Home Sepakbola FIFA world cup 2026 Piala Dunia 2026 di AS: Biayanya Bukan Kaleng-Kaleng!
FIFA world cup 2026

Piala Dunia 2026 di AS: Biayanya Bukan Kaleng-Kaleng!

Share
Piala Dunia 2026 di AS: Biayanya Bukan Kaleng-Kaleng!
Share

Harga Tiket Piala Dunia 2026: Bukan Kemahalan, Tapi Realitas Pasar Amerika

Ada gelombang kekagetan yang terus berulang dari sebagian penonton sepak bola internasional, terutama di Eropa, serta penggemar domestik, mengenai biaya menghadiri Piala Dunia FIFA 2026. Tiket terasa mahal, paket hospitality terasa eksklusif, dan negara-negara tuan rumah terkesan tidak peduli dengan keluhan tersebut. Kekagetan ini sejatinya salah memahami di mana turnamen ini berlangsung.

"Selamat datang di Amerika Utara, para Eropa. Kalian tidak tahu apa yang kami lakukan di sini," sebuah sentimen yang menggambarkan inti masalah. Di Amerika Serikat (negara tuan rumah utama yang menentukan banyak hal), harga tiket bukanlah pelengkap, melainkan inti dari bisnis olahraga itu sendiri. Segala aspek lain, mulai dari sponsor, hospitality, hingga hak siar, dibangun di atas asumsi bahwa tiket akan terjual dengan harga pasar.

Model Olahraga Amerika: Pendapatan Tiket Utama, Lainnya Mengikuti

Realitas ini tidak akan berubah hanya karena Piala Dunia, justru semakin diperkuat dan menjadi sorotan. Presiden FIFA, Gianni Infantino, memahami lingkungan politik dan ekonomi ini. Dengan beroperasi di iklim yang mendukung leverage komersial, Infantino telah menyesuaikan diri, karena ini adalah jalan paling jelas bagi FIFA untuk menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Jika Anda penggemar sejarah, Anda mungkin melihat fenomena panem et circenses (roti dan tontonan) terjadi di depan mata.

Jika melihat peta ekonomi global, beberapa dari 20 kota dengan PDB tertinggi di dunia berada di Amerika Serikat. Fakta ini seharusnya sudah cukup untuk menghapus fantasi bahwa Piala Dunia kali ini akan menjadi turnamen "ramah bujet".

Ambil contoh Miami. Stadion yang akan menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia juga sering digunakan untuk kejuaraan nasional sepak bola universitas. Harga tiket untuk pertandingan tersebut sering melonjak tinggi, bahkan untuk menonton atlet muda. Padahal, para atlet ini sudah mendapatkan jutaan melalui kesepakatan Name, Image, and Likeness (NIL) yang memberikan kompensasi atas eksploitasi nama, gambar, dan rupa mereka. Dengan pemahaman ini, apakah masih aneh jika tiket Piala Dunia bisa mencapai $300-500? Mungkin ini bukan soal harga berlebihan, melainkan realitas pasar bebas.

Baca juga:  Nonton Live Streaming Kualifikasi Piala Dunia 2026!

Permintaan Domestik dan Pasar Sekunder

Pertanyaan sebenarnya yang harus dijawab FIFA bukanlah soal harga tiket yang tinggi. Melainkan apakah permintaan domestik akan cukup kuat untuk mengisi stadion dengan harga tersebut. Jawaban jujurnya mungkin tidak, setidaknya tidak sepenuhnya, terutama untuk pertandingan dengan daya tarik lebih rendah, seperti misalnya Curacao melawan Pantai Gading di Philadelphia, di mana tiket masih bisa didapatkan dengan harga di bawah $300.

Di sinilah kesalahpahaman semakin mendalam. Pasar primer berjalan di atas hype, urgensi, dan kelangkaan buatan. Sedangkan pasar sekunder berfungsi sebagai koreksi. Jika sejarah menjadi patokan, tiket akan tersedia mendekati kick-off dengan harga yang mencerminkan permintaan aktual, bukan histeria fase awal seperti yang terlihat sekarang.

Jadi, inilah nasihat yang mungkin banyak orang tidak ingin dengar: berhenti panik. Jangan mencoba membeli tiket pada saat harganya mencapai nilai tertinggi. Tindakan ini, secara terus terang, bisa disebut "sangat gila dan sangat bodoh."

Jika ingin kontrol penuh atas perencanaan dan harga, jendela kesempatan itu sudah tertutup begitu undian pertandingan selesai. Mulai sekarang, Anda harus bekerja dengan apa yang tersisa. Banyak penggemar sudah membeli paket jauh-jauh hari, mengalokasikan dana besar. Begitulah cara mega-event berfungsi di Amerika Serikat.

Dan ya, Piala Dunia kali ini tidak akan dapat diakses oleh semua orang. Sulit untuk mengatakannya, tetapi inilah kenyataan jujur. Turnamen ini akan mengecualikan sebagian dari spektrum sosio-ekonomi rendah. Itulah model olahraga Amerika.

"Itu bukan Amerika. Bukan itu yang kami representasikan," mungkin akan ada yang berkata demikian. Namun, perlu dipahami bahwa deskripsi ini bersifat objektif, bukan membela diri. Tidak pernah ada ekspektasi bahwa AS akan merancang ulang ekonomi olahraga langsungnya hanya untuk mengakomodasi Piala Dunia. Tidak ada alasan sama sekali untuk percaya bahwa hal itu akan dimulai sekarang.

Baca juga:  PD 2026: 13 Jam Tayang Beda, Pusing Pilih yang Mana?

Piala Dunia 2026 memasuki pasar baru yang kebetulan merupakan lingkungan olahraga langsung paling matang dan terkomersialisasi di dunia. Mari kita hadapi itu. Berhematlah. Pahami sistem yang akan Anda masuki. Dan tentu saja, nikmati pertunjukannya sambil mengabaikan berbagai keributan di sekitarnya. Ini adalah dampak dari model ekonomi olahraga Amerika yang kini menyentuh panggung global Piala Dunia.

(WC/GN)
sumber : sports.yahoo.com

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Pensiun 2026? Neymar Bidik Piala Dunia Lagi!

Neymar belum pensiun 2026! Bintang Brasil ini justru berambisi membidik Piala Dunia...

Neymar gantung sepatu setelah PD 2026? Ada apa nih?

Neymar dikabarkan akan gantung sepatu usai PD 2026. Benarkah? Rumor ini memicu...

Resmi! Orange & Telefonica Siarkan Semua Piala Dunia 2026 di Spanyol.

Resmi! Orange & Telefonica akan menyiarkan seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 di...

FIFA: Dana Keamanan Piala Dunia 2026 Masih Abu-abu!

FIFA mengakui dana keamanan Piala Dunia 2026 masih abu-abu. Kesiapan finansial turnamen...