Kemenangan Bersejarah Bosnia di Zenica
Stadion Bilino Polje di Zenica telah menjadi saksi bagi keberanian tim nasional sepak bola Bosnia selama beberapa dekade. Dikenal sebagai tempat “terkutuk” bagi tim tamu, stadion ini telah menyaksikan kemenangan-kemenangan besar Bosnia melawan lawan-lawan Eropa yang kuat seperti Norwegia, Yunani, Romania, Finlandia, Wales, dan Austria. Bahkan, tim besar seperti Spanyol, Portugal, Belanda, dan Turkiye pernah terjebak dalam hasil imbang di sini.
Bosnia mencatat periode tak terkalahkan di “Sarang Naga” antara 1995 hingga 2006. Dengan suasana yang akrab dan dekatnya jarak antara pemain dan suporter, tak heran jika para pemain merasa betah saat bermain di stadion ini.
Ketika ribuan pendukung Bosnia berkumpul di stadion untuk pertandingan playoff Piala Dunia melawan Italia pada hari Selasa, keyakinan mereka akan tim dan keajaiban stadion begitu kuat.
Antusiasme Pendukung
Para pendukung mulai datang ke Zenica yang terletak 70 kilometer di utara ibu kota Sarajevo sejak pagi. Mereka yang mengenakan warna tim dan mengibarkan bendera nasional, datang dari berbagai penjuru negara, termasuk beberapa yang terbang dari luar negeri untuk menyaksikan malam bersejarah ini.
Ribuan pendukung bahkan tidak dapat masuk ke stadion yang berkapasitas 10.000 penonton dan terpaksa berkumpul di zona penggemar dekat stadion. Beberapa lainnya mengisi kafe dan restoran di seluruh kota untuk menonton pertandingan di layar besar.
Keyakinan di kalangan pendukung begitu kuat, seakan stadion ini bisa sepuluh kali lipat lebih besar daripada kapasitas aslinya dan tetap terisi penuh pada malam yang istimewa ini.
Anggota band terkenal Bosnia, Dubioza Kolektiv, memimpin suporter di jalanan Zenica dengan menyanyikan lagu hits mereka “USA”. Lirik “Saya dari Bosnia, bawa saya ke Amerika” sangat cocok sebelum pertandingan penentu untuk tempat di Piala Dunia yang akan diselenggarakan di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.
Ketika kick off semakin dekat, penonton mulai mengikuti ritme yang familiar: berdiri selama pemanasan pemain, bernyanyi lagu, serta meneriakkan yel-yel yang menghidupkan semangat nasional. “Bosnom Behar Probeharao” sering menggema di stadion, menjadi simbol cinta terhadap tanah air.
Kedekatan dan Tradisi
Sementara dunia memperdebatkan peluang Italia untuk lolos ke Piala Dunia setelah absen dua edisi berturut-turut, kapten Bosnia yang legendaris, Edin Dzeko, mengingatkan bahwa hubungan mereka dengan Azzurri lebih dari sekadar persaingan di lapangan.
Striker berusia 40 tahun itu meminta pendukung Bosnia untuk memberi tepuk tangan saat lagu kebangsaan Italia dinyanyikan, sebagai penghormatan atas kunjungan tim nasional Italia ke Sarajevo pada tahun 1996 setelah perang Bosnia.
Pendukung memenuhi permintaan tersebut, berdiri dan memberikan tepuk tangan, tetapi setelah itu, mereka fokus untuk mendukung tim meraih kemenangan. Pertarungan yang ketat berakhir dengan skor 1-1 setelah waktu tambahan, dan pertandingan dilanjutkan ke babak penalti, di mana Bosnia keluar sebagai pemenang.
Suasana stadion meledak, penonton berteriak, mengibarkan bendera, dan menyalakan kembang api di sekitar Zenica—menandakan perayaan yang akan berlanjut hingga dini hari. Para pemain tetap di lapangan untuk merayakan kebahagiaan bersama para suporter.
Perayaan di Seluruh Negeri
Setelah pertandingan, perayaan segera menyebar ke jalanan. Konvoi mobil dipenuhi para pendukung mengibarkan bendera dan membunyikan klakson, menjadikan Zenica pusat perayaan Bosniak.
Di Sarajevo, beberapa jam kemudian, diadakan resepsi untuk pemain dan staf pelatih yang disambut oleh hampir 100.000 pendukung yang merayakan apa yang mereka anggap sebagai salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah negara ini.
Salah satu komentar yang sering dirasakan adalah, “Ini bukan hanya kemenangan, ini adalah pengingat siapa kita.”
Dua belas tahun setelah gagal di babak pertama Piala Dunia debut mereka, Bosnia berhasil kembali ke pentas besar. Pertandingan playoff melawan Italia mengingatkan banyak orang pada malam bersejarah saat Bosnia mengalahkan Yunani yang membuka jalan menuju debut mereka di Piala Dunia 2014 di Brasil.
Untuk banyak pendukung, pertandingan ini menyimpan emosi yang serupa. Salah satu pendukung senior, Dzevahid Mehicic dari Zenica, mengungkapkan bahwa banyak dari generasinya ragu akan melihat Bosnia lolos ke Piala Dunia lagi.
“Mereka berpikir momen itu mungkin tidak akan datang lagi, tetapi saya percaya Naga memiliki kekuatan untuk mengalahkan tim sekuat Italia,” ujarnya setelah kemenangan Bosnia.
Bagi para pendukung muda, ini adalah pengalaman berbeda; salah satunya, 11 tahun Nihad Babovic, menyatakan bahwa penyerang muda Kerim Alajbegovic adalah pemain favoritnya selain Dzeko.
“Saya tidak sabar untuk menonton Piala Dunia bersama ayah saya,” katanya.
Untuk malam ini, Zenica kembali menjadi jantung Bosnia, di mana stadion sepak bola terkenal menggabungkan masa lalu dan masa kini dalam satu momen euforia kolektif.
(WC/GN)
sumber : www.aljazeera.com
Leave a comment