Perekrutan Bomber Premier League: Mengapa Banyak yang Kesulitan Mencetak Gol?
Klub-klub Premier League bergegas menambah kekuatan di lini depan selama jendela transfer musim panas, dengan total pengeluaran mencapai £1,92 miliar untuk pemain yang dikategorikan sebagai penyerang. Namun, banyak dari mereka yang masih kesulitan mencetak gol.
Erling Haaland adalah salah satu dari tiga penyerang yang telah mencetak angka dua digit di Premier League musim ini, bersanding dengan Igor Thiago dari Brentford dan pemain baru Manchester City, Antoine Semenyo. Meski demikian, Haaland mengalami masa sulit dalam hal mencetak gol.
Di laga melawan Manchester United, Haaland gagal mencetak gol dalam permainan terbuka untuk kelima kalinya. Bahkan, gol penalti yang ia cetak melawan Brighton menandai delapan pertandingan berturut-turut tanpa gol dalam permainan terbuka di semua kompetisi.
Apakah Gol Menurun?
Rata-rata jumlah gol yang dicetak oleh penyerang saat ini berada di titik terendah dalam satu dekade, yakni 1,36 per pertandingan, turun dari 1,58 pada musim lalu dan 1,69 pada musim sebelumnya.
Viktor Gyokeres, yang berhasil menemukan sudut gawang dari luar kotak selama kemenangan 3-1 Arsenal atas Inter Milan, juga mengalami kesulitan. Pemain internasional Swedia ini belum mencetak gol dalam permainan terbuka dalam sepuluh laga Premier League.
Pemain Manchester United, Benjamin Sesko, hanya mencetak empat gol dalam 17 penampilan. Sementara itu, Nick Woltemade dari Newcastle hanya berhasil mencetak satu gol dalam sembilan pertandingan terakhirnya.
Jumlah ini mencerminkan penurunan gol dalam permainan terbuka di seluruh Premier League. Rata-rata gol yang dicetak dari permainan terbuka juga menurun drastis musim ini, dengan banyak tim semakin mengedepankan permainan set-piece.
Kotak Penalti yang Ramai dan Ruang yang Semakin Sempit
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, mengungkapkan tantangan yang dihadapi penyerang Premier League saat ditanya tentang Gyokeres. Ia menyoroti kesulitan yang dihadapi semua penyerang, terutama karena fisik, dominasi para bek tengah, dan kurangnya ruang bagi mereka untuk mengeksploitasi peluang.
Dalam konteks Gyokeres, transisi dari liga Portugal ke Premier League jelas menunjukkan beberapa keterbatasan. Namun, dia bukan satu-satunya yang kesulitan menemukan ruang yang dibutuhkan.
Jumlah pemain bertahan dan penyerang di kotak penalti ketika bola dikirimkan semakin meningkat dalam beberapa musim terakhir, mencapai angka tertinggi musim ini. Hal ini membuat penyerang semakin sulit untuk mengambil tembakan.
Tim-tim Premier League semakin memprioritaskan kompakitas dalam bertahan guna menetralkan serangan lawan. Sebuah tim dianggap berada dalam formasi kompak ketika semua pemain lapangan mereka berada dalam jarak 25 meter satu sama lain.
Struktur defensif yang lebih baik memungkinkan tim bertahan untuk menjadi kompak dalam waktu kurang dari tiga detik, dengan rata-rata yang semakin menurun dalam beberapa musim terakhir. Peluang bagi tim penyerang untuk mencetak gol berkurang drastis, dengan instansi pertahanan menjadi terbentang juga menurun dari sekitar 80 per 90 menit di 2019/20 menjadi 60 per 90 menit di musim-musim terbaru.
Tendensi menuju soliditas defensif terlihat jelas dalam putaran terakhir pertandingan Premier League, di mana 10 laga hanya menghasilkan total 16 gol. Musim ini, sudah ada lebih banyak hasil imbang tanpa gol (17) dibandingkan dengan dua musim sebelumnya.
Setiap pemain penyerang di Premier League memiliki kasus kesulitan yang berbeda-beda, tetapi secara keseluruhan, angka-angka ini menunjukkan kurangnya ruang dan peluang, memberikan konteks bagi tantangan yang dihadapi pemain di berbagai klub.
Penutupan: Tantangan di Lini Depan
Dengan statistik yang menunjukkan penurunan signifikan dalam produktivitas gol, klub-klub di Premier League perlu mempertimbangkan strategi mereka untuk menghadapi persoalan ini. Jika tidak, kesulitan mereka dalam mencetak gol dapat berdampak pada posisi mereka di klasemen dan hasil akhir kompetisi.
(PL/GN)
sumber : www.skysports.com
Leave a comment