Keuntungan Bermain di Kandang Sendiri dalam Sepak Bola
“Keuntungan bermain di kandang memberikanmu keuntungan.”
Perkataan ini diucapkan oleh Sir Bobby Robson, mantan manajer Inggris, dan menjadi refleksi sederhana namun tepat mengenai format sepak bola yang sudah ada sejak lama.
Pengaruh Bermain di Kandang
Sejak liga sepak bola dimulai, pertandingan kandang dan tandang adalah hal yang biasa, dengan asumsi bahwa bermain di kandang akan memberikan keuntungan bagi tim tersebut. Namun, apa dampaknya bermain di lapangan sendiri dengan dukungan penuh dari fans?
Dalam wawancaranya dengan BBC Sport, psikolog kinerja Marie Cartwright menjelaskan, “Pengaruh bermain di kandang dapat dilihat dari dua sisi. Terkadang, itu memiliki dampak positif, yang membuat motivasi pemain meningkat.”
Beliau melanjutkan, “Energi dari kerumunan dapat meningkatkan adrenalin, menciptakan momentum dalam usaha dan intensitas pemain. Selain itu, pemain merasa lebih familiar dengan lingkungan, yang mengurangi beban kognitif. Mereka tidak perlu memikirkan banyak hal selain permainan, karena mereka sudah mengenal lapangan, rutinitas, dan merasa lebih tenang.”
Dampak Negatif yang Mungkin Muncul
Namun, ada juga dampak negatif, seperti tekanan yang datang dari harapan fans yang menginginkan dominasi dari tim kandang. Ini bisa membuat pemain bertindak lebih buruk karena merasa beban ini berat. Cartwright juga menjelaskan bahwa para pemain mungkin merasa ada risiko yang tinggi akan kritik saat bermain di kandang.
Statistik menunjukkan bahwa keuntungan bermain di kandang tampaknya signifikan. Sejak Premier League dimulai, persentase kemenangan tim kandang lebih tinggi dibandingkan tim tandang, kecuali pada musim 2020-21 yang terdampak Covid-19, di mana tingkat kemenangan kandang hanya 38% berbanding 40% untuk tandang.
Bagaimana Tim Menangani Tekanan dari Fans
Bagaimana tim mengelola tekanan tambahan dari kerumunan menjadi faktor kunci. Cartwright menyebutkan teori tantangan dan ancaman dalam psikologi. “Dalam konteks ini, ‘state tantangan’ membuat pemain berpikir, ‘Saya bisa mengatasi ini, saya memiliki sumber daya untuk itu.’ Ini mengarah pada pengambilan keputusan yang lebih baik dan reaksi yang lebih cepat.”
Di sisi lain, jika pemain berada dalam ‘state ancaman’, mereka mungkin merasa beban lebih besar daripada kemampuan mereka untuk menghadapi tekanan, dan ini dapat membuat permainan menjadi lebih lambat karena overthinking.”
“Ada juga istilah ‘red brain’ dan ‘blue brain’. Red brain terkait dengan dialog berbasis ketakutan dan pembicaraan negatif dalam diri, sedangkan blue brain adalah kondisi tenang, mampu mengelola emosinya dengan baik.”
Pentingnya adalah bagaimana seorang pemain menanggapi gangguan—seperti suara kerumunan—dapat memengaruhi mindset mereka dan akhirnya berpengaruh pada performa tim secara keseluruhan.
Baca bagian kedua dari wawancara Marie mengenai mengapa beberapa tim bermain lebih baik di laga tandang dan bagaimana ini berdampak pada manajer, yang akan tayang di halaman ini awal minggu depan.
(PL/GN)
sumber : www.bbc.com
Leave a comment