Luis Enrique Bela Brahim Diaz Usai Penalti Panenka yang Gagal: “Dia Bukan Pembunuh”
Pelatih Paris Saint-Germain, Luis Enrique, memberikan pembelaan terhadap Brahim Diaz menyusul kegagalan penalti Panenka yang secara menyakitkan menggagalkan harapan timnya di AFCON.
Enrique, yang sempat melatih Diaz di tim nasional Spanyol pada November 2021 sebelum sang gelandang memutuskan untuk membela Maroko, menyatakan bahwa pilihan Diaz untuk melakukan Panenka dalam situasi tekanan tinggi bukanlah hal yang aneh.
Apa Kata Luis Enrique
Momen penalti Panenka Diaz yang mengejutkan itu menjadi perbincangan hangat di dunia sepak bola. Manajer PSG itu pun ikut terseret dalam diskusi. Berbicara menjelang pertandingan Liga Champions melawan Sporting Lisbon, Enrique ditanya tentang insiden tersebut, dan ia mengungkapkan hal berikut:
“Panenka Brahim… Kami membicarakannya di bus hari ini,” kata Enrique.
“Saya ingat Zidane, dewa sepak bola, yang melakukan hal itu di Piala Dunia. Ketika berhasil, semua orang bertepuk tangan; ketika Anda gagal, ada banyak kritik.
“Brahim, saya mengenalnya: dia adalah pemain yang luar biasa dan istimewa. Apa yang terjadi saat ini sangat tidak adil. Ini hanyalah olahraga; dia bukan pembunuh atau orang jahat.”
Foto: Edouard Mendy menghentikan penalti Panenka Brahim Diaz.
Kegagalan Diaz Merugikan Maroko
Penalti buruk dari Brahim Diaz dan gol gemilang dari Pape Gueye menjadi penentu dalam final AFCON 2025 yang penting antara Senegal dan Maroko, di mana Teranga Lions akhirnya meraih kemenangan di babak perpanjangan waktu.
Pertandingan tersebut adalah duel yang luar biasa antara dua tim yang sangat seimbang sebelum muncul kontroversi. Tim asuhan Pape Thiaw sempat mencetak gol di menit-menit akhir, namun dianulir karena adanya pelanggaran di awal permainan. Beberapa saat kemudian, Maroko mendapatkan penalti, sebuah peluang emas untuk mengakhiri puasa gelar AFCON mereka, berpotensi menjadi tendangan terakhir dalam pertandingan.
Merasa dirugikan, para pemain Senegal sempat melakukan protes keras. Namun, Sadio Mané menunjukkan kepemimpinan yang patut dicontoh dengan mendesak rekan-rekannya untuk kembali ke lapangan. Keputusan tersebut terbukti tepat, karena Eduard Mendy berhasil menyelamatkan upaya Panenka Brahim Diaz yang keliru, sebelum gol penentu kemenangan Gueye tercipta di babak perpanjangan waktu.
Kegagalan ini tentu menjadi pukulan berat bagi Maroko yang begitu dekat dengan trofi, sekaligus menunjukkan betapa tipisnya garis antara keberhasilan dan kegagalan di level tertinggi sepak bola.
(SA/GN)
sumber : www.pulsesports.ng
Leave a comment