Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut untuk garisfinish.com:
Sistem Poin 15 di Bulutangkis Resmi Diterapkan: Lahirkan Pro dan Kontra di Kalangan Atlet
KUALA LUMPUR – Dunia bulutangkis kini tengah terbagi dua menyikapi sistem penilaian 15 poin baru yang akan diberlakukan mulai Januari tahun depan. Sistem ini dipastikan akan digunakan pada Olimpiade Los Angeles 2028, dengan beberapa pihak menyambut positif laga yang lebih cepat, sementara yang lain memperingatkan potensi kerugian bagi pemain muda.
Sistem Poin Baru Resmi Diterapkan
Sistem baru ini telah disahkan oleh Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) pada rapat umum tahunan mereka tanggal 25 April lalu. Artinya, pemain akan membutuhkan 15 poin untuk memenangkan satu gim, bukan lagi 21 poin seperti sebelumnya, dengan pertandingan tetap dimainkan dalam format best-of-three atau dua gim kemenangan.
BWF menyatakan bahwa perubahan ini bertujuan untuk menghasilkan pertandingan yang lebih singkat dan menarik. Hal ini diharapkan dapat memberi keuntungan bagi pemain dengan mengurangi beban fisik, sekaligus menawarkan fleksibilitas penjadwalan bagi penyiar dan penyelenggara turnamen. Menurut BWF, sistem baru ini juga "menawarkan fondasi yang kuat dan berkelanjutan untuk masa depan olahraga ini."
Respon Beragam dari Para Bintang Bulutangkis
Juara dunia asal Tiongkok, Shi Yuqi, mengaku akan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sistem ini.
“Pertandingan yang lebih singkat berarti tuntutan kondisi fisik yang lebih rendah, tetapi di saat yang sama, tekanan dari lawan, terutama pemain yang lebih muda, akan lebih kuat,” kata Shi Yuqi. “Saya perlu lebih fokus secara mental dan sepenuhnya terlibat sejak awal.”
Rekan senegara Shi, Zheng Siwei, peraih medali emas ganda campuran di Paris 2024, berpendapat bahwa perubahan ini tidak akan disambut baik oleh semua pihak.
“Pemain top saat ini, terutama yang lebih muda, saya rasa mereka tidak menginginkan reformasi semacam ini,” ujar Zheng Siwei. “Bagi mereka, pertandingan yang lebih singkat akan membuat keuntungan menjadi jauh lebih jelas. Untuk pemain yang lebih tua, justru bisa memperpanjang karier mereka. Dengan pertandingan 15 poin, kita akan melihat gaya dan taktik baru, dan mungkin juara tak terduga akan muncul.”
Veteran dan Isu Pensiun
Mantan pemain nomor satu dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei, yang pensiun pada 2019, juga skeptis terhadap perubahan ini.
“Jika sistem 15 poin ini benar-benar akan berlanjut, saya tidak akan terkejut jika Chou Tien-chen yang berusia 36 tahun terus bermain atau bahkan jika saya sendiri akhirnya kembali ke lapangan,” kata legenda bulutangkis berusia 43 tahun itu.
Sementara itu, pemain ganda campuran Hong Kong, Tse Ying Suet, sebelumnya mengindikasikan mungkin akan pensiun setelah Asian Games tahun ini, namun kini ia mempertimbangkan kembali keputusannya.
“Ini memberi pelatih kami alasan lain untuk membujuk saya agar terus bermain,” kata pemain berusia 34 tahun itu. “Mengingat usia dan kebugaran saya, 15 poin memang menggoda, tapi saya masih sedikit ragu dan bimbang.”
BWF Beri Penjelasan
Menanggapi kekhawatiran yang disuarakan para pemain, Presiden BWF, Khunying Patama Leeswadtrakul, sebelumnya telah menyatakan melalui siaran pers:
“Keputusan ini tidak mengubah sifat mendasar bulutangkis. Keterampilan, taktik, tuntutan fisik dan mental, serta drama olahraga ini akan tetap ada.”
Ia menambahkan bahwa perubahan ini justru "memperkuat olahraga dengan melindungi apa yang membuat bulutangkis istimewa, dan memastikan pemain terbaik dunia dapat terus berkompetisi, menginspirasi, dan terhubung dengan penggemar secara global untuk jangka waktu yang lebih lama."
Perdebatan mengenai sistem poin baru ini dipastikan akan terus bergulir seiring dengan semakin dekatnya waktu implementasi. Adaptasi para pemain, terutama mereka yang sudah terbiasa dengan ritme 21 poin, akan menjadi kunci untuk melihat apakah reformasi ini benar-benar membawa dampak positif jangka panjang bagi olahraga bulutangkis.
(OL/GN)
sumber : www.straitstimes.com
Leave a comment