Ketika Filosofi Xabi Alonso Gagal Menaklukkan Para Bintang Real Madrid
Gambaran terakhir Xabi Alonso sebagai manajer Real Madrid—yang sekaligus menceritakan masa kepemimpinannya di Santiago Bernabeu—adalah saat ia seolah diatur oleh orang lain. Setelah kekalahan di Supercopa de Espana hari Minggu lalu dari Barcelona, Alonso memberi isyarat kepada para pemainnya untuk memberikan guard of honour kepada lawan yang menang saat mereka hendak menerima trofi. Namun, Kylian Mbappe tidak setuju dan bersikeras agar rekan-rekan setimnya mengikuti arahannya. Para pemain pun mengikuti Mbappe, dan Alonso pun demikian.
Filosofi yang Tak Cocok
Momen tersebut adalah cerminan kecil dari Real Madrid secara keseluruhan. Alonso, sebagai seorang pelatih, selalu menjunjung tinggi semangat tim, kebersamaan, dan melakukan hal yang benar sebagai sebuah unit olahraga. Ia adalah pria berprinsip, dan momen tersebut menunjukkan salah satu prinsip dasarnya: menghormati lawan. Namun, ketika memimpin sekelompok Galacticos—individu-individu yang masing-masing merasa lebih besar dari lambang klub mereka sendiri, apalagi lambang lawan—prinsip-prinsip tersebut seringkali harus dikesampingkan.
Dominasi Bintang Individu
Di era modern, para pemain top memang memiliki daya tarik yang sangat besar. Mbappe, sama seperti Vinicius Jr dan Jude Bellingham, kini terasa lebih besar dari klub mana pun, jersey mana pun, dan tentu saja manajer mana pun. Para pemain ini adalah brand sukses yang, dalam upaya yang berani namun gagal, Alonso coba perlakukan layaknya pesepak bola biasa.
Potensi dan Tantangan Xabi Alonso
Alonso adalah pelatih yang luar biasa, terbukti dari masa suksesnya di Bayer Leverkusen yang menunjukkan bahwa ia adalah salah satu ahli taktik paling efektif dalam permainan. Berikan dia skuad yang tepat, yang terdiri dari pemain yang lebih bersemangat dan, sejujurnya, lebih mudah dilatih, maka ia bisa menciptakan keajaiban. Ia kemungkinan besar akan mendarat di tempat di mana ia mendapatkan kesempatan untuk membuktikan bahwa kesuksesannya di Jerman bukanlah kebetulan.
Namun, bagi Madrid yang sekarang, ia adalah manajer yang salah sejak awal. Madrid, untuk mencari istilah yang lebih baik, sulit untuk dilatih (uncoachable). Mereka tidak bisa dibentuk menjadi pesepak bola modern ala Pep Guardiola yang menerapkan high-pressing dan mengedepankan interpretasi permainan berbasis tim. Sebaliknya, mereka adalah kumpulan individu yang membutuhkan arahan yang tepat dan sosok otoriter untuk menjaga mereka tetap disiplin.
Alonso bukanlah sosok yang demikian, dan pada akhirnya ia terkalahkan oleh Galacticismo yang begitu mendominasi Santiago Bernabeu.
(SA/GN)
sumber : www.goal.com
Leave a comment