Ketidakpuasan di Liga Premier Disabilitas Inggris
Asosiasi Kriket Inggris dan Wales (ECB) sedang menghadapi kritik terkait partisipasi pemain non-disabilitas dalam Liga Premier Disabilitas (DPL), yang seharusnya menjadi jalur utama menuju tim Kriket Disabilitas Campuran Inggris.
Isu Partisipasi Pemain Non-Disabilitas
Orang tua Jai Charan dan Alex Jervis, keduanya mantan pemain internasional England yang memiliki gangguan belajar, mengklaim bahwa anak-anak mereka digantikan oleh pemain yang tidak memenuhi kriteria disabilitas menurut proses penilaian ECB. Salah satu orang tua yang memilih untuk tidak diidentifikasi memperkirakan ada 12 dari 64 pemain yang terpilih dalam draf bulan Desember lalu yang tidak memiliki disabilitas.
Kriteria Disabilitas dan Dampaknya
DPL dirancang sebagai puncak jalur menuju tim nasional, namun banyak pemain yang seharusnya memenuhi syarat menjadi terpinggirkan. ECB adalah anggota Virtus, federasi olahraga internasional untuk atlet dengan gangguan intelektual, yang menyatakan bahwa semua kriket yang ingin bermain di kategori disabilitas belajar harus menunjukkan IQ 75 atau lebih rendah.
Owen Jervis, manajer tim disabilitas Yorkshire, menuduh ECB mengizinkan beberapa pemain neurodiverse berpartisipasi di DPL meskipun tidak memenuhi kriteria penilaian disabilitas belajar yang dilakukan oleh psikolog pendidikan.
Sebagian besar pemain dengan neurodiversitas tidak memenuhi syarat yang ditetapkan ECB untuk pemain disabilitas belajar. Beberapa pemain neurodiverse bahkan dapat berkompetisi di kriket profesional, seperti Em Arlott, pemain bowler England yang didiagnosis dengan ADHD dan autisme pada tahun 2023.
Risiko Terhadap Tujuan Turnamen
Meskipun ECB tidak terikat oleh regulasi Virtus di DPL karena merupakan turnamen domestik, partisipasi pemain non-disabilitas berisiko merusak tujuan turnamen itu sendiri. “Anda tidak dapat menyebutnya Liga Premier Disabilitas jika para pemainnya tidak memiliki disabilitas,” kata Tracey Jervis.
Salah satu orang tua yang anaknya memiliki gangguan belajar mengungkapkan bahwa putranya merasa dirugikan karena harus bermain di kriket disabilitas county, bukan di kriket mainstream. Banyak pemain yang memenuhi syarat England tidak pernah bermain di kriket county disabilitas.
Perubahan Dalam Struktur Tim
Pergeseran menuju kriket campuran disabilitas—di mana pemain dengan disabilitas belajar, disabilitas fisik, dan tuna rungu bermain dalam satu tim—juga mengurangi peluang yang tersedia di setiap tim. “Pemain yang tidak memenuhi kriteria disabilitas belajar malah dimainkan dan menghalangi ruang bagi mereka yang memiliki disabilitas yang memenuhi syarat,” tambah Owen Jervis.
Reaksi Orang Tua dan Situasi Saat Ini
Beberapa orang tua lain juga merasakan hal yang sama dan memilih untuk tidak mengungkapkan identitasnya karena kekhawatiran akan dampaknya terhadap anak-anak mereka. “Ada kesan bahwa para pemain dengan disabilitas belajar perlahan-lahan dipinggirkan,” ungkap salah satu orang tua.
Owen Jervis telah mengangkat isu ini melalui email kepada Richard Hill, manajer acara dan kompetisi kriket disabilitas di ECB, pada September 2024. Hill mengakui adanya tantangan terkait kemunculan pemain dengan kondisi fungsional tinggi dan menyatakan bahwa ECB sedang mengembangkan rencana aksi untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, Owen merasa situasinya justru semakin memburuk dengan semakin banyak pemain disabilitas belajar yang tidak terpilih di DPL.
Pencapaian dan Kekecewaan
Jai Charan, yang debut di tim LD Inggris pada 2023, memiliki rekor rata-rata bowling terbaik dan strike rate terbaik dalam sejarah DPL yang telah berjalan sejak 2022. Alex Jervis juga telah mewakili tim LD Inggris selama satu dekade dan memenangkan LD Ashes tiga kali. Namun, keduanya kini hanya berperan sebagai pembawa minuman dalam DPL 2025.
Ayah Jai, Shanial Charan, mengungkapkan kekecewaannya, “Tempat di mana saya pikir anak saya tidak akan didiskriminasi berdasarkan disabilitasnya adalah kriket disabilitas.”
Pernyataan ECB
Juru bicara ECB menyatakan, “Liga Premier Disabilitas menyediakan kompetisi tingkat atas untuk 60 pemain disabilitas campuran setiap tahun, dan kami mengakui adanya debat mengenai kriteria kelayakan yang tepat. Dengan kompetisi yang sudah berusia lima tahun, kami sedang meninjau hal ini dengan harapan bisa membawa perubahan pada 2027.”
Situasi ini menunjukkan tantangan serius bagi kriket disabilitas di Inggris, di mana ada kebutuhan mendesak untuk memastikan semua pemain memperoleh kesempatan yang adil untuk bersaing di level tertinggi.
(PL/GN)
sumber : www.theguardian.com
Leave a comment