Inovasi Pembakaran di Formula 1: Memahami Pre-Chamber Ignition
Formula 1 dikenal sebagai pelopor dalam teknologi otomotif, terutama dalam hal dinamika kendaraan dan teknologi mesin. Sejak masa lalu, F1 telah mengalami banyak perubahan, termasuk evolusi mesin dari V12 menjadi V6. Era hibrida yang dimulai pada tahun 2014 memperkenalkan sistem yang dikenal sebagai pre-chamber ignition, yang kini menjadi bagian penting dalam mesin Formula 1. Teknologi ini meningkatkan efisiensi termal mesin dengan cara menyalakan campuran udara-bahan bakar yang kaya di ruang bakar kecil yang terpisah, biasanya berada di atas ruang bakar utama yang menggunakan campuran lebih tipis.
Menariknya, pre-chamber ignition sebenarnya bukanlah hal baru. Teknologi ini telah digunakan pada mesin diesel sejak awal abad ke-20. Sebelum diadopsi oleh Formula 1 untuk mesin bensin, sebuah produsen mobil asal Jepang sudah memperkenalkan teknologi ini pada tahun 1970-an. Honda menjadi pelopor dengan meluncurkan sistem ini di Civic CVCC tahun 1975 untuk memenuhi peraturan emisi ketat yang ditetapkan oleh EPA. Dengan inovasinya, Honda berhasil melewati uji emisi tanpa pemasangan katalisator.
Meskipun prinsip kerja CVCC mirip, desainnya sangat berbeda dari sistem modern. CVCC mengusung tiga katup per silinder, terdiri dari dua katup konvensional (masuk dan buang) serta satu katup kecil untuk ruang bakar pre-chamber. Sementara desain modern menggunakan sistem injeksi bahan bakar, CVCC bergantung pada karburator yang memiliki keunikan tersendiri.
Menggali Perbedaan Antara Masa Lalu dan Sekarang
Selama operasinya, karburator CVCC mengalirkan campuran kaya ke area bakar kecil, di mana terdapat busi. Karburator ini juga menyuplai campuran lebih tipis ke ruang bakar utama, yang akan menyala setelah kompresi di ruang pembakaran pre-combustion melepaskan nyala api melalui lubang api yang dirancang pada kepala silinder. Pada masanya, teknologi CVCC sangat revolusioner sehingga Toyota, Ford, Isuzu, dan Chrysler sampai melisensikan teknologi ini dari Honda.
Sementara itu, sistem yang digunakan di F1 dan pada mesin seperti Nettuno V6 dari Maserati serta mesin inline-four Hurricane baru dari Jeep memiliki perbedaan signifikan. Terdapat dua jenis pre-chamber ignition, yaitu aktif dan pasif. Jenis aktif mampu mengalirkan udara, bahan bakar, atau keduanya langsung ke pre-chamber, sedangkan pasif mengandalkan piston yang mendorong sebagian dari mesin masuk ke ruang bantuan.
Maserati dan Jeep menerapkan jenis yang pasif, menggabungkan injeksi bahan bakar port dan langsung. Namun, regulasi F1 tidak mengizinkan penggunaan beberapa injektor bahan bakar per silinder. Meski detailnya sering dirahasiakan, Mercedes, Ferrari, dan Honda telah menggunakan pre-chamber ignition pasif sejak awal. Mercedes menjadi yang pertama pada tahun 2014, diikuti Ferrari dan Honda pada tahun-tahun berikutnya.
Keuntungannya jelas. Tim-tim ini berhasil meningkatkan efisiensi bahan bakar mesin mereka dan mendapatkan lebih banyak tenaga. Manfaat serupa juga diklaim oleh mesin Hurricane 4 terbaru Jeep dan Maserati MC20 yang berevolusi menjadi MCPura dengan teknologi Nettuno V6, sambil tetap mematuhi regulasi emisi.
(SA/GN)
sumber : www.jalopnik.com
Leave a comment