Bayern Munich Ditahan Imbang Mainz di Kandang: Dominasi Tak Berbuah Kemenangan
Bayern Munich tampil mendominasi jalannya pertandingan melawan 1.FSV Mainz 05, namun sayangnya gagal mengonversi superioritas tersebut menjadi gol kemenangan. Mainz secara cerdik memanfaatkan peluang langka yang mereka ciptakan dan berhasil menahan imbang tim Bavaria di kandang sendiri. Hasil ini membuat Mainz pulang dengan satu poin yang layak mereka dapatkan.
Performa Gemilang Kacper Potulski
Bek muda Mainz berusia 18 tahun, Kacper Potulski, menampilkan performa yang luar biasa. Selain mencetak gol indah untuk membuka keunggulan Mainz, Potulski juga memiliki kontribusi besar dalam membatasi perolehan gol Bayern. Penempatan posisi dan penjagaannya sangat matang untuk pemain seusianya. Ia bahkan melakukan blok penting tepat di depan gawang yang bisa membuat skor Bayern bertambah. Harry Kane sebagian besar "ditutup" oleh Potulski, kecuali pada satu momen di mana pengalaman cerdik Kane berhasil mengecoh sang remaja untuk mendapatkan penalti.
Gol Potulski tercipta dari tendangan sudut. Ia berhasil melewati bek-bek Bayern dan menemukan dirinya bebas di depan gawang, menyundul bola dengan bersih ke jala Manuel Neuer. Ini adalah cara yang luar biasa untuk mencetak gol Bundesliga pertamanya, di Munich, melawan Bayern dan kiper legendaris Manuel Neuer.
(Foto oleh Sven Hoppe/Getty Images)
Josip Stanisic: Kembali ke Performa Terbaik
Pertahanan Bayern menunjukkan kerapuhan dan ketidakberdayaan saat menghadapi Mainz. Meski secara umum tampil cukup baik, mereka justru gagal dalam momen-momen paling berbahaya. Gol Potulski lahir dari kelengahan bek yang membiarkannya bebas, sementara Stanisic tampak terdiam saat gol kedua Lee tercipta.
Namun, penghargaan diberikan kepada Josip Stanisic atas efektivitasnya sebagai bek kanan. Ia mungkin tidak memiliki kecepatan seperti Laimer, tetapi ia membuktikan dirinya sebagai bek kanan terbaik di laga tersebut. Sinkronisasinya dengan para penyerang sayap juga terlihat luar biasa. Pada satu titik, ia bahkan melakukan feint backheel di luar kotak penalti. Ini menunjukkan betapa nyamannya ia bermain di posisi favoritnya. Dengan memenangkan empat duel, melakukan 12 operan ke sepertiga akhir lapangan, dan mencatatkan tingkat akurasi operan 95 persen, Stanisic menunjukkan performa solid kembali sebagai bek kanan setelah lama mengisi posisi bek kiri.
(Foto oleh Karl-Josef Hildenbrand/AFP melalui Getty Images)
Joshua Kimmich: Motor Penggerak Bayern
Joshua Kimmich sekali lagi menjadi motor penggerak lini tengah Bayern. Ia secara konsisten mengalirkan bola, menyerap tekanan lawan, mendikte tempo permainan, dan memberikan beberapa umpan terobosan yang membelah pertahanan. Kimmich merupakan kandidat yang tak terbantahkan untuk penghargaan Fußballgott (Dewa Sepak Bola) dalam pertandingan ini. Tiga peluang yang ia ciptakan dan 36 operan ke sepertiga akhir menunjukkan peran krusial Kimmich dalam mengarahkan serangan Bayern.
Lennart Karl: Gol Ciamik dan Potensi Besar
Tendangan Lennart Karl yang luar biasa untuk mencetak gol pertama Bayern adalah pemandangan yang menakjubkan. Karl memanfaatkan umpan Gnabry untuk mencetak gol pembuka. Meski demikian, Karl gagal mengamankan gelar pemain terbaik karena tembakan yang meleset di akhir pertandingan, yang seharusnya bisa menjadi gol penyeimbang atau bahkan penentu kemenangan bagi Bayern. Sensasi remaja Bavaria itu sekali lagi tampil apik di posisi nomor 10.
(Foto oleh Stefan Matzke – sampics/Getty Images)
Meskipun Gnabry sangat baik dalam mengendalikan penyerangan dengan umpan-umpan akurat, gaya bermain Karl sedikit berbeda. Lenny sangat mahir dalam menerima umpan di ruang yang sangat sempit. Hampir setiap kali ia mendapatkan bola di dalam atau sekitar kotak penalti, rasanya mustahil bagaimana ia bisa tetap menguasai bola di posisi tersebut. Karl tidak kehilangan penguasaan bola sama sekali dari tekel pemain Mainz, dan ini berasal dari delapan sentuhannya di dalam kotak penalti.
Statistik expected assist (xAG) Karl sebesar 0,36 sebagai gelandang serang, dibandingkan dengan xAG Gnabry sebesar 0,87 meskipun bermain sebagai gelandang kiri, menunjukkan perbedaan gaya mereka. Ini berarti Karl lebih menyerupai seorang second striker daripada seorang kreator murni seperti Gnabry. Selain itu, energi dan etos kerja Karl juga patut dipuji; ia rela bekerja keras layaknya Laimer dan merebut bola kembali jika diperlukan. Sebuah tambahan yang sangat bagus untuk skuad Bayern.
Harry Kane: Penyelamat yang Cerdik
Harry Kane relatif tenang sepanjang sebagian besar pertandingan. Namun, ia layak mendapatkan gelar pemain terbaik karena melakukan satu hal dengan sempurna: menyelamatkan rekor tak terkalahkan Bayern saat tim sangat membutuhkannya. Setelah tertinggal 1-2, Vincent Kompany menurunkan hampir semua penyerang yang tersedia untuk menekan Mainz. Meskipun Bayern tampak selalu berada di ambang gol, gol penyeimbang sepertinya sulit terwujud. Mainz layak mendapat banyak pujian untuk pertahanan mereka, demikian pula para penyerang Bayern atas pengambilan keputusan dan eksekusi yang kurang baik di sepertiga akhir.
(Foto oleh Stefan Matzke – sampics/Getty Images)
Pada akhirnya, Kane, dengan pengalamannya yang luas di Liga Premier, berhasil mengeksekusi penalti dengan sempurna setelah sebuah insiden cerdik melawan Potulski. Kacper Potulski terlalu bersemangat untuk terus mengawal Kane dan memegang bahu striker Bayern itu ketika sebuah umpan masuk ke kotak penalti Mainz. Merasakan cengkeraman bek muda yang tidak terlalu kuat untuk menghentikannya jika ia benar-benar ingin lepas, Kane memilih trik berbeda. Ia memutar badannya di bahu Potulski dan jatuh ke tanah tepat saat ia mulai berlari. Dengan tangan Potulski yang terulur di bahunya, wasit langsung meniup peluit, memberikan penalti. Itu adalah penalti yang cerdik, sulit untuk tidak memberikannya meskipun Kane sendiri mungkin mengakui itu adalah trik yang brilian.
Eksekusi penalti Kane dilakukan dengan sempurna ke sudut gawang, memastikan Bayern tetap tak terkalahkan. Untuk momen krusial tersebut, Kane layak mendapatkan penghargaan pemain terbaik. Selain penalti, ia juga sempat melakukan tendangan salto yang akan menjadi gol indah jika tidak diblok oleh Potulski.
Hasil imbang ini menjadi pengingat bagi Bayern Munich akan pentingnya efisiensi di depan gawang, bahkan saat mereka mendominasi penuh. Sementara itu, bagi Mainz, satu poin di kandang juara bertahan tentu menjadi suntikan moral yang besar dalam perjalanan mereka di Bundesliga.
(SA/GN)
sumber : www.bavarianfootballworks.com
Leave a comment