Home Sepakbola Inggris Premier League Perbedaan Wasit di Premier League dan Liga Champions: Apa Sebabnya?
Premier League

Perbedaan Wasit di Premier League dan Liga Champions: Apa Sebabnya?

Share
Perbedaan Wasit di Premier League dan Liga Champions: Apa Sebabnya?
Share

Perbedaan Penegakan Aturan Antara Champions League dan Premier League

Hello pembaca garisfinish.com! Saat kita menyaksikan pertandingan sepak bola, kita percaya bahwa 17 hukum permainan seharusnya diterapkan secara konsisten di setiap laga. Namun, kenyataannya, ada perbedaan mencolok dalam bagaimana kompetisi ternama seperti Champions League dan Premier League ditempatkan oleh wasit.

Statistik Handball yang Mencolok

Data menunjukkan bahwa penalti yang diberikan karena pelanggaran handball di Champions League lebih dari dua kali lipat dibandingkan Premier League. Penyebabnya? Interpretasi yang beragam.

Roberto Rosetti, kepala wasit UEFA, baru-baru ini mengungkapkan niatnya untuk “menguatkan interpretasi yang seragam” terhadap hukum handball di seluruh Eropa. Di pertemuan UEFA pada 12 Februari, ia menekankan bahwa berbagai pendekatan tidaklah baik.

Di Premier League, pendekatan untuk penegakan hukum ini dipengaruhi oleh masukan dari klub-klub. Dalam beberapa tahun terakhir, cara lebih lunak diadopsi untuk mengurangi jumlah penalti seiring dengan makin subjektifnya keputusan handball. Tahun ini, Premier League mendapatkan persetujuan sekitar 78% dari pemangku kepentingan untuk pendekatan ini, di mana bola yang mengenai tangan atau lengan tidak selalu berujung pada penalti kecuali dianggap disengaja.

Akibatnya, insiden seperti handball Mateus Nunes dari Manchester City dalam pertandingan melawan Leeds United bulan lalu tidak mendapatkan penalti. Apakah situasi tersebut akan berujung pada penalti di Champions League? Meski tidak bisa dipastikan, kemungkinan besar peluangnya lebih tinggi.

Sebagai gambaran, dalam babak penyisihan Champions League, penalti diberikan setelah pemeriksaan VAR ketika bola mengenai tangan Joaquin Seys dari Club Brugge, meskipun ia membelakangi arah bola. UEFA menyebut posisi tangan Seys “tidak alami dan menjauh dari tubuh”.

Intervensi VAR yang Berbeda

Penggemar Premier League mungkin telah mengalami banyak ketidaksempurnaan dari sistem VAR sejak diintroduksi pada tahun 2019. Namun, di malam pertandingan Champions League, penggunaan teknologi ini jauh lebih umum.

Baca juga:  Martin Paterson: Kenapa 'kaki kapas' jadi kunci sukses pelatih Notts County.

Data menunjukkan bahwa Champions League rata-rata memiliki 0,45 tinjauan VAR per pertandingan, sedangkan Premier League hanya mencatat 0,27. Tinjauan di lapangan terjadi setiap 2,5 pertandingan di Champions League, sementara di Premier League hampir setiap tujuh pertandingan.

Howard Webb, petinggi wasit Premier League, meminta para wasit untuk hanya berintervensi dalam kesalahan yang “jelas dan mencolok”. Pendekatan ini seringkali memunculkan area abu-abu, tetapi mengingatkan VAR untuk tidak terlibat kecuali ada kesalahan tertentu.

Di sisi lain, Rosetti menginginkan aturan VAR yang lebih jelas dan tidak “microskopis”. Ia menginginkan bukti jelas sebelum VAR terlibat, menandakan kompetisi UEFA sering menggunakan VAR terlalu sering dan terlalu hati-hati.

Ambang Batas Pelanggaran

Satu hal yang tetap berlaku di kompetisi Eropa adalah, di Premier League, lebih banyak pelanggaran yang dimaafkan. Premier League menganggap dirinya sebagai liga yang lebih fisik, sehingga mengizinkan kontak yang lebih besar antara pemain. Sebaliknya, Champions League lebih ketat dengan ambang batas pelanggaran.

Ccontoh jelas adalah kartu merah langsung yang diterima Lloyd Kelly dari Juventus dalam pertandingannya melawan Galatasaray. Kontaknya dianggap “kuat dan berisiko” bagi keselamatan lawan. Tak lama setelah itu, Kyle Walker dari Burnley tidak mendapatkan sanksi meskipun tampak melakukan pelanggaran berat di Premier League.

Statistik lebih lanjut menunjukkan bahwa rata-rata pelanggaran di Premier League adalah 21,7 per pertandingan, sementara di Champions League meningkat sedikit menjadi 22,3. Meski Premier League menunjukkan lebih banyak kartu kuning, dengan adanya kekerasan yang tidak dihukum, pertandingan sering kali lebih keras dan tidak terduga.

Kesimpulan

Pada akhirnya, perbedaan dalam penegakan hukum antara Champions League dan Premier League menciptakan pengalaman yang sangat berbeda bagi para pemain dan penggemar. Setiap kompetisi memiliki pendekatan yang unik, dan ini berpengaruh pada cara pertandingan dijalani. Dengan perubahan yang diperlukan dalam interpretasi dan implementasi hukum, masa depan penegakan aturan ini akan terus menjadi perhatian dalam dunia sepak bola.

Baca juga:  Manchester United vs Newcastle: Gol voli Patrick Dorgu bawa tuan rumah menang!

(PL/GN)
sumber : www.nytimes.com

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Enam Klub Premier League Berebut Tanda Tangan Rico Lewis dari Man City

Rico Lewis, bintang muda Manchester City, menjadi incaran enam klub Premier League...

1.FC Köln menaikkan nilai Said El Mala jadi €50 juta, Premier League tertarik!

1.FC Köln menetapkan nilai Said El Mala sebesar €50 juta, menarik perhatian...

ECB dituding biarkan pemain non-disabilitas menggantikan kriket disabilitas.

ECB dituduh membiarkan pemain non-disabilitas mengambil alih kriket disabilitas, memicu kontroversi mengenai...

PBKS vs GT: Sorotan dan Stat Penting Pertandingan IPL 2026

Dalam pertandingan IPL 2026 antara PBKS dan GT, sorotan utama terletak pada...