Menjadi penggemar Real Madrid belakangan ini terasa melelahkan. Bukan hanya soal hasil di lapangan; klub ini pernah melalui musim-musim yang hampa sebelumnya, contohnya musim 2005-06, yang kemudian memberi jalan menuju musim 2006-07 yang lebih menginspirasi. Namun, skuad peraih gelar di musim tersebut sebenarnya memiliki banyak kekurangan: bintang-bintang menua, Ronaldo Nazario yang rentan cedera dan sudah tidak bisa berlari cepat, serta lini pertahanan yang biasa-biasa saja.
Apa yang mengubah segalanya kala itu adalah kehadiran Fabio Capello. Seorang manajer tanpa basa-basi, ia punya keberanian untuk menghadapi para ‘Galácticos’, bahkan mencadangkan Ronaldo dan David Beckham. Keputusan-keputusan itu memang tidak nyaman dan tidak populer, tetapi justru membantu membangun tingkat permainan serius yang pada akhirnya berhasil membawa skuad yang sebenarnya biasa saja meraih trofi La Liga.
Yang paling menonjol dari tim ini selama setahun terakhir adalah kesan arogansi. Ada perasaan bahwa mereka benar-benar percaya jersey kebanggaan ini akan memenangkan pertandingan untuk mereka. Usaha dan intensitas seringkali minimal. Para penyerang terus-menerus mengeluh, padahal kontribusi defensif mereka sangat minim. Bayangkan jika hal seperti itu terjadi di bawah Capello, seorang manajer yang pernah mendisiplinkan dan mencoret pemain tanpa memandang status mereka.
Álvaro Arbeloa telah bersama Real Madrid selama sekitar dua puluh tahun, dan ia mungkin dihormati di dalam klub, tetapi ia adalah “orangnya” Florentino Pérez. Sangat sulit membayangkan seorang “orang dalam” yang sudah lama memimpin perubahan budaya yang jelas-jelas dibutuhkan tim sepak bola ini.
Sudah ada beberapa indikasi bahwa sikap dan kepuasan diri para bintang mulai menjadi sorotan. Setahun yang lalu, Thomas Tuchel mengatakan bahwa ibunya menganggap temperamen Jude Bellingham di lapangan “sedikit tidak menyenangkan”. Entah ibunya benar-benar mengatakannya atau tidak, Tuchel jelas ingin pesan itu tersampaikan.
Kemudian ada Kylian Mbappé, yang mantan pelatihnya, Luis Enrique, secara terbuka mengatakan bahwa timnya lebih baik tanpa bintang Prancis itu karena mereka tidak lagi harus membangun segalanya demi menjaga kenyamanan satu pemain. Lalu ada Vinicius Junior, yang meninggalkan lapangan dengan ekspresi marah setelah diganti padahal timnya sedang memenangkan El Clasico Oktober lalu. Masalahnya tidak terbatas pada ketiga pemain ini saja, tetapi sebagai jimat utama tim, mereka seharusnya menetapkan standar.
Mencari Sosok “Capello” Baru
Real Madrid membutuhkan sosok “Capello” lainnya. Tentu saja, pelatih asal Italia itu tidak akan menghentikan masa pensiunnya untuk sebuah klub yang sudah ia tangani dua kali. Jadi, pilihan realistisnya adalah José Mourinho, Antonio Conte, atau mungkin Jurgen Klopp, jika salah satu dari mereka bersedia mengambil pekerjaan itu selama Pérez tetap menjadi presiden.
Selain trofi dan reputasi, Madrid membutuhkan seseorang yang tidak kenal kompromi. Seseorang yang mengambil kendali ruang ganti begitu ia masuk ke Valdebebas dan mengakhiri budaya “player power” yang ada. Ini bukan bermaksud tidak menghormati Arbeloa. Sebagai pemain, ia dihormati karena menjalankan tugasnya dengan baik, meskipun ia tidak pernah menjadi pemain yang paling mencolok. Hanya saja, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk peran tersebut.
Skuad ini membutuhkan manajer yang bisa menatap mata para bintangnya dan berkata, “Anda bukan siapa-siapa di sini jika tidak bekerja keras.” Sayangnya, agar hal ini terjadi, tim ini kemungkinan besar harus terus terlihat menyedihkan, dan manajer saat ini harus dipecat. Madrid pernah mengalami masa-masa seperti ini sebelumnya; mereka bisa bertahan lagi. Ini bukan Manchester United.
Kekalahan Mengejutkan dari Albacete Balompié
Dan kita memulai dengan “awal yang bagus”! Saat artikel ini ditulis, Real Madrid baru saja menelan kekalahan dari tim divisi dua, Albacete Balompié. Kekalahan ini menjadi bukti lebih lanjut bahwa ada masalah serius yang perlu segera diatasi di dalam tim.
(SA/GN)
sumber : therealchamps.com
Leave a comment