Ancaman Boikot Piala Dunia 2026 Menguat, Pernyataan Trump Jadi Pemicu Utama
Komunitas internasional semakin gencar membicarakan kemungkinan memboikot gelaran Piala Dunia FIFA 2026 yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ketegangan utama muncul akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan kesiapannya untuk operasi militer terhadap kartel narkoba di Meksiko.
Kontroversi Pernyataan Trump
Trump secara terang-terangan menyatakan bahwa AS dapat mulai “menyerang daratan” di Meksiko, sebuah negara yang menurutnya kini dikendalikan oleh kartel. Pernyataan ini sontak memicu kemarahan, mengingat Meksiko adalah mitra penting dalam penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Selain ancaman militer, para aktivis juga menyoroti bahaya yang meningkat bagi pengunjung karena kebijakan imigrasi AS yang ketat dan insiden-insiden yang baru-baru ini melibatkan agen ICE (Immigration and Customs Enforcement). Situasi ini menambah daftar kekhawatiran yang membuat beberapa pihak mempertanyakan keamanan bagi para penggemar yang ingin datang ke turnamen.
Gelombang Penolakan dari Publik dan Tokoh Penting
Sejumlah tokoh terkemuka telah secara terbuka menyatakan penolakan mereka untuk menghadiri turnamen tersebut:
- Mohamad Safa, seorang diplomat dan direktur organisasi Patriotic Vision, membatalkan tiketnya. Ia menyatakan bahwa tindakan ICE telah membuat “AS menjadi tidak aman untuk dikunjungi.”
- Ajamu Baraka, mantan calon wakil presiden AS, menyerukan dunia untuk “memisahkan diri dari AS,” dimulai dengan kejuaraan sepak bola dan Olimpiade.
- George Galloway, seorang politikus Inggris, bahkan menyebut perjalanan ke turnamen itu sebagai hal yang mengancam jiwa.
Sikap FIFA yang Menjadi Sorotan
Situasi ini semakin rumit mengingat pada tahun 2025, Donald Trump dianugerahi “FIFA Peace Prize” pertama sepanjang sejarah. Presiden FIFA, Gianni Infantino, saat ini tetap mempertahankan dukungan tak tergoyahkan untuk pemerintahan Trump, meskipun ada seruan dari para aktivis untuk mempertimbangkan kembali status AS sebagai tuan rumah pertandingan. Seruan ini didasari oleh tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan agresi militer di Venezuela.
Para ahli mencatat bahwa gelombang protes serupa mengingatkan pada situasi seputar Piala Dunia 2022 di Qatar. Namun, kali ini, protes diperkuat oleh ancaman langsung terhadap kedaulatan salah satu negara rekan penyelenggara turnamen. Hal ini menciptakan preseden yang jauh lebih serius dan kompleks dibandingkan isu-isu sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia.
(WC/GN)
sumber : unn.ua
Leave a comment