuk skuad Piala Dunia jika bugar, dan itu menyisakan sedikit ruang. Spanyol diperkirakan akan membawa empat bek tengah, dengan setidaknya lima kandidat kuat dalam persaingan.
Dengan Laporte dan Le Normand yang praktis terkunci, Huijsen berjuang untuk mendapatkan tempat tersisa melawan Pau Cubarsi dan Dani Vivian. Tak satu pun dari ketiga pemain ini menikmati musim yang sempurna, yang hanya meningkatkan ketegangan.
Ada juga pemain lain yang berusaha keras. Bek Arsenal Cristhian Mosquera telah membuat kesan dengan keserbagunaannya, mampu beroperasi baik di tengah maupun sebagai bek kanan, sementara Aitor Paredes juga tetap dalam radar. Batas persaingannya sangat tipis, dan performa terkini sangat penting.
(WC/GN)
sumber : worldsoccertalk.com
Leave a comment