Spalletti di Juventus: Membangun Kembali Identitas Si Nyonya Tua
Awal musim Serie A yang mengecewakan membuat Juventus mengambil tindakan tegas. Igor Tudor dipecat dan Luciano Spalletti ditunjuk pada akhir Oktober, dengan harapan mengembalikan kejayaan Si Nyonya Tua.
Tudor menjadi pelatih non-Italia pertama dalam 19 tahun, namun hanya bertahan 24 pertandingan. Hanya 10 kemenangan selama masa jabatannya menghasilkan persentase kemenangan 41,67%, salah satu yang terendah dalam sejarah klub baru-baru ini. Ini mengisyaratkan tugas berat yang menanti Spalletti.
Kehilangan Identitas
Dengan 10 pertandingan Serie A yang telah dimainkan, posisi Juventus sebenarnya tidak terlalu buruk. Mereka mengumpulkan 18 poin, menempatkan mereka di urutan keenam, hanya terpaut tiga poin dari Inter di posisi kedua dan empat poin dari pemuncak klasemen Napoli. Namun, masalah yang lebih mendasar adalah hilangnya identitas klub.
Setelah berhasil membawa Napoli meraih Scudetto pertama dalam tiga dekade, Spalletti jelas tahu formula kesuksesan. Namun, ia akan membutuhkan semua kemampuan man-manajemennya untuk mengeluarkan potensi terbaik dari para pemain yang tampil di bawah standar dalam beberapa musim terakhir.
Koopmeiners dan Vlahovic Harus Bangkit
Bintang-bintang besar seperti Teun Koopmeiners dan Dusan Vlahovic diharapkan untuk tampil lebih menonjol. Vlahovic, jujur saja, memang memiliki waktu bermain yang sporadis di bawah Tudor. Kepercayaan dari pelatih sering kali bisa menjadi dorongan besar bagi performa pemain.
Yang mengejutkan banyak pihak adalah keputusan Spalletti untuk menempatkan Koopmeiners sebagai bek tengah kiri. Pemain Belanda itu, yang sebelumnya dikenal sebagai gelandang andal, terlihat nyaman dalam dua pertandingan di bawah arahan Spalletti. Membangun serangan dari lini belakang tampaknya menjadi bagian dari modus operandi baru, dan Koopmeiners diperkirakan akan menjadi sentral dalam sistem ini.
Beban Tanggung Jawab Kenan Yildiz
Bakat muda Kenan Yildiz juga perlu menemukan posisi permanen dalam skema baru Spalletti, apakah itu tetap melebar dan memotong ke dalam dari sayap, atau sebagai gelandang serang kreatif di posisi No.10. Di usianya yang baru 20 tahun, Yildiz sering terlihat harus memikul beban tim ini, dan tanggung jawab itu jelas membebani pundaknya dari waktu ke waktu. Untuk mendapatkan yang terbaik darinya, Yildiz harus diizinkan bermain dengan kebebasan, sambil tetap memastikan ada tujuan di setiap penampilannya.
Bersama Yildiz, Vlahovic diharapkan membayar kepercayaan dengan gol. Gol-gol yang belakangan ini kurang. Setelah mencetak gol di dua pertandingan pembuka musim melawan Parma dan Genoa, striker Serbia itu hanya berhasil menambah satu gol lagi di kompetisi domestik, yakni saat melawan Udinese di laga terakhir sebelum Spalletti ditunjuk.
Jonathan David Juga Belum Bertaji
Jonathan David yang direkrut pada musim panas juga punya banyak hal untuk dibuktikan, mengingat ia baru mencetak satu gol, sama seperti Vlahovic, di pertandingan pembuka musim melawan Parma.
Spalletti telah menyatakan tujuan tim untuk finis di posisi Liga Champions. Diyakini, ia akan mendapatkan kontrak permanen secara otomatis — kontraknya saat ini berlaku hingga akhir musim 2025/26 — jika berhasil mewujudkan hal tersebut. Gol-gol dari Vlahovic dan David hampir pasti akan menjadi kunci ambisi ini.
Francisco Conceicao, Khephren Thuram, dan Andrea Cambiaso adalah tiga pemain berkualitas tinggi lainnya yang juga tampil di bawah ekspektasi.
Jadi, selain memperkuat pertahanan yang rapuh dan sudah kebobolan 10 gol (terbanyak kedua di antara delapan klub teratas Serie A), tugas sebenarnya bagi Spalletti adalah mengembalikan gaya sepak bola Juventus yang dinamis, menyerang, dan berbasis penguasaan bola, yang dulu menjadi ciri khas mereka.
Percayakan Prosesnya
Mengingat Spalletti adalah manajer permanen ketiga — atau kelima jika menghitung pelatih interim — yang datang setelah era kesuksesan Massimiliano Allegri sebelumnya, mungkin bagian termudah dari tugas barunya adalah menata kembali mental kolektif dan mengelola beberapa ego pemain. Namun, mengubah sekelompok pemain yang tampil datar dan seringkali mudah ditebak menjadi unit yang kohesif, kokoh di belakang, dan cepat dalam transisi bukanlah sesuatu yang bisa terjadi dalam semalam.
Spalletti hanya bisa meminta pemain untuk mempercayai prosesnya dan memberikan komitmen penuh. Kesediaan Koopmeiners untuk beradaptasi adalah awal yang baik. Jika level performa dan hasil menunjukkan peningkatan positif, maka, tanpa terganggu cedera, sang manajer telah membuktikan kemampuannya untuk membangun sesuatu yang istimewa. Tentu saja, tekanan untuk mewujudkannya akan sangat besar, tetapi ia memiliki skuad yang mampu merealisasikan visinya. Pertanyaannya adalah, apakah para pemain memiliki etos kerja yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan beberapa bulan ke depan?
(SA/GN)
sumber : www.flashscore.com
Leave a comment