PSG Tembus Final Liga Champions Usai Imbang 1-1 di Markas Bayern Munich
Paris Saint-Germain tampil brilian dalam bertahan untuk meraih hasil imbang 1-1 di markas Bayern Munich, yang membawa mereka melangkah ke final Liga Champions UEFA.
Setelah drama yang terjadi di laga pertama, pertemuan kedua antara Paris Saint-Germain dan Bayern Munich pada Rabu malam diprediksi akan sulit menyamai pressing awal yang tinggi.
Di Paris, setiap serangan seakan berpotensi menghasilkan gol. Total sembilan gol tercipta dari 22 tembakan gabungan antara kedua tim. Dua tim dengan serangan paling menyerang ini saling bertarung, tanpa satu pun lini pertahanan yang mampu mengatasinya.
PSG membawa keunggulan satu gol ke Jerman, tetapi pertandingan ini masih sangat terbuka. Bayern memasuki laga dengan status sebagai tim pencetak gol terbanyak di Eropa, dengan total 190 gol dari 56 pertandingan di semua kompetisi musim ini, rata-rata 3,4 gol per pertandingan, dan 62 gol lebih banyak dari tim terdekatnya, Barcelona.
Kebobolan lebih awal saat Ousmane Dembélé membuka skor tidak mengubah misi Bayern. Mereka tetap butuh dua gol, tetapi tidak merasa panik, terutama karena mereka sudah menunjukkan kemampuan untuk membalikkan keadaan dengan mencetak dua gol dalam waktu tiga menit menjelang akhir babak kedua pada leg pertama.
Kali ini, PSG berhasil menahan Bayern. Meski Harry Kane mencetak gol hiburan di masa injury time, PSG mendapatkan hasil yang diperlukan untuk melaju ke final Liga Champions untuk kedua kalinya secara beruntun. Berbeda dengan kemenangan di leg pertama, hasil ini dibangun atas ketahanan defensif, organisasi yang rapi, dan komitmen penuh tanpa bola.
Final Melawan Arsenal
Final ini diprediksi akan menjadi pertarungan antara serangan hebat PSG melawan pertahanan Arsenal yang sangat solid. Bagaimana tim asuhan Mikel Arteta menghentikan Dembélé, Désiré Doué, Khvicha Kvaratskhelia, dan Bradley Barcola bisa menjadi kunci siapa yang akan memastikan gelar Liga Champions. Namun, PSG menunjukkan bahwa mereka juga mampu tampil defensif, dengan pertunjukan bertahan yang sangat solid seperti yang terlihat dalam kompetisi musim ini.
Statistik Pertandingan
Bayern mampu menciptakan 18 peluang ke arah gawang, tetapi PSG berhasil membatasi mereka hanya pada total expected goals (xG) terendah sepanjang musim di kandang (1.41). Rata-rata nilai xG dari tembakan Bayern hanya 0.08, juga merupakan yang terendah di laga kandang musim ini.
PSG memperbolehkan Bayern memiliki penguasaan bola dengan catatan terendah dalam lebih dari lima tahun, hanya 34.4%. Biasanya, PSG mendominasi penguasaan bola, tetapi kali ini mereka lebih memilih bertahan dengan rapat.
Mereka kembali ke struktur yang lebih compact dan bertahan sebagai satu kesatuan yang solid. Willian Pacho terpilih sebagai pemain terbaik pada laga ini dengan mencatatkan lima tekel dan lima sapuan. Marquinhos tampil tenang meski berhadapan dengan serangan terbaik Eropa, sementara Warren Zaïre-Emery dengan baik menjaga Luis Días meski harus menggantikan Achraf Hakimi di posisi bek kanan.
Strategi dan Taktik
PSG lebih sering menjalankan strategi umpan panjang, mencatatkan 13 tendangan goal kick panjang ke depan, salah satu yang tertinggi untuk tim dengan status favorit. Secara keseluruhan, PSG memainkan 22.3% dari total umpannya dengan metode panjang, merupakan yang tertinggi di babak knockout Liga Champions, menunjukkan bahwa mereka memang memilih pendekatan yang berbeda di laga ini.
Meskipun ini bukan permainan khas PSG, di final melawan Arsenal, mereka diharapkan kembali menguasai permainan. Luis Enrique’s side telah menunjukkan bahwa mereka tak hanya bergantung pada serangan, tetapi juga memiliki kemampuan defensif yang solid. Arsenal, yang peduli dengan pertahanan, akan mendapat tantangan berat saat menghadapi tim yang telah menunjukkan ketangguhan di kedua sisi permainan.

(LC/GN)
sumber : theanalyst.com
Leave a comment