Ancaman Pencabutan Hak Tuan Rumah Piala Dunia 2026 AS: Klausa Kontrak FIFA Jadi Kunci?
Piala Dunia FIFA 2026 semakin dekat, namun Amerika Serikat, sebagai salah satu tuan rumah utama, menghadapi potensi ancaman pencabutan hak penyelenggaraan. Sebuah klausa kontrak yang jarang diketahui dapat menjadi pemicu bagi FIFA untuk mengambil keputusan drastis ini, terutama jika dipicu oleh iklim politik yang berkembang menjelang turnamen.
Para penyelenggara saat ini sudah bekerja di 16 kota tuan rumah yang tersebar di Amerika Utara: Atlanta, Boston, Dallas/Arlington, Houston, Kansas City, Los Angeles, Miami, New York/New Jersey, Philadelphia, San Francisco Bay Area, Seattle (Amerika Serikat), Toronto, Vancouver (Kanada), serta Mexico City, Guadalajara, dan Monterrey (Meksiko).
Kekhawatiran di Tengah Iklim Politik
Sejumlah pihak, mulai dari anggota parlemen, media, hingga penggemar, telah menyerukan agar AS dicabut hak tuan rumahnya. Kekhawatiran ini muncul terkait potensi kontroversi di bawah kepemimpinan Donald Trump. Sebagai contoh, pada Januari lalu, 23 anggota parlemen Inggris menandatangani mosi yang mendesak badan olahraga internasional untuk mempertimbangkan mengeluarkan AS dari kompetisi besar, termasuk Piala Dunia.
Meskipun demikian, langkah ini dianggap sangat tidak mungkin mengingat pengaruh besar AS dalam dunia olahraga, serta statusnya sebagai salah satu tuan rumah utama turnamen. Namun, laporan awal tahun ini mengindikasikan serangkaian peristiwa yang berpotensi memicu ketegangan. Misalnya, insiden penembakan dua warga sipil AS oleh agen ICE di Minneapolis, Minnesota, yang menimbulkan kemarahan luas.
Selain itu, muncul pula isu mengenai permintaan Trump kepada Denmark untuk menyerahkan wilayah otonom Greenland kepada AS dengan alasan keamanan. Ketika sekutu-sekutu Eropa menolak, ia dilaporkan mengancam dengan peningkatan tarif perdagangan sebesar 25 persen, meskipun kemudian menarik kembali pernyataannya. Ketegangan juga dilaporkan terjadi antara Iran dan AS menyusul pembunuhan ribuan demonstran di Iran, dengan Trump yang dilaporkan mendesak para demonstran untuk terus melanjutkan aksinya. Aksi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya juga menambah daftar kekhawatiran.
Wewenang FIFA dan Klausa ‘Force Majeure’
Pertanyaan tentang apakah FIFA memiliki kekuatan untuk mencabut hak tuan rumah AS terus bergaung. Secara teknis, FIFA memang memiliki wewenang tersebut, namun keputusan sebesar ini mendekati turnamen tentu akan menimbulkan banyak masalah.
Berdasarkan regulasi Piala Dunia FIFA 2026, FIFA berhak untuk “membatalkan, menjadwal ulang, atau merelokasi satu atau lebih pertandingan (atau seluruh Piala Dunia FIFA 26) karena alasan apa pun atas kebijakannya sendiri, termasuk sebagai akibat dari force majeure atau karena masalah kesehatan, keselamatan, atau keamanan.”
‘Force majeure’ sendiri didefinisikan sebagai peristiwa tak terduga seperti perang, kejahatan, atau keadaan luar biasa lainnya yang menghalangi seseorang atau organisasi untuk memenuhi perjanjian hukum. Klausul ini biasanya mencakup bencana alam, kondisi cuaca buruk (banjir, gempa bumi, badai), kebakaran, perang, invasi, permusuhan (baik perang dideklarasikan atau tidak), perang sipil, pemberontakan, kerusuhan, revolusi, kudeta militer, tindakan teroris atau musuh publik lainnya, nasionalisasi, penyitaan, sanksi, boikot kompetisi, dan tindakan merugikan lainnya yang diberlakukan oleh pemerintah atau otoritas pemerintah lainnya, blokade, embargo, sengketa perburuhan, pemogokan, atau lockout.
Jika peristiwa ‘force majeure’ terjadi, kedua belah pihak biasanya dapat membatalkan perjanjian kontrak dan membuat pengaturan alternatif, seperti memindahkan lokasi turnamen.
Pandangan Pakar Hukum Olahraga
Profesor Hukum Olahraga dari University of Melbourne, Jack Anderson, menjelaskan bahwa meskipun kemungkinan AS dicabut hak tuan rumahnya “tidak mungkin”, namun tetap ada. Anderson menekankan bahwa “di bawah kontrak yang berlaku, FIFA memiliki kekuatan luas untuk secara sepihak mengakhiri perjanjian dengan negara dan kota tuan rumah,” tetapi hanya jika mereka dapat membenarkan alasan pengakhiran yang ‘luar biasa’.
“Sangat tidak mungkin FIFA akan mencabut hak tuan rumah ekonomi terkuat di dunia ini, karena hal ini akan memiliki dampak diplomatik dan ekonomi jangka panjang bagi FIFA,” ujar Anderson.
Anderson menambahkan bahwa dasar pengakhiran kontrak biasanya terkait dengan masalah keuangan dan infrastruktur, seperti stadion. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada indikasi yang jelas bahwa FIFA akan benar-benar mencabut hak tuan rumah AS untuk turnamen tersebut.
Garisfinish.com telah menghubungi FIFA untuk meminta komentar.
(WC/GN)
sumber : www.sportbible.com
Leave a comment