Wolves Menghadapi Tantangan Besar di Premier League
Penting untuk mengingat bahwa Premier League saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan era Derby, sehingga perbandingan mungkin terasa tidak adil.
Dinamika Tim yang Berubah
Masalah yang dihadapi Wolverhampton Wanderers ini bukan hanya terkait dengan musim ini. Sejak menyelesaikan liga di posisi ketujuh secara berturut-turut di 2018-19 dan 2019-20, Wolves perlahan-lahan merosot di tabel. Dalam lima musim terakhir, mereka berada di posisi 13, 10, 13, 14, dan 16, yang memaksa mereka untuk mengganti manajer setidaknya dua kali untuk menyelamatkan posisi mereka.
Kini, Edwards menjadi pelatih kepala kelima dalam empat tahun, dan pelatih ketiga dalam waktu kurang dari 12 bulan setelah pemecatan Gary O’Neil dan Vitor Pereira.
Manajemen dan Perubahan Skuad
Gonta-ganti manajer ini bertepatan dengan perubahan besar dalam skuad, di mana Wolves telah menjual pemain bintang mereka tanpa melakukan penggantian yang memadai. Raul Jimenez, Ruben Neves, Adama Traore, Pedro Neto, Max Kilman, Conor Coady, dan Joao Moutinho merupakan bagian penting dari keberhasilan tim di bawah Nuno Espirito Santo, termasuk saat mencapai perempat final Europa League pada tahun 2020. Kepergian Nelson Semedo, Rayan Ait-Nouri, dan Matheus Cunha di musim panas juga masih dirasakan hingga saat ini.
Lima pemain yang bergabung musim panas lalu, kecuali Jorgen Strand Larsen yang memperpanjang pinjamannya dari Celta Vigo, belum memiliki pengalaman di Premier League dan membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi.
Perluasan Pengetahuan dan Pengalaman
Pelatih pengganti Edwards telah mengakui bahwa mereka memerlukan lebih banyak pengalaman, yang menjadi fokus mereka pada bursa transfer Januari. Namun, kemampuan untuk mendatangkan pemain tergantung pada seberapa jauh posisi mereka merosot.
Ada juga kekhawatiran mengenai kemampuan skuad untuk beradaptasi, mengingat banyaknya variasi kebangsaan dan tingkat kebugaran pemain. Edwards ingin meningkatkan intensitas permainan timnya.
Perbandingan dengan Derby 2007-08
Tim Derby musim 2007-08 hanya mengumpulkan enam poin pada tahap ini, dan mantan striker Robert Earnshaw yang menjadi bagian dari skuad mengingatkan betapa buruknya situasi ini bisa terjadi.
“Di Derby, politik di sekitar klub mengganggu apa yang terjadi di ruang ganti dan di lapangan. Seakan-akan semua orang menyerah, seolah ada 20 pertandingan tersisa dan tidak ada harapan,” kata Earnshaw kepada BBC Sport.
Sikap Fans dan Manajemen
Suara ketidakpuasan terdengar dari suporter di Molineux dengan teriakan, “Anda telah menjual tim, sekarang jual klub.” Namun, hal ini tidak mengubah sikap Fosun. Apabila Wolves terdegradasi, mereka tetap akan bertahan dan tidak ada rencana untuk menjual klub, meskipun terbuka untuk investasi minoritas ke dalam Fosun Sports Group. Mereka telah berbicara dengan mantan pemilik Crystal Palace, John Textor, pada bulan Oktober lalu.
Matt Jackson, mantan direktur rekrutmen dan pengembangan pemain, baru-baru ini dipromosikan menjadi direktur teknis, sebuah langkah yang disambut skeptis oleh para penggemar yang menginginkan perubahan besar.
Masa Depan Wolves
Sebelum pemecatan Pereira pada bulan November, musim ini sudah dianggap sebagai fase baru bagi Wolves dalam hal pengurangan anggaran gaji dan biaya transfer, dengan fokus untuk mendatangkan pemain lokal baik di bursa Januari maupun di masa mendatang.
Dengan semua perubahan ini, Wolves harus berusaha keras agar tidak terdegradasi, menjaga harapan fans dan performa tim di pentas Premier League.
(PL/GN)
sumber : www.bbc.com
Leave a comment