Jo Nattawut Resmi Pensiun dari Dunia Tarung Usai Kekalahan KO di ONE Friday Fights 137
Salah satu petarung kesayangan penggemar ONE Championship, Jo Nattawut, tampaknya telah mengonfirmasi keputusannya untuk pensiun dari dunia tarung profesional. Keputusan ini muncul setelah ia mengalami kekalahan KO di ronde kedua dari Mohammad Siasarani pada ajang ONE Friday Fights 137 pekan ini.
Kekalahan tersebut menjadi yang keempat secara beruntun bagi petarung Thailand yang berbasis di Amerika Serikat itu, dan yang ketiga kalinya ia kalah lewat stoppage. Ini menjadi penutup babak sulit bagi salah satu petarung divisi featherweight yang paling dicintai di ONE Championship.
Sebelum pertarungan, Bos ONE Championship, Chatri Sityodtong, sempat menyatakan bahwa laga tersebut bisa jadi kesempatan terakhir Nattawut, mengingat performanya belakangan ini.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh adiknya di media sosial tak lama setelah pertarungan, Nattawut terdengar bergurau tentang kemungkinan untuk terus bertarung, sebelum akhirnya mengakui bahwa laga itu memang yang terakhir baginya.
“Pasti ada yang lain,” katanya sambil tertawa.
Namun, sang adik menyela, “Pensiun. P’Jo bilang pertarungan ini yang terakhir. Dia tidak akan bertarung lagi.”
Nattawut mengangguk setuju, menambahkan, “Biarkan saja anak-anak muda yang bertarung. Saya sudah semakin tua sekarang.”
Sang adik, yang merekam percakapan tersebut, berulang kali menekankan bahwa keputusan ini sudah final, mencerminkan kekhawatiran keluarga terhadap kesehatannya yang telah lama ada.
“Tidak ada lagi pertarungan. Ini buktinya,” kata sang adik, merujuk pada persetujuan Nattawut.
Nattawut kemudian memberikan penjelasan yang lebih serius.
“Mata saya tidak bisa melihat lagi,” ucapnya. Penjelasan ini merujuk pada penurunan kemampuannya untuk membaca serangan dan bereaksi setajam dulu, bukan berarti ia benar-benar kehilangan penglihatan.
Jejak Karier Gemilang dan Momen Tak Terlupakan
Di usianya yang ke-36, Nattawut meninggalkan dunia olahraga sebagai salah satu striker paling dihormati di eranya. Ia memainkan peran sentral dalam mendorong divisi Muay Thai featherweight ONE Championship selama lima tahun terakhir.
Pada masa puncaknya, Nattawut dua kali mendesak juara bertahan Tawanchai PK Saenchai hingga batas kemampuannya – pertama dalam kickboxing, kemudian dalam pertarungan perebutan gelar dunia Muay Thai. Reputasinya semakin kokoh dengan kemenangan mendebarkan atas Luke Lessei pada Desember 2023.
Kekalahannya melalui keputusan mayoritas dari Tawanchai di ONE 167 pada Juni 2024 bahkan memicu perdebatan nasional di Thailand. Para penggemar bersorak booing keras atas hasil tersebut di Impact Arena, berpendapat bahwa Nattawut sudah cukup untuk memenangkan pertarungan – momen luar biasa mengingat status Tawanchai dalam olahraga tersebut.
Rencana pertarungan trilogi yang dijadwalkan akhir tahun itu di Atlanta harus dibatalkan karena Tawanchai masih harus menepi akibat cedera patah tulang orbita yang diderita pada pertarungan kedua. Sejak saat itu, momentum Nattawut tidak pernah pulih sepenuhnya.
Pertarungan yang dijadwalkan ulang melawan Superbon berakhir dengan kekalahan knockout di ronde pertama, diikuti oleh kekalahan stoppage yang berat dari Bampara Kouyate di ONE 170 pada Januari. Setiap pertarungan memunculkan pertanyaan baru mengenai masa depannya.
Meskipun demikian, Nattawut kembali bertarung di ONE Friday Fights 137, sebelumnya ia sempat menyatakan harapannya bahwa kemenangan atas Siasarani dapat mengembalikannya ke jalur perebutan gelar. Namun, kekalahan tersebut justru memberinya kejelasan.
Akhir Sebuah Era
Jika ini memang akhir dari perjalanannya, Jo Nattawut meninggalkan warisan yang tidak hanya didefinisikan oleh gelar juara, tetapi oleh hati, teknik, dan serangkaian pertarungan yang turut membentuk era Muay Thai modern di ONE Championship.
(OL/GN)
sumber : www.bangkokpost.com
Leave a comment