Hasim Rahman Kembali Naik Ring di Usia 53, Sebut Tyson Fury Lebih “Habis”
Mantan juara dunia kelas berat Hasim Rahman bersiap untuk kembali ke atas ring di usia 53 tahun. Dalam komentarnya yang mengejutkan, Rahman bahkan berani menyebut Tyson Fury sudah “lebih habis” dibandingkan dirinya.
Rahman, yang pernah menggemparkan dunia tinju dengan menghentikan Lennox Lewis dalam empat ronde untuk merebut gelar WBC dan IBF pada tahun 2001, dijadwalkan kembali naik ring pada 14 Juli di ESL Ballpark, New York. Pertarungan ini akan berlangsung dalam enam ronde, namun hingga kini lawan yang akan dihadapi belum diumumkan secara resmi. Jika mengacu pada waktu New York (EDT/UTC-4), pertarungan ini kemungkinan akan berlangsung pada dini hari 15 Juli waktu Indonesia Barat (WIB). Detail siaran untuk wilayah Indonesia belum tersedia.
Pertarungan profesional terakhir Rahman terjadi pada 2014, di mana ia menelan kekalahan dari petinju yang kurang dikenal, Anthony Nansen. Namun, hal itu tidak meredakan ambisinya. Rahman secara terbuka telah menyatakan keinginannya untuk melampaui George Foreman dan menjadi juara dunia kelas berat tertua dalam sejarah. Ia juga tak ragu memberikan penilaian tajam terhadap kondisi divisi kelas berat saat ini.
Komentar Pedas untuk Tyson Fury
Penilaian Rahman terhadap Tyson Fury cukup pedas. Ia melihat trilogi antara Fury dan Deontay Wilder sebagai titik balik yang menguras karier kedua petinju tersebut.
“Saya kira Deontay Wilder dan Tyson Fury saling menguras karier mereka masing-masing. Mereka meninggalkan jejak karier mereka di trilogi itu. Semuanya sudah berakhir untuk keduanya,” kata Rahman dalam sebuah wawancara dengan B4 Champ. “Anda tidak akan pernah melihat Tyson Fury di masa puncaknya lagi. Semuanya sudah berakhir. Selesai.”
Trilogi yang Menguras Tenaga
Pertarungan spesifik yang dimaksud Rahman adalah pertemuan ketiga Fury dan Wilder pada Oktober 2021. Dalam laga tersebut, Fury memang berhasil menang KO di ronde kesebelas, tetapi ia sempat dua kali terjatuh dan melewati beberapa momen genting yang membuat hasil akhir terasa sangat tidak pasti. Rahman berargumen bahwa harga fisik dari malam itu – dan trilogi secara keseluruhan – terlalu besar untuk ditanggung tanpa konsekuensi jangka panjang, terlepas dari siapa yang mengangkat tangan di akhir pertarungan.
Penampilan terbaru Fury melawan Arslanbek Makhmudov pada April lalu, yang dimenangkannya melalui keputusan mutlak, dijadikan bukti oleh Rahman untuk mendukung klaimnya. Performa Fury saat itu lebih terasa fungsional ketimbang dominan, dan bagi petinju sekelas Fury di masa puncaknya, penampilan tersebut menyisakan cukup pertanyaan yang belum terjawab, memberikan celah bagi para kritikus.
Kembalinya Hasim Rahman ke ring, ditambah dengan komentarnya yang blak-blakan mengenai salah satu nama terbesar di divisi kelas berat, menambah bumbu menarik dalam dinamika tinju saat ini. Apakah penilaian Rahman akurat atau terlalu dini, sangat bergantung pada bagaimana Tyson Fury akan menampilkan performa selanjutnya di atas ring.
(OL/GN)
sumber : boxingnews.com
Leave a comment