Dari Penonton Menjadi Pesaing: Kisah Brandon Poon di Bulutangkis Para
Brandon Poon tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis saat ia duduk di tribun penonton Paralimpiade Paris 2024. “Saya bahkan tidak tahu bahwa bulutangkis Para adalah sebuah cabang olahraga,” kenangnya. Setahun kemudian, ia sudah berkompetisi di panggung dunia.
Sebagai seorang fisioterapis penuh waktu yang berbasis di Sydney, Poon sudah memiliki karier yang menuntut, pernikahan baru, dan segudang tanggung jawab. Olahraga selalu menjadi bagian dari rutinitasnya—terutama tenis di masa kecil—namun bulutangkis hanyalah hobi biasa baginya. Semua itu berubah setelah Paris.
Dampak Beasiswa Partisipasi Atlet Bulutangkis Para
Kesempatan datang melalui Beasiswa Partisipasi Atlet Bulutangkis Para, yang dia ajukan dengan dukungan dari Badminton Australia setelah kembali ke rumah. Dirancang untuk membuka pintu bagi pemain-pemain baru, beasiswa ini menyediakan bantuan finansial bagi atlet untuk berkompetisi secara internasional dan menjalani klasifikasi, mendukung misi BWF untuk mengembangkan bulutangkis Para di semua kelas.
Bagi Poon, dampaknya langsung terasa—ia menjadi salah satu dari 11 penerima Beasiswa Partisipasi yang melakukan debut di Kejuaraan Dunia Bulutangkis Para BWF di Manama, Bahrain bulan lalu (8-14 Februari).
“Beasiswa itu menanggung sebagian besar biaya penerbangan dan akomodasi,” ujarnya. “Tanpa itu, pasti akan sulit.”
“Sangat luar biasa bisa merasakan gaya hidup atlet. Saya bertemu banyak orang hebat dan ini membuka mata saya terhadap komunitas bulutangkis Para. Semua orang sangat mendukung—ini adalah pengalaman istimewa yang akan saya kenang.”
Poon menjalin persahabatan baru di Bahrain.
Menyeimbangkan pekerjaan penuh waktu dengan tuntutan dan biaya olahraga internasional bukanlah hal mudah. Namun, beasiswa ini meringankan tekanan finansial dan memungkinkan partisipasinya.
Pelajaran Berharga dari Kejuaraan Dunia
Di Manama, Poon bermain lima pertandingan—tiga di tunggal putra SL4 dan dua di ganda campuran SL3-SU5 bersama Zashka Gunson. Bagi seseorang yang tidak pernah merencanakan untuk berada di sana, momen itu terasa tidak nyata.
“Dulu saya menyaksikan para pemain ini belum lama berselang,” katanya. “Sekarang saya berada di lapangan bersama mereka.”
“Ini adalah pengalaman hebat melihat bagaimana orang bermain, bagaimana mereka bergerak, bagaimana mereka menyusun poin. Juga menarik untuk melihat bagaimana atlet mengelola hari-hari mereka: pemulihan pasca-pertandingan, nutrisi, rutinitas gym. Saya belajar banyak.”
Bulutangkis Para: Lebih dari Sekadar Olahraga
Pada usia lima tahun, Poon menjalani operasi untuk ependymoma, tumor otak yang menyebabkan kelemahan permanen di sisi kiri tubuhnya. Kini berusia 31 tahun, ia menerimanya sebagai bagian dari dirinya.
Bulutangkis Para? Ini telah menjadi lebih dari sekadar olahraga—ini adalah tempat di mana ia merasa benar-benar menjadi bagian.
Kata Penerima Beasiswa Lainnya di Manama 2026:
“Ketika pelatih saya memberi tahu bahwa saya akan bermain di Kejuaraan Dunia, saya menangis kegirangan. Berkompetisi di Bahrain memberi saya banyak hal—itu adalah pengalaman hebat dan motivasi besar bagi saya. Terima kasih kepada BWF atas beasiswa ini.” – Narmin Iskandarova (SH6), Azerbaijan
“Sangat istimewa bisa bertemu pemain baru—beberapa yang terbaik, karena ini adalah Kejuaraan Dunia. Saya mendapatkan banyak pengalaman dan teman baru. Saya baru berusia 17 tahun dan sudah bepergian ke tempat-tempat yang tidak pernah saya bayangkan.” – Magdalena Anna Kozera (WH2), Polandia
“Saya tidak bisa cukup berterima kasih kepada Badminton New Zealand dan BWF. Beasiswa ini sangat membantu, mendukung saya dan memungkinkan saya mengejar impian sebagai pemain untuk negara saya. Saya akan selamanya berterima kasih.” – Rishikesh Venu (SL3), Selandia Baru
(OL/GN)
sumber : bwfbadminton.com
Leave a comment