Kisah 10 Tahun Setelah Kejuaraan Cavaliers
Sepuluh tahun yang lalu, anak sulung saya merayakan kemenangan Cavaliers dengan berlari tanpa baju di dalam rumah, berteriak sekuat tenaga.
Saat itu, dia baru berusia 11 tahun.
Istri saya sedang mengandung anak bungsu kami, yang baru lahir tiga bulan setelahnya. Kini, si bungsu tersebut sudah berusia 9 tahun.
Waktu memang berjalan dengan cara yang unik.
Kenangan Kejuaraan
Kejuaraan Cavaliers terjadi pada 19 Juni 2016. Para penggemar Cleveland pasti mengenali setiap detilnya: blok mengejar LeBron James, tembakan tiga angka Kyrie Irving, hingga Kevin Love yang mampu bertahan dari serangan Stephen Curry. Ini adalah satu-satunya kali sebuah tim berhasil bangkit dari defisit 3-1 di NBA Finals.
Lebih dari Sekadar Pertandingan
Tapi, kisah ini bukan hanya tentang pertandingan itu. Ini tentang apa yang terjadi setelahnya.
Saya menunggu selama 47 tahun untuk menyaksikan salah satu tim saya meraih kejuaraan. Sementara itu, anak-anak saya hanya menunggu sekitar satu dekade. Meskipun demikian, saat bunyi peluit akhir berbunyi, mereka merayakan seolah-olah mereka juga mengangkat beban sejarah olahraga Cleveland bersama kami.
Saya ingat saat duduk bersama keluarga, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Dan saya ingat satu hal lagi: itu adalah pertama kalinya saya mengeluarkan air mata setelah sebuah acara olahraga.
Bukan saat Browns masuk playoff, atau ketika Indians mencapai World Series. Hanya saat itu.
Momen yang Tetap Dikenang
Mungkin karena saya tak pernah benar-benar percaya bahwa saya akan menyaksikannya. Mungkin juga karena bertahun-tahun saya meliput Cavaliers, menulis tentang mereka, dan melihat mereka hampir berhasil namun selalu gagal. Atau mungkin karena olahraga seringkali lebih dari sekadar permainan; mereka adalah penanda dalam hidup kita.
Kita mengingat di mana kita berada, siapa yang bersama kita, berapa usia anak-anak, bagaimana keadaan rumah, kekhawatiran yang kita bawa, dan impian yang masih ada.
Pergeseran dalam Hidup
Saat Cavaliers meraih kemenangan, saya meliput mereka, meskipun dengan cara yang berbeda. Sebelum musim kejuaraan, saya di-PHK oleh Fox Sports Ohio dari tugas tersebut. Namun, mereka tetap memberi saya kesempatan untuk bekerja di televisi, dan saya tetap dekat dengan tim.
Meski demikian, itu tidak sama. Hidup semakin berubah, jalur karir menggeliat, dan semuanya terasa tidak pasti. Dalam cara yang aneh, hal itu membuat kejuaraan terasa lebih berarti.
Mengenang Sepuluh Tahun Kemudian
Sepuluh tahun kemudian, hidup saya terlihat sangat berbeda. Anak-anak sudah besar, dua di antaranya sudah dewasa. Anak kecil yang saat itu masih di dalam kandungan kini hampir berusia 10 tahun.
Saya tidak lagi bepergian bersama Cavaliers. Saya mengelola sebuah situs web, mengejar pembaca, mengedit cerita, menulis judul, dan berusaha menjaga bisnis kecil tetap berjalan di tengah perubahan cepat dalam dunia media.
Beberapa hari terasa seperti perlombaan, sementara yang lain seperti perjuangan. Namun, minggu ini, saya menemukan sebuah buku lama yang berisi kumpulan kolom yang saya tulis selama musim kejuaraan itu.
Saat membolak-balik halaman, saya tersenyum. Bukan karena basketnya, tetapi karena kenangan dan orang-orang yang terlibat. Saya menyadari satu dekade telah berlalu dalam sekejap mata.
Makna dari Kemenangan
Semakin tua saya, semakin saya menyadari bahwa kejuaraan itu penting, tetapi bukan itu yang akan selalu kita ingat. Yang tinggal dalam ingatan adalah momen-momen di sekelilingnya.
Seorang anak tanpa baju berlari di rumah. Istri yang sedang hamil tertawa melihat kekacauan. Seorang ayah yang berusaha menahan air mata. Sebuah kota akhirnya mendapatkan momen bersejarahnya.
Sepuluh tahun kemudian, saya masih bisa melihat semua itu. Dan mungkin itulah sebabnya rasanya masih seperti baru kemarin.
(BA/GN)
sumber : hoopswire.com
Leave a comment