Tekanan Berat untuk Italia Menjelang Pertandingan Kualifikasi Piala Dunia
Italia sedang menghadapi tekanan besar menjelang laga melawan Bosnia dan Herzegovina. Generasi muda Italia, yang berusia di bawah 15 tahun, bahkan tidak memiliki ingatan saat terakhir kali Azzurri tampil di Piala Dunia, yaitu pada tahun 2014, saat mereka tersingkir oleh Uruguay di Brasil, dengan momen terkenal ketika Luis Suárez menggigit bahu Giorgio Chiellini.
Jadwal Pertandingan
Italia akan bertandang ke Stadion Bilino Polje di Zenica pada hari Selasa, 4 April 2026, pukul 02:00 WIB. Pertandingan ini merupakan partai final playoff kualifikasi Piala Dunia. Pemenang akan memperoleh tempat di Grup B pada turnamen musim panas mendatang di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, setelah Italia gagal lolos pada dua Piala Dunia terakhir.
Situasi Pemain
Winger Matteo Politano, yang telah meraih dua gelar Serie A bersama Napoli tetapi belum pernah bermain di Piala Dunia, menyadari bahwa waktu semakin sempit untuk generasinya. “Kita semua tahu apa yang dipertaruhkan,” ujarnya. “Bagi saya, dan beberapa pemain senior lainnya, ini mungkin menjadi kesempatan terakhir.”
Untuk dapat lolos ke Piala Dunia pertamanya dalam 12 tahun, pertahanan Azzurri perlu waspada terhadap striker yang mereka kenal baik. Edin Dzeko, penyerang Bosnia berusia 40 tahun, sebelumnya merupakan rekan satu tim Gianluca Mancini dan Riccardo Calafiori di AS Roma serta Alessandro Bastoni di Inter Milan.
Persiapan Tim
Federico Dimarco, winger Italia, melakukan kontak dengan Dzeko untuk mengucapkan selamat setelah Bosnia mengalahkan Wales melalui adu penalti. Dzeko mencetak gol penyama kedudukan dalam laga tersebut, menambah koleksi gol internasionalnya menjadi 73. Dengan tinggi badan 1,93 meter, Dzeko dikenal baik di udara—di mana pertahanan Italia sering kali kesulitan.
“Edin adalah pemain hebat dan orang yang sangat baik,” kata Dimarco. “Kami bertemu saat liburan musim panas, dan saya tetap menjalin hubungan baik dengannya.” Namun, Dimarco harus melupakan hubungan tersebut untuk sementara, mengingat Italia sangat ingin menghindari ketidaklolosan di Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Italia sudah tersingkir dari playoffs kualifikasi Piala Dunia terakhir oleh Swedia dan Makedonia Utara dalam dua edisi sebelumnya.
Kondisi Stadion
Stadion Bilino Polje yang menjadi tuan rumah pertandingan memiliki kapasitas 14.000 penonton, meskipun setelah sanksi dari FIFA terkait perilaku diskriminasi penggemar dalam laga melawan Romania pada bulan November, kapasitasnya harus dikurangi sebesar 20%. Italia juga memperhatikan kondisi lapangan setelah salju baru-baru ini turun di Bosnia.
“Kami mengharapkan atmosfer yang sulit,” ungkap Dimarco. “Namun, jika kita bisa menjaga fokus selama 95 menit, saya percaya kita bisa meraih hasil yang diinginkan.”
Pasca kemenangan di semifinal, Bosnia mengambil video Italia yang merayakan setelah mereka mengalahkan Wales, seolah dianggap sebagai lawan yang lebih mudah. “Itu merupakan reaksi instinktif,” kata Dimarco. “Saya tidak bermaksud meremehkan Bosnia atau rakyat Bosnia.”
Wasit untuk laga ini adalah Clement Turpin dari Prancis, yang juga memimpin saat Italia kalah 1-0 dari Makedonia Utara dalam semifinal playoff empat tahun lalu. Dimarco tampil konsisten di posisi sayap kiri bersama Inter musim ini dengan mencetak enam gol dan 15 assist.
Satu-satunya pengalaman Piala Dunia yang dimiliki Dimarco adalah saat mengikuti U-20 tahun 2017, dimana Italia meraih posisi ketiga dan Dimarco mencetak gol di babak perempat final. “Saya selalu mengatakan bahwa gol dan assist tidak berarti apa-apa bagi saya kecuali membantu tim mencapai hasil,” tambahnya.
Serangan Italia mendapat suntikan semangat di babak kedua saat Pio Esposito menggantikan Mateo Retegui. Kini, Esposito yang berusia 20 tahun bisa mulai bermain di posisi Retegui di Bosnia. Dimarco juga bermain dengan Esposito di Inter, dan menambahkan, “Dia anak istimewa, sudah dewasa untuk usianya dan selalu memberikan 100%, baik dalam pertandingan maupun latihan. Dia hanya perlu diberi ruang tanpa beban tekanan yang berlebihan.”
Italia menghadapi momen krusial untuk membuktikan diri kembali di pentas Piala Dunia. Jika berhasil, akan menjadi kebangkitan bagi sepak bola Italia setelah banyaknya kekecewaan di tahun-tahun terakhir.
(WC/GN)
sumber : www.espn.com
Leave a comment