Miranda Sebut Luciano Spalletti Pelatih Terburuk dalam Kariernya di Italia
Mantan bintang Inter Milan, Miranda, melontarkan kritik pedas terhadap Luciano Spalletti, yang kini menjabat sebagai pelatih Juventus. Miranda menyebut Spalletti sebagai “pelatih terburuk” yang pernah ia temui sepanjang kariernya, khususnya dari segi personal. Komentar ini muncul kembali ke permukaan setelah Spalletti meraih kemenangan pertamanya di Liga Champions sebagai manajer Juventus.
Awal Mula Konflik Miranda dan Spalletti
Miranda, bek tengah asal Brasil, bergabung dengan Inter Milan pada Juli 2015 dengan status pinjaman dua tahun, yang kemudian dipermanenkan pada musim panas berikutnya berkat penampilan impresifnya. Saat Miranda tiba, Roberto Mancini memegang kendali di Inter. Mancini kemudian digantikan oleh Frank de Boer dan Stefano Pioli sepanjang musim 2016/17.
Luciano Spalletti ditunjuk sebagai pelatih Inter pada Juli 2017, dan awalnya hubungan antara pelatih Italia itu dengan Miranda berjalan sangat baik. Selama musim 2017/18, Miranda menjadi pilihan utama, tampil sebagai starter dalam 31 pertandingan Serie A dan mengumpulkan 2729 menit bermain di kasta tertinggi sepak bola Italia.
Namun, situasi mulai berubah drastis pada musim berikutnya, 2018/19. Miranda hanya mencatatkan 14 penampilan di liga, dan menurut sang pemain, minimnya waktu bermain ini terjadi setelah sebuah perdebatan dengan Spalletti.
“Setelah satu perdebatan, di tahun terakhir saya bersama Inter, saya mulai bermain semakin sedikit,” kata Miranda. “Saat itu sulit untuk mencapai kondisi terbaik Anda, apalagi jika Anda hanya bermain di pertandingan besar.”
Setelah perselisihan tersebut, Miranda meninggalkan Inter setelah kontraknya berakhir pada Juni 2019. Menariknya, Spalletti juga diberhentikan dari jabatannya di Inter pada musim panas yang sama.
Reputasi Spalletti dan Konfrontasi dengan Pemain
Luciano Spalletti dikenal memiliki reputasi dalam hal perselisihan dengan para pemainnya selama kariernya sebagai pelatih. Kasus Miranda bukanlah satu-satunya. Saat masih di Inter Milan, Spalletti mencopot jabatan kapten Mauro Icardi setelah sang pemain menolak meminta maaf pasca pernyataan kontroversial istrinya, Wanda Nara, yang juga agen Icardi, yang mengklaim Icardi akan mencetak lebih banyak gol dengan rekan setim yang lebih baik.
Icardi akhirnya dikucilkan dari skuad Inter, menunjukkan pendekatan tanpa kompromi Spalletti dalam manajemen tim. Contoh lain dari ketegasan Spalletti termasuk masalahnya dengan Cristian Panucci saat melatih Roma, serta perselisihan publiknya dengan Igor Denisov dan Roman Shirokov ketika ia menangani Zenit St. Petersburg.
Perbandingan Gaya Melatih dan Kesuksesan Spalletti
Pandangan Miranda terhadap Spalletti memiliki bobot tersendiri, mengingat bek Brasil tersebut juga pernah bermain di bawah asuhan Diego Simeone di Atletico Madrid, seorang pelatih yang terkenal dengan kemampuannya membentuk hubungan kuat dengan para pemainnya. Gaya pendekatan Simeone sangat berbeda dengan Spalletti. Bahkan, Simeone sendiri dikabarkan mendorong untuk pindah ke Inter Milan di masa depan, mengingat kontraknya dengan Atletico Madrid kemungkinan akan berakhir pada 2026.
Meski memiliki reputasi dalam hubungan personal, Spalletti tak dapat dimungkiri telah meraih kesuksesan sejak meninggalkan Inter. Ia berhasil memenangkan Serie A bersama Napoli, melatih tim nasional Italia, dan kini menukangi Juventus. Kemenangan pertama Juventus di Liga Champions baru-baru ini, di mana Jonathan David mengakhiri paceklik golnya melawan Bodo/Glimt, menjadi bukti keberhasilan Spalletti secara taktik.
Miranda sendiri mengakui kemampuan kepelatihan Spalletti, namun tetap menegaskan perbedaan karakternya.
“Sebagai seorang pelatih, tidak ada yang perlu dikatakan. Dia seorang pemenang. Dia membawa Inter kembali ke Liga Champions dan meletakkan fondasi untuk masa depan. Tapi sebagai seorang pria, mari kita biarkan saja seperti itu. Pelatih terburuk yang saya miliki di Italia dalam artian tersebut.”
Komentar Miranda menyoroti kompleksitas hubungan antara pemain dan pelatih. Meskipun seorang pelatih bisa meraih kesuksesan besar di lapangan, aspek manajemen personal dan kemampuan membangun relasi tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi dinamika tim dan karier seorang pemain.
(SA/GN)
sumber : www.footitalia.com
Leave a comment