TTFR: Ketidakadilan Premier League Terhadap Chelsea dan Klub Lain
Pada Januari 2024, CEO Premier League Richard Masters menyampaikan pernyataan yang mengejutkan dalam rapat di hadapan komite khusus untuk Departemen Digital, Budaya, Media & Olahraga (DCMS). Dia membahas hukuman yang dijatuhkan kepada Everton dan Nottingham Forest atas pelanggaran Regulasi Profitabilitas dan Keberlanjutan (PSR), dan mengapa kasus tersebut selesai lebih cepat dibandingkan dengan kasus Chelsea dan Manchester City.
“Arahan yang standar berlaku untuk semua klub,” kata Masters. “Ini bukan hanya untuk klub kecil. Jika siapapun ditemukan melanggar, dan mengajukan perhitungan PSR yang melanggar batas,” tegasnya, mengisyaratkan bahwa perlakuan serupa akan diberikan. Namun, pernyataan ini mengacu pada istilah “klub kecil,” yang cukup memicu reaksi.
Penting untuk diingat bahwa Everton telah menjadi juara Inggris sembilan kali, sementara Nottingham Forest juga memiliki dua gelar Piala Eropa di tangan mereka. Istilah “klub kecil” jelas sangat meragukan.
Pemberian Sanksi yang Tidak Proporsional
Ada berbagai bukti yang menunjukkan bahwa di bawah permukaan, Premier League memang memiliki sistem dua tingkatan. Akan lebih jelas lagi ketika melihat hukuman yang dijatuhkan kepada Chelsea. Dalam konteks ini, Chelsea baru-baru ini dikenakan denda £10,75 juta dan sanksi ringan lainnya setelah kasus yang melibatkan pembayaran tidak sah selama periode kepemilikan Roman Abramovich selama tujuh tahun ditemukan. Tindakan ini diungkap oleh Clearlake Capital setelah mereka membeli klub tersebut pada 2022.
Hampir empat tahun berlalu, UEFA hanya menjatuhkan denda ringan, namun proses untuk Premier League dan FA tampaknya lebih lambat. Dalam periode ini, Premier League secara tegas meminta hukuman terberat bagi Everton setelah pelanggaran PSR tahun 2021-22, yang berujung pada pengurangan 10 poin yang kemudian dikurangi menjadi 6 poin setelah banding. Hal ini menunjukkan bahwa pelanggaran PSR bisa dipandang sebagai keuntungan kompetitif yang memerlukan sanksi serius.
Dampak terhadap Klub-Klub Kecil
Enam bulan setelah hukuman terhadap Everton, Nottingham Forest juga menerima pengurangan 4 poin meskipun pelanggarannya lebih besar. Namun, Chelsea mendapatkan perlakuan jauh lebih lembut, yang menciptakan kesan favoritisme terhadap klub-klub besar di Premier League.
Data menunjukkan bahwa antara 2011 dan 2018, Chelsea melakukan setidaknya 36 pembayaran off-book yang mencapai £47,5 juta, sebagian besar untuk perwakilan pemain yang tidak terdaftar. Ironisnya, Premier League menganggap bahwa pengeluaran tersebut tak memberikan keuntungan kompetitif, meskipun beberapa pemain terkemuka seperti Eden Hazard dan David Luiz adalah hasil dari kontroversi ini.
Reaksi dan Ketidakpuasan
Pernyataan Premier League menunjukkan upaya untuk membenarkan tindakan mereka, namun banyak yang merasa bahwa hukuman yang terlalu ringan menciptakan kesan bahwa klub-klub besar kebal hukum. Sementara itu, Everton dan Nottingham Forest merasa bahwa mereka diperlakukan secara tidak adil, dan ini bisa membangkitkan kemarahan di kalangan pendukung.
Atas konteks ini, Chelsea siap menghadapi Everton di Hill Dickinson Stadium dalam pertandingan yang berpotensi menambah ketegangan di antara kedua tim. Dengan semua yang terjadi, jelas bahwa ketidakadilan dalam penerapan regulasi ini akan terus mempengaruhi iklim kompetisi di Premier League dan membuat klub-klub kecil merasa terpojok.
Dengan denda kecil dan penalti ringan yang dijatuhkan kepada klub-klub besar, pertanyaannya adalah: seberapa jauh sistem ini bisa bertahan tanpa meredakan ketidakpuasan dari klub-klub yang lebih kecil?
(PL/GN)
sumber : www.toffeeweb.com
Leave a comment