Begitulah Dulu
Setelah berbagai turnamen di mana Jerman mengalami kegagalan, banyak yang mungkin lupa bahwa mereka adalah raja Piala Dunia. Dua edisi terakhir justru membalik narasi mengenai kekuatan tim ini.
Ini adalah momen nostalgia. Meskipun Curaçao bukanlah Brasil, pertandingan ini mengingatkan kita pada masa-masa kejayaan Jerman. Saat Livano Comenencia mencetak gol penyama kedudukan 1-1, rasa cemas menyelimuti para penggemar, mengingat pengalaman pahit di Piala Dunia sebelumnya. Namun, tim terbukti lebih kuat, dan akhirnya bermain dengan kualitas yang semakin terlihat.
Apakah ini berarti Jerman dapat mengalahkan tim seperti Prancis? Ketidakstabilan mungkin menjadi hambatan. Namun, jika mereka dapat mencapai performa terbaik, ada harapan untuk kelompok pemain ini.
Visi Julian Nagelsmann yang (Agak) Berhasil
Pertandingan ini menampilkan kelebihan dan kekurangan dari gaya permainan yang diterapkan Nagelsmann.
- Permainan yang mengalir dengan indah ditunjang oleh trio depan (Kai Havertz, Florian Wirtz, dan Jamal Musiala) yang aktif bertukar posisi, didukung oleh fullback tinggi (Nathaniel Brown) di sisi kiri dan pemain sayap alami (Leroy Sané) di sisi kanan.
- Penggunaan formasi asimetris yang tidak konvensional membuat Joshua Kimmich bertindak sebagai playmaker. Kerja samanya dengan Aleksandar Pavlović memperlihatkan potensi besar, mirip dengan yang ada di Bayern Munich.
- Dengan formasi tersebut, Felix Nmecha diberi kebebasan untuk menjelajah dan menghubungkan serangan. Jerman bermain dengan enam dari sebelas pemain yang menyerang, sebuah taktik yang terkoordinasi dengan baik.
- Pemilihan pemain menjadi sorotan. Pertarungan antara Deniz Undav dan Kai Havertz sangat penting, sementara Leroy Sané menunjukkan kelemahan di pertandingan ini. Nagelsmann perlu mempertimbangkan Jamie Leweling di sisi kanan, meskipun pemahaman taktiknya mungkin belum maksimal.
- Menerapkan Gegenpress di tingkat internasional merupakan tantangan. Jika dieksekusi dengan benar, taktik ini bisa membawa keuntungan. Namun, pelaksanaan Jerman jauh dari memuaskan dibandingkan dengan Bayern di bawah Vincent Kompany.
- Jerman bermain dengan tekanan tinggi dan lini pertahanan yang juga tinggi, membuat mereka rentan. Banyak ruang yang bisa dimanfaatkan oleh penyerang lawan.
- Formasi unik ini juga menciptakan celah besar di sisi kanan, yang berpotensi dimanfaatkan tim lawan di pertandingan mendatang.
Kirim €150 Juta ke Frankfurt Hari Ini
Nathaniel Brown menunjukkan bakat besar. Penampilannya di sisi sayap mencerminkan kualitas bek kiri Bayern Munich yang ideal: atletis dengan pemahaman permainan yang baik, selalu mampu berlari atau overlap pada waktu yang tepat. Kemampuan sepakan sudutnya pun sangat baik.
Dari segi kualitas, Jerman tidak dapat menemukan pengganti yang lebih baik daripada David Raum. Jika dia terus berkembang di bawah asuhan Nagelsmann, maka dia akan menjadi aset berharga di bawah Vincent Kompany yang memiliki filosofi taktik mirip.
Bayern Munich berhak menuntut Frankfurt menurunkan tuntutannya, tetapi semua mata tertuju pada performa Piala Dunia. Jika dia melanjutkan aksi cemerlang, tawaran lebih besar pasti akan datang. Saatnya menyelesaikan transfer ini dengan total €60 juta termasuk tambahan.
Walaupun Brown belum mencapai level Alphonso Davies, yang merupakan bek kiri terbaik di dunia saat fit, dia memiliki potensi untuk memperkuat skuad Bayern Munich yang sudah solid.
Akhirnya, perbaikan di sektor bek kiri akan menjadi langkah positif untuk menghadapi kompetisi di level tertinggi. Jerman harus terus memperhatikan perkembangan ini agar tetap bersaing di kancah dunia.
(SA/GN)
sumber : www.bavarianfootballworks.com
Leave a comment