Curry Brand Sepakati Kontrak dengan Li-Ning
Oleh | Garis Finish
Pada 2 Juni 2026, Stephen Curry, bintang NBA dari Golden State Warriors, mengumumkan melalui media sosial bahwa merek pribadinya, “Curry Brand”, akan resmi menjalin kerjasama dengan Li-Ning.
Rumor yang beredar menunjukkan bahwa kontrak tersebut memiliki masa berlaku hingga sepuluh tahun. Perjanjian ini mencakup produk-produk basket, pakaian kasual, hak untuk menandatangani atlet di bawah merek pribadinya, serta lini produk lengkap klub golf. Jumlah total kontrak belum diungkapkan.
Pemilihan Partner Baru
Keputusan ini membuat Li-Ning menjadi mitra baru Curry setelah ia mengakhiri kerja sama selama dua belas tahun dengan Under Armour pada November 2025. Sebelumnya, Anta juga sempat menjalin komunikasi dengan pihak Curry, namun kerjasama tidak terlaksana. Beberapa spekulasi mengatakan bahwa selain tawaran yang menarik, kebebasan yang diberikan oleh Li-Ning menjadi faktor pemilih yang lebih penting daripada sekadar jumlah uang.
Strategi Merek yang Berbeda
Pilihan Curry ini sejalan dengan prinsipnya untuk tidak memilih merek arus utama. Tiga belas tahun lalu, ia menolak perpanjangan kontrak dengan Nike dan beralih ke Under Armour, yang saat itu masih tergolong “pendatang baru” di dunia olahraga. Pada saat pertemuan proposal yang terkenal, mengingat banyaknya bintang yang dijadikan duta merek oleh Nike, Curry merasa kurang dihargai dan diabaikan. Hal ini menjadi cerita yang sering diceritakan Under Armour sebagai bagian dari narasi mereka.
Awalnya, Curry hanya menjadi atlet yang terikat kontrak dengan Under Armour. Namun, pada November 2020, ia meluncurkan sub-merek “Curry Brand” dalam naungan Under Armour. Sejak saat itu, ia telah merilis beberapa generasi sepatu khusus mulai dari Curry 8 hingga Curry 13, membuka toko pertama di Chengdu, dan menandatangani kontrak dengan pemain yang diwakili oleh De’Aaron Fox.
Mengenai Hak dan Aset
Saat berpisah dengan Under Armour, Curry membawa merek independennya. Dalam kesepakatan antara kedua pihak, ia mempertahankan semua merek dagang dan hak kekayaan intelektual dari Curry Brand dan bebas mencari mitra ritel baru. Under Armour mencatat pemisahan ini dalam rencana restrukturisasi dengan nilai maksimum sekitar $255 juta.
Ketika Li-Ning menandatangani kontrak dengan Curry, mereka sebenarnya harus menyediakan rantai pasokan dan sumber daya R&D untuk “memproduksi pakaian” bagi merek independen yang tidak berada di bawah pengawasan mereka. Ke depan, aset ini mungkin juga bisa diambil kembali jika kerja sama tidak berjalan sesuai harapan. Kesepakatan yang terlihat tidak seimbang ini jelas bukan sesuatu yang akan diterima oleh semua pihak.
Proses Pengembangan Produk
Curry juga terlibat secara mendalam dalam proses pengembangan produk mereknya. Dalam wawancara eksklusif dua tahun lalu, ia menjelaskan tentang proses R&D untuk Curry 12. Dari sketsa dua dimensi hingga pemodelan tiga dimensi, Curry terlibat dalam setiap tahap. Ia mengatakan, “Jika saya tidak suka desain tertentu, mereka perlu menyesuaikannya.” Ini menunjukkan bahwa setiap perusahaan yang berkolaborasi dengan Curry Brand tidak hanya perlu menginvestasikan sumber daya, tetapi juga harus menyerahkan kekuasaan pengambilan keputusan yang signifikan.
Perbandingan dengan Anta
Anta kini memiliki banyak bintang NBA, seperti Klay Thompson dan Kyrie Irving. Meskipun Curry adalah aset berharga, ia bukanlah satu-satunya bintang di sana, sehingga sumber daya akan terdistribusi. Bergabung dengan Anta mungkin lebih seperti tambahan alih-alih bantuan yang sangat dibutuhkan.
Dari sisi Li-Ning, dengan memasukkan Curry ke dalam portfolio mereka, merek tersebut kini memiliki kesempatan untuk meningkatkan kehadirannya di pasar global. Mereka memiliki potensi untuk menjalin kerjasama dengan bintang-bintang perguruan tinggi dan sekolah menengah yang berbasis di AS, yang sangat penting bagi Li-Ning.
Kondisi Keuangan yang Berbeda
Dalam hal finansial, kebutuhan Li-Ning terhadap Curry jauh lebih besar dibandingkan sebaliknya. Pada tahun 2025, pendapatan Anta Sports mencapai 80,22 miliar yuan, sementara Li-Ning hanya mencapai 29,598 miliar yuan. Ini menunjukkan bahwa Curry bisa menjadi kartu truf bagi Li-Ning untuk meningkatkan narasi basket globalnya.
Keseimbangan ini tampaknya berpihak kepada Curry, terlihat dari bagaimana pengumuman kerjasama ini dirilis oleh dirinya sendiri, bukan oleh Li-Ning atau dalam gaya bersama.
Tantangan ke Depan
Ambisi Curry untuk mengembangkan Curry Brand mengingatkan pada ambisi Michael Jordan terhadap merek Jordan. Namun, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Pertama, model bisnis yang sukses untuk Jordan Brand sangat sulit untuk ditiru. Kedua, pasar basket saat ini tidak sepadan dengan masa kejayaan Jordan.
Keberhasilan atau kegagalan dari kerjasama ini akan menjadi penentu arah perkembangan merek olahraga asal China di kancah global. Jika berhasil, ini akan menjadi kasus landmark dalam proses globalisasi merek olahraga China; jika gagal, ini bisa menjadi eksperimen mahal yang menggugah industri untuk mengevaluasi kembali model “superstar + merek independen”.
(BA/GN)
sumber : eu.36kr.com
Leave a comment