Home Olahraga Lainnya MMA: Promosi Tunggal, Narasi Dominan Dunia Tarung.
Olahraga Lainnya

MMA: Promosi Tunggal, Narasi Dominan Dunia Tarung.

Share
MMA: Promosi Tunggal, Narasi Dominan Dunia Tarung.
Share

Selain media, para petarung juga seolah terikat dalam ‘ikrar keheningan’ ini. Di atas kertas, petarung adalah bintang utama pertunjukan, namun dalam kenyataannya, mereka termasuk pekerja yang paling mudah digantikan dalam dunia olahraga profesional.

Karier mereka singkat, kontrak bisa diputus sewaktu-waktu, dan tanpa adanya serikat pekerja, setiap petarung harus berjuang sendiri-sendiri. Berani menyuarakan pendapat terlalu keras, mereka bisa dicap “sulit”, “susah diajak kerja sama”, atau bahkan lebih buruk, “kurang aktif”.

Kesempatan meraih gelar juara bisa menghilang begitu saja, kesepakatan kontrak tertunda, dan telepon pun tak lagi berdering. Berbeda dengan atlet di NFL atau NBA, petarung tidak bisa mengandalkan perjanjian kerja bersama atau kontrak yang terjamin untuk melindungi mereka ketika menentang sistem yang ada.

Dalam olahraga yang sangat menjunjung tinggi ketangguhan di atas segalanya, keheningan seringkali dibingkai sebagai profesionalisme, dan bagi banyak orang, itu adalah satu-satunya cara untuk tetap mendapatkan pekerjaan.

Pada akhirnya, jika UFC bisa terus melakukan ini tanpa konsekuensi, mengapa mereka harus berubah? Tidak ada keuntungan bagi mereka dengan memperkenalkan suara-suara yang bertentangan dalam olahraga ini. Satu-satunya instrumen perubahan adalah jika ada kompetitor besar yang mendapatkan daya tarik cukup untuk menantang dominasi mereka.

Monopoli yang Semakin Kuat

Sayangnya, hal ini tampaknya semakin tidak mungkin terjadi. Penggabungan promosi terbesar kedua dan ketiga, PFL dan Bellator, justru terkesan hanya memperkuat monopoli UFC. Tidak dapat dimungkiri bahwa model bisnis yang diterapkan saat ini sangat berhasil bagi UFC.

Mereka telah tumbuh lebih cepat dan lebih efisien daripada hampir semua organisasi olahraga dalam sejarah modern. Namun, efisiensi tersebut datang dengan sebuah harga. Ketika satu perusahaan mengendalikan segalanya, perdebatan menjadi sekadar drama daripada pengawasan yang sebenarnya.

Baca juga:  Michelle Kwan, Legenda Seluncur Es, Jadi Mama Lagi!

Seiring dengan semakin populernya MMA di kancah global, pertanyaannya bukan lagi apakah UFC dapat terus menceritakan kisahnya sendiri, melainkan apakah olahraga ini mampu menanggung risikonya jika hanya kisah mereka yang didengar.

(OL/GN)
sumber : www.thesportsnewsblitz.com

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Viktor Axelsen, Raja Olimpiade, Gantung Raket di Umur 32!

Viktor Axelsen, Raja Olimpiade, gantung raket di usia 32. Mengakhiri era emasnya...

ONE FN 43: Reis vs Takahashi Pimpin, 3 Laga Tambahan Bikin Panas!

ONE FN 43: Reis vs Takahashi pimpin duel! Plus 3 laga tambahan,...

Voli Putra Patriot Purworejo: Wakili Jateng di Kejurnas!

Voli Putra Patriot Purworejo sukses ukir sejarah! Mereka akan mewakili Jawa Tengah...

Rhys McKee: Lengkapi Lingkaran di Laga Alex Lohore!

Rhys McKee siap lengkapi "lingkaran" perjalanannya. Laga kontra Alex Lohore bukan sekadar...