Adam Azim: Bakat Alami Saja Tak Cukup, Disiplin Kunci Menuju Puncak Dunia Tinju
Adam Azim tak diragukan lagi adalah salah satu petarung paling berbakat di Inggris. Kecepatannya yang indah terlihat jelas saat ia membongkar lawan-lawan yang kualitasnya di bawahnya tanpa ampun. Di usianya yang baru 24 tahun, Azim memiliki atribut fisik dan mentalitas untuk mencapai puncak olahraga tinju, apalagi dengan dukungan pelatih ternama Shane McGuigan di sudutnya.
Namun, Azim sangat menyadari bahwa bakat saja hanya bisa membawa seorang petarung sejauh ini. Yang lebih penting adalah tingkat komitmen terhadap profesinya, atau dengan kata lain, cara seseorang menerapkan diri di luar sasana.
Disiplin di Luar Ring Jadi Fokus Utama
Serangkaian kejadian kurang menyenangkan sempat mewarnai persiapan pertarungan terakhirnya yang dijadwalkan. Lawan di kelas welter ringan super, Gustavo Lemos, terpaksa mundur karena cedera. Azim kemudian dijadwalkan menghadapi Nahir Albright pada tanggal yang sama, 31 Januari, namun cedera tangan membuatnya harus absen.
Untuk mencegah cedera di masa depan, penantang tak terkalahkan ini kini semakin menekankan pada rutinitas perawatan diri, yang ia akui sempat sedikit terabaikan menjelang pertarungan terakhirnya.
“Satu hal yang sangat saya [perhatikan] adalah kesehatan saya. Petinju bisa cedera di sana-sini sebelum pertarungan, tapi itu adalah hal-hal yang mereka lakukan di luar kamp [yang membuat perbedaan],” kata Azim kepada Boxing News dan media lainnya.
“Mereka bisa pergi keluar, makan banyak makanan tidak sehat dan melakukan sesuatu yang bodoh. [Tapi], bagi saya, saya suka mengatur tubuh saya sebelum saya masuk kamp. Saya melakukan banyak perawatan pada tubuh saya – mandi es, krioterapi, terapi panas dan dingin – dan saya terus melatih diri bahkan setelah pertarungan.”
Belajar dari Pengalaman dan Gaya Hidup “Biksu”
Meski memberikan kesan sebagai seorang profesional sejati, Azim mengakui bahwa sebelum kemenangannya di ronde ke-12 atas Kurt Scoby November lalu, ia mungkin sempat terlalu banyak menikmati makanan manis. Akibatnya, ia kini memutuskan untuk hidup lebih seperti seorang biksu daripada pemuda 24 tahun pada umumnya.
“Sebelum pertarungan melawan Kurt Scoby itu, berat badan saya sangat berat, dan alasan saya berat adalah karena saya makan banyak makanan penutup. Tapi setelah itu, saya memikirkan semua petarung level atas yang banyak melakukan pemulihan dan menjaga berat badan mereka tetap stabil. Saya juga perlu melakukan itu.”
Ujian Krusial Hadapi Steve Claggett
Percaya bahwa ia telah menemukan kunci kesuksesan di level atas, Azim harus tetap mempertahankan catatan kemenangannya saat ia menghadapi Steve Claggett di Wembley Arena, London, pada Sabtu, 3 Februari 2024 waktu setempat. Pertarungan ini akan menjadi momen Azim memuncaki kartu pertarungan Boxxer untuk pertama kalinya. Dengan perbedaan waktu, duel utama ini diperkirakan berlangsung pada Minggu dini hari, 4 Februari 2024, sekitar pukul 05.00 WIB.
Setelah pertarungan tersebut, kesempatan untuk memperebutkan gelar juara dunia yang kosong bisa saja berada dalam jangkauan “The Assassin”, yang saat ini memiliki peringkat 7 IBF yang cukup baik di kelas 140 pon (63.5 kg). Di atasnya, tentu saja, ada penantang terkemuka Lindolfo Delgado, yang Azim mengatakan “sangat ingin” ia lawan untuk memperebutkan sabuk yang sebelumnya dipegang Richardson Hitchins.
Warisan Keluarga dan Dorongan Sang Ayah
Namun hingga saat itu tiba, Azim harus tetap fokus pada pengembangan profesionalnya, menelusuri jalur yang selalu diharapkan ayahnya.
“Ayah saya sudah ada sejak saya berusia empat tahun dan dia akan terus bersama saya sampai saya pensiun. Itulah sosok seorang ayah. Dia menghadapi kesulitan saat tumbuh dewasa,” kata Azim.
“Dia kehilangan dua saudaranya – satu meninggal karena kanker dan satu lagi dibunuh di Slough. Dia selalu menjaga saya di jalur yang benar. Dia berkata kepada saya, ‘Jangan jadi seperti pamanmu [yang meninggal pada usia 25]. Ikuti jalur yang saya inginkan’. Bahkan sebelum saudara laki-laki ayah saya yang lain meninggal karena kanker pada usia 40, dia mengatakan kepada ayah saya bahwa saya akan membuat nama keluarga kami besar.”
Azim memang memiliki kemampuan untuk menjadi nama yang dikenal luas, membuat keluarganya semakin bangga. Namun pertama-tama, ia harus mengatasi mantan lawan Teofimo Lopez, Claggett, dengan meyakinkan. Kemenangan atas Claggett akan menjadi fondasi penting bagi Azim dalam mewujudkan impiannya dan juga harapan keluarganya.
(OL/GN)
sumber : boxingnewsonline.net
Leave a comment