Dampak Gaya Permainan Premier League di Eropa: Tanggapan Pelatih dan Pengamat
Pernyataan Luis Enrique
Dalam konferensi pers pasca pertandingan Liga Champions Luis Enrique pekan lalu, pelatih Paris Saint-Germain tersebut ditanya oleh The Athletic mengenai komitmennya untuk menerapkan pendekatan ultrakreatif di tengah tren permainan liga yang semakin mengarah ke gaya bertahan dan fokus pada set pieces. “Saya tidak bisa menganalisa tim lain,” ujar Enrique. “Setiap manajer harus memilih gaya bermainnya masing-masing. Liverpool adalah salah satu tim yang bermain sangat baik, dan mereka juga memanfaatkan set pieces. Namun, ini bukan gaya kami. Kami ingin bermain dengan baik, bersenang-senang bersama pendukung, dan menunjukkan cara bermain ofensif dengan menciptakan keunggulan di setiap area lapangan. Ini adalah ide dan mentalitas kami.”
Tanggapan Eropa Terhadap Gaya Permainan Inggris
Tapi, bagaimana tanggapan negara lain di Eropa terhadap cara bermain di Inggris? Apakah mereka tidak suka atau malah mengaguminya? Untuk menjawab pertanyaan ini, para ahli dari The Athletic memberikan laporannya.
Italia: Mengagumi Gaya Permainan Inggris
Premier League sangat dihargai di Italia. Fabio Capello sering membahas tempo serta kecepatan permainan Inggris sebagai standar untuk membandingkan Serie A. Sebelum pertandingan Napoli melawan Chelsea di Liga Champions Januari lalu, Antonio Conte mengekspresikan pendapatnya mengenai tren di Premier League yang lebih menekankan pada set pieces dan lemparan jauh. “Anda bisa melihat betapa dominannya Arsenal dalam hal ini. Mereka menjadi contoh, dan semua orang memperhatikannya. Lemparan jauh kini menjadi penting, seperti memiliki corner,” ungkap Conte.
Conte juga mengakui bahwa perubahan gaya dapat memengaruhi cara klub merekrut pemain, yang kini semakin memerlukan pemain yang mampu memberikan ancaman dalam situasi set pieces. “Orang-orang bisa berbicara tentang investasi di talenta muda, tetapi siapa di Italia yang bisa mengeluarkan lebih dari €70 juta untuk pemain berusia 16 tahun?”
Setelah Fiorentina kalah di leg pertama perempat final Liga Konferensi dari Crystal Palace, asisten Conte, Paolo Vanoli, berbicara tentang kesenjangan antara tim Premier League dan Serie A. “Akan naive dan sombong jika mengatakan tidak ada perbedaan antara tim peringkat 14 kami dan tim peringkat 14 di Premier League,” ujarnya.
James Horncastle
Spanyol: Fokus pada Takti dan Teknik
Pendekatan ‘kembali ke dasar’ di Premier League tidak luput dari perhatian di Spanyol, meski tidak banyak pelatih La Liga yang terpengaruh oleh tren tersebut. Permainan di Spanyol secara tradisional lebih taktikal dan teknis, dengan pelatih berusaha mengalahkan satu sama lain melalui posisi dan pergerakan pemain.
Tim nasional Spanyol juga cenderung mengandalkan kualitas teknis pemain untuk mengatasi lawan yang lebih besar dan fisik. Diego Simeone, pelatih Atletico Madrid, dikenal dengan gaya bermain yang lebih fisik dan langsung. Dia mengakui, Premier League adalah liga dengan permainan paling cepat, meski kualitas teknik pemain mungkin tidak setinggi di liga lain.
Simeone menyoroti fokus saat ini pada corner dan set pieces di Premier League dan mencatat bahwa ini bisa mengubah cara para pelatih mengatur latihan. Namun, sebagian pelatih La Liga mengkhawatirkan risiko terlalu banyak fokus pada aspek tersebut, yang dapat mengurangi waktu untuk taktik dan teknik lainnya.
Dermot Corrigan
Alasan dan Kritik di Jerman
Setiap berubahnya sikap di Bundesliga terhadap sepak bola Inggris sangat mencolok. Eksekutif liga seringkali menunjukkan bahwa mereka tidak melihat Premier League sebagai kompetisi setara, tetapi lebih sebagai produk yang berbeda. Hal ini mencerminkan pergeseran dari gaya permainan yang seragam ke dalam bentuk permainan yang beragam dan penuh fisik.
Seb Stafford-Bloor
Perbandingan di Prancis
Tim-tim teratas di Ligue 1 tidak terlalu mengedepankan set pieces. Rekor Marseille, Monaco, Rennes, dan Lille sebagian besar kurang baik dibandingkan dengan tim Premier League lainnya. Mungkin ini disebabkan oleh perbedaan tekanan untuk menang. Di Premier League, insentif untuk menang yang besar memotivasi pelatih untuk mencari keuntungan dari setiap aspek permainan.
Sebaliknya, di Prancis, di mana PSG mendominasi, klub lain sering mencari pelatih yang dapat mempresentasikan merek permainan yang menarik untuk meningkatkan peluang mereka menjangkau klub yang lebih besar.
Walaupun begitu, masih ada pelatih yang menerapkan pendekatan yang lebih langsung. Claude Puel baru-baru ini diangkat sebagai pelatih Nice untuk membantu tim mereka keluar dari ancaman degradasi.
Alex Barker
(PL/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment