Home Sepakbola Inggris Premier League Mengapa Tim Inggris Tak Berhasil di 16 Besar Liga Champions? Ini Rumit!
Premier League

Mengapa Tim Inggris Tak Berhasil di 16 Besar Liga Champions? Ini Rumit!

Share
Mengapa Tim Inggris Tak Berhasil di 16 Besar Liga Champions? Ini Rumit!
Share

Drama Menjelang Babak Knockout Champions League

Pembaruan format Swiss di Champions League dengan fase liga 36 tim mengundang kritik soal potensi kompetisi yang membengkak. Banyak yang merasa bahwa selama beberapa pekan, kompetisi ini lebih mirip sebagai hitungan kuantitatif daripada pertarungan sepak bola top Eropa.

Kejutan di Pertandingan Akhir

Pertandingan terakhir memunculkan momen spektakuler yang menjadi ciri khas turnamen ini: ketegangan, kepanikan, dan drama di akhir laga. Kiper Benfica, Anatoliy Trubin, mencetak gol penentu di menit ke-98 melawan Real Madrid, suatu momen yang tidak terduga hingga membuat Jose Mourinho terperangah menyaksikannya.

Perubahan Situasi di Papan Klasemen

Gol tersebut mengubah posisi di tabel. Benfica berhasil mengalahkan Real Madrid, sementara Manchester City terpaksa bertahan di posisi kedelapan yang memaksanya mengikuti babak play-off. Hal itu juga membuat Madrid harus menghadapi play-off tambahan di mana mereka kemudian menyingkirkan Benfica.

Bagi klub-klub Inggris, kekacauan ini berada di latar belakang. Lima tim berhasil lolos otomatis ke babak 16 besar, dan Newcastle United memperpanjang jumlahnya menjadi enam setelah mengalahkan Qarabag pada babak play-off dengan agregat 9-3. Secara keseluruhan, sembilan klub Inggris mencapai babak knockout — meski beberapa di antaranya kehilangan poin di liga domestik.

Penyebab Perubahan Penampilan

Namun, di babak 16 besar, tidak ada satu pun tim Inggris yang menang di leg pertama. Dari sembilan klub Inggris yang berlaga di Eropa pekan lalu, hanya Aston Villa yang berhasil mengamankan kemenangan dengan mengalahkan Lille 1-0 di Prancis utara.

Salah satu alasan utama sukses klub-klub Inggris di Champions League adalah kekuatan finansial yang memungkinkan mereka membeli pemain berkualitas dan menarik pelatih elit serta membiayai infrastruktur analitik yang meningkatkan setiap keputusan di lapangan.

Baca juga:  Neil Maupay Kembali ke Premier League: Apa yang Terungkap?

Namun, uang bukan satu-satunya faktor. Tantangan yang dihadapi di liga domestik telah melatih tim-tim terbaik Inggris menjalani permainan yang sangat cocok dengan gaya bermain di Eropa. Di dalam negeri, tim-tim besar sering menghadapi lawan yang bermain bertahan, membatasi ruang gerak, dan memaksa mereka bermain dalam duel ketat. Hal ini melatih pemain untuk membuat keputusan dengan cepat, mempertahankan ruang, dan cepat beradaptasi ketika serangan gagal.

Statistik Menarik

Statistik menunjukkan bahwa tim-tim di Liga Inggris menekan lebih keras dan bermain lebih dalam dibandingkan banyak rival Eropa mereka, terbukti dari data mengenai intensitas press dan jumlah operan per urutan permainan. Sementara tim-tim di Liga Prancis dan Bundesliga memberikan lebih banyak kesempatan untuk operan, Premier League memiliki waktu yang lebih sempit, yang memaksa keputusan lebih cepat.

Masalah Kelelahan dan Persiapan

Namun, penyebab yang langsung terlihat dari performa buruk di babak 16 besar adalah jumlah pertandingan yang dihadapi. Sejak jeda internasional pada 18 November, enam klub Inggris sudah bermain 175 pertandingan, sementara para lawan mereka hanya 152. Lima dari enam pertandingan leg pertama melibatkan klub-klub Inggris yang memiliki jadwal lebih padat.

Meskipun Newcastle, yang memiliki jadwal tersibuk, dapat memberikan penampilan terbaik di babak ini dengan hasil imbang 1-1 melawan Barcelona, kelima klub lainnya tampak lelah dan tidak bugar secara fisik.

Kehadiran Rivalitas di Liga Domestik

Persaingan yang ketat di dalam Premier League juga berkontribusi pada penurunan performa. Tim-tim di bagian bawah klasemen telah menunjukkan peningkatan dalam permainan mereka, membuat hasil-hasil tak terduga muncul, seperti saat tim-tim besar kehilangan poin di hadapan tim-tim kecil.

Melihat data dari fase liga yang dibuat untuk menghindari tim-tim yang sama hingga masuk babak knockout, lima klub Inggris di delapan besar tidak harus berhadapan satu sama lain, sehingga melindungi performa mereka.

Baca juga:  Data, Momen Seru & Skor Musim Penuh? Langsung Gas!

Konteks dan Dampak

Walaupun mungkin terdapat keanehan di fase knockout ini, ada potensi bahwa ini hanya merupakan momen untuk Premier League. Kompetisi domestik terkuat sejatinya tidak selalu berhasil menerjemahkan dominasi liga ke dalam trofi Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Dengan hasil terbaru ini, tantangan bagi tim-tim Inggris semakin nyata.

(PL/GN)
sumber : www.nytimes.com

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Arsenal: Pemain yang Mundur dari Tugas Internasional dan Masalahnya!

Arsenal menghadapi dilema saat beberapa pemainnya mundur dari tugas internasional. Keputusan ini...

Chelsea Umumkan Hasil Keuangan Mengejutkan Usai Hukuman UEFA!

Chelsea baru saja mengumumkan hasil keuangan yang mengejutkan setelah hukuman UEFA, menunjukkan...

Rekor Premier League yang Bisa Dikejar Wolves dengan 21 Poin Tersisa!

Wolves memiliki peluang mengejar rekor Premier League dengan 21 poin tersisa di...

Defoe dukung De Zerbi bawa Tottenham bertahan di Premier League!

Defoe memberikan dukungan penuh kepada De Zerbi, pelatih Tottenham, untuk menjaga timnya...