LeBron James dan Rivalitas dengan Carmelo Anthony: Pandangan Rich Paul
Rich Paul membahas salah satu perdebatan terpanjang dalam NBA saat berbicara di podcast Game Over. Ia memberikan penilaian tegas mengenai dugaan rivalitas antara LeBron James dan Carmelo Anthony, menjelaskan bahwa pertarungan yang diinginkan oleh para penggemar tidak pernah benar-benar terwujud, dan ada alasan spesifik di baliknya.
Pertemuan yang Tak Terwujud
Paul menyatakan, “Anda harus bertemu di playoff atau Final. Seiring waktu, itu jelas bukan rivalitas karena LeBron melompati orang-orang yang bahkan bukan rekan selevelnya. Ia diukur dari standar orang-orang yang bukan rekan selevelnya. Salah satunya adalah bayangan Michael Jordan. Yang lainnya adalah Kobe. Kita semua menginginkan pertarungan itu pada tahun 2009.”
Awal Karier yang Sama
Di awal karier mereka, LeBron dan Carmelo sering dianggap sebagai wajah generasi baru. Mereka memasuki liga setahun terpisah, berbagi pengalaman di Olimpiade, dan selalu dibandingkan sebagai pencetak skor elit serta pilar tim. Di atas kertas, semua bahan untuk sebuah rivalitas ada, namun jalur mereka tidak pernah benar-benar sejalan.
Kesenjangan Prestasi
Terdapat kesenjangan besar antara LeBron dan Carmelo, termasuk dalam keberhasilan tim mereka. LeBron telah meraih empat gelar juara dan empat penghargaan MVP, sementara Carmelo hanya memiliki rekor yang jauh lebih sedikit meskipun rata-rata poinnya mencapai 22,5 per game dengan akurasi 44,1% di lapangan.
Mereka hanya bertemu di playoff dalam jumlah terbatas, di mana LeBron memiliki rekor 8-2 melawan Carmelo. Pertemuan pertama mereka yang signifikan terjadi pada tahun 2012, ketika tim LeBron, Miami Heat, menghadapi Knicks yang dipimpin Carmelo. Pertemuan lainnya terjadi di playoff 2020, saat Lakers mengalahkan Trail Blazers di putaran pertama.
Tantangan di Playoff
Bagi Carmelo, kesuksesan di postseason selalu menjadi bagian yang hilang. Meskipun ia adalah pencetak skor brilian, tim-timnya sering kali gagal di playoff, dengan perjalanan yang dalam menjadi hal yang langka. Kekurangan dampak yang berkelanjutan di postseason menghalangi terjadinya pertarungan head-to-head yang biasanya mendefinisikan sebuah rivalitas dalam sejarah NBA.
Kobe Bryant sebagai Rival Sejati
Menurut Paul, rival sejati LeBron selalu merupakan Kobe Bryant. Sebagai seorang juara lima kali dan legenda Lakers, warisannya adalah satu-satunya yang bisa dibandingkan dengan Kobe pada saat itu. Sejak awal, LeBron sudah diukur berdasarkan pencapaian Bryant, bukan karena kedekatan usia atau keadaan, melainkan karena ekspektasi terkait kebesaran dan warisan.
Warisan yang Tidak Terwujud
Dinamika antara LeBron dan Kobe memiliki bobot yang nyata, meskipun tanpa pertemuan di Final. Pengaruh mereka mendefinisikan satu era, dengan penggemar dan media terus-menerus membahas gaya, kepemimpinan, dan prestasi kejuaraan. Pertarungan yang dinantikan pada tahun 2009 tidak pernah terwujud, ketika Cavaliers yang dipimpin LeBron tersingkir oleh Magic di Final Wilayah Timur, meninggalkan rasa penasaran akan pertarungan yang seharusnya terjadi.
Kesimpulan
Pandangan Paul mengubah cara kita memandang debat ini. Rivalitas dibangun atas momen yang saling bertabrakan di panggung tertinggi, dan LeBron tidak pernah benar-benar bersama Carmelo di panggung itu seperti yang diharapkan banyak orang. Sebaliknya, perjalanan LeBron ditandai dengan mengejar para legenda dan mengukur dirinya melawan yang terbaik, mengakibatkan rivalitas yang seharusnya ada tersisa sebagai perbandingan yang tidak sepenuhnya terwujud.
(BA/GN)
sumber : fadeawayworld.net
Leave a comment