Meninggalnya Jason Collins: Ikon Inklusi dalam Olahraga
Jason Collins, mantan pemain NBA, telah meninggal dunia pada usia 47 tahun akibat kanker otak. Collins dikenal sebagai pemain NBA pertama yang secara terbuka mengakui dirinya sebagai gay, dan telah menjadi duta global untuk olahraga ini selama satu dekade terakhir.
Pernyataan Keluarga
Keluarganya mengkonfirmasi melalui sebuah pernyataan bahwa Collins meninggal dunia akibat komplikasi dari kanker otak, yaitu glioblastoma stadium 4. “Kami sangat berduka untuk memberi tahu bahwa Jason Collins, suami, anak, saudara, dan paman tercinta kami, telah meninggal setelah perjuangan yang gigih melawan glioblastoma,” bunyi pernyataan tersebut. “Jason mengubah hidup banyak orang dengan cara yang tak terduga dan menjadi inspirasi bagi semua yang mengenalnya maupun yang mengaguminya dari jauh. Kami berterima kasih atas banyaknya cinta dan doa yang diterima selama delapan bulan terakhir, serta untuk perawatan medis yang luar biasa dari dokter dan perawatnya. Keluarga kami akan merindukannya dengan sangat.”
Reaksi dari NBA
Komisioner NBA, Adam Silver, juga menyampaikan pernyataan mengenai meninggalnya Collins. Ia mengungkapkan bahwa “pengaruh dan dampaknya jauh melampaui dunia basket, karena ia membantu menjadikan NBA, WNBA, dan komunitas olahraga lebih inklusif dan ramah untuk generasi mendatang. Ia menunjukkan kepemimpinan dan profesionalisme yang luar biasa selama 13 tahun karirnya di NBA serta dalam peran sebagai Duta NBA Cares.”
National Basketball Players Association (NBPA) menyampaikan pesan hangat tentang Collins, menyebut dirinya “bangga menyebut Jason sebagai salah satu dari kami.” Dalam pernyataannya, mereka menyatakan, “Keberaniannya meruntuhkan batasan, menjadikannya suar harapan bagi komunitas LGBTQ+. Ia bekerja tanpa lelah untuk mendorong inklusi di ruang ganti, sekolah, dan masyarakat, menantang kita semua untuk lebih berempati. Hari ini, kami berkabung atas kehilangan yang mendalam sembari merayakan seorang perintis yang warisannya tentang keberanian dan inklusi akan terus menggema untuk generasi mendatang.”
Penyakit dan Pemberitaan
Sebelumnya, Collins juga mengungkapkan tentang penyakit kanker otaknya dalam sebuah esai yang diterbitkan di situs ESPN. Ia menceritakan bahwa ia pergi ke Singapura untuk menjalani perawatan eksperimental yang belum disetujui di Amerika Serikat. Berkat efektivitas perawatan tersebut, ia dapat pulang dan menghadiri acara NBA All-Star Weekend di Los Angeles.
Kariert dan Warisan
Pada tahun 2014, Collins pensiun setelah karir 13 tahun di NBA, di mana ia bermain untuk tim-tim seperti Minnesota Timberwolves, Atlanta Hawks, dan Washington Wizards. Ia keluar sebagai gay pada tahun 2013 dan menjadi atlet gay pertama yang secara terbuka diakui di empat organisasi olahraga utama di Amerika Utara. Collins menikahi suaminya, Brunson Green, pada bulan Mei lalu.
Kepergian Jason Collins meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang. Ia telah menjadi simbol keberanian dan inklusi, tidak hanya bagi komunitas LGBTQ+ tetapi juga dalam dunia olahraga. Warisannya akan terus hidup dan menginspirasi banyak orang untuk merayakan perbedaan.
(BA/GN)
sumber : www.complex.com
Leave a comment