Inter dan Roma Bersitegang di Serie A
Inter akan menjamu Roma di Serie A pada hari Minggu, di mana kedua tim berada di bawah tekanan. Meskipun posisi Inter masih teratas, keunggulan mereka kini menyusut menjadi enam poin, sedangkan Roma berusaha meraih kualifikasi Liga Champions dan tidak bisa lagi melakukan kesalahan menjelang akhir musim ini.
Form terakhir menunjukkan potensi pertandingan yang ketat, tetapi data masih berpihak pada tuan rumah. Model Opta memberikan Inter peluang kemenangan sebesar 56,3%, dengan hasil imbang 23,4% dan Roma 20,3%. Para pengamat juga memprediksi bahwa Inter akan keluar sebagai pemenang, meskipun tim ini kini terjebak dalam rentetan hasil yang kurang memuaskan.
Inter memasuki laga ini setelah tiga pertandingan Serie A terakhir tanpa kemenangan, yang kembali membuka diskusi tentang perebutan gelar. Kekalahan dalam derby melawan AC Milan, yang saat ini berada di posisi kedua, diikuti dengan hasil imbang 1-1 melawan Atalanta dan Fiorentina sebelum jeda internasional.
Pemasalahan Inter tidak hanya terjadi di liga. Mereka tersingkir dari Liga Champions pada bulan Februari oleh Bodo/Glimt dan kemudian gagal meraih kemenangan di leg pertama semifinal Coppa Italia melawan Como, yang berakhir imbang 0-0. Meskipun demikian, Cristian Chivu tetap percaya pada mentalitas timnya.
“Saya bekerja dengan para juara hebat, baik di dalam maupun luar lapangan,” kata Chivu. “Mereka telah menunjukkan karakter mereka tahun ini dan di musim-musim sebelumnya, di mana mereka selalu bangkit dan berjuang. Mereka memahami bahwa menjadi bagian dari tim berarti kadang-kadang Anda jatuh dan tidak mencapai tujuan, tetapi yang terpenting adalah reaksi dan karakter mereka, penghormatan kepada rekan satu tim dan klub, serta cinta kepada fans. Kekecewaan adalah bagian dari permainan dan kami harus menerimanya. Saya tidak khawatir. Mereka telah menunjukkan diri sebagai orang yang memiliki nilai dan kualitas sejak saya di sini.”
Sementara itu, Roma juga berada dalam tekanan, setelah hanya meraih satu kemenangan dalam empat pertandingan liga terakhir, diiringi satu imbang dan dua kekalahan. Bologna juga mengeliminasi Roma dari Liga Europa, menjadikan performa domestik sebagai satu-satunya jalan kembali ke posisi Liga Champions.
Giallorossi kini tertinggal tiga poin dari posisi empat besar, yang semakin meningkatkan fokus pada setiap pertandingan yang tersisa. Gian Piero Gasperini merasa bahwa performa tim seringkali lebih baik daripada hasil yang diraih. “Tim telah bermain baik dalam beberapa pertandingan terakhir, dengan kondisi fisik dan mental yang bagus, tetapi tidak selalu menghasilkan kemenangan,” ungkap Gasperini. “Dua pertandingan Liga Europa melawan Bologna tidak beruntung bagi kami. Kini kami berada di tahap akhir, jadi mari kita perketat persiapan dan bekerja keras. Kesalahan semakin sedikit yang bisa kami lakukan.”
Sejarah Pertemuan Inter vs Roma
Pertemuan ini akan menjadi yang ke-186 antara Inter dan Roma di Serie A, menyamakan rekor untuk jumlah pertemuan terbanyak antara dua klub di divisi atas, yang sebelumnya juga dicapai Inter dengan Juventus. Dari 185 pertandingan, pertemuan ini juga merupakan yang terproduktif dalam sejarah Serie A, menghasilkan 533 gol.
Inter mencetak 300 gol, sementara Roma 233 gol, dengan rata-rata 2,9 gol per pertandingan. Roma adalah tim yang paling sering dikalahkan Inter di Serie A, dengan 80 kemenangan dari 185 pertemuan, ditambah 54 hasil imbang dan 51 kekalahan. Setelah enam kali berturut-turut berimbang di liga, tidak satu pun dari sepuluh pertemuan terakhir berakhir imbang, di mana Inter meraih delapan kemenangan dan Roma dua kemenangan.
Pemain Kunci Inter vs Roma
Fokus penyerangan Inter mungkin akan jatuh pada Francesco Pio Esposito, yang akan berusia 20 tahun dan 281 hari pada hari Minggu. Esposito berpotensi menjadi pemain Inter kedua di bawah usia 21 tahun dalam 35 tahun terakhir yang mencetak gol dalam pertandingan Serie A melawan Roma, setelah Mario Balotelli yang mencetak dua gol pada usia 18 tahun dan 201 hari pada Maret 2009.
Di kubu Roma, ancaman utama berasal dari Donyell Malen, yang bergabung pada pertengahan Januari dan telah mencetak tujuh gol di Serie A, terbanyak di liga dalam rentang waktu tersebut. Hanya tiga pemain Roma yang mencetak lebih banyak gol di paruh kedua satu musim, yakni Vincenzo Montella dengan 13 gol pada 2001-02, Lorenzo Bettini dengan sembilan gol pada 1953-54, dan Stephan El Shaarawy dengan delapan gol pada 2015-16.
Dengan keunggulan matematis yang sedikit, dominasinya secara historis, serta keuntungan bermain di kandang, Inter memiliki tantangan dengan penampilan terkini yang menunjukkan penurunan. Ini bisa membuat mereka meraih empat pertandingan liga berturut-turut tanpa kemenangan untuk pertama kalinya sejak Maret hingga April 2023 di bawah Simone Inzaghi. Roma datang dengan inkonsistensi tetapi termotivasi, meninggalkan persaingan panjang ini dalam keseimbangan, meskipun prediksinya menunjukkan INTER MENANG.
(SA/GN)
sumber : www.mykhel.com
Leave a comment