Home Sepakbola Champions League 10 Tahun Pep Guardiola di Man City: Membangun Legasi Sempurna!
Champions League

10 Tahun Pep Guardiola di Man City: Membangun Legasi Sempurna!

Share
Share

Sepuluh Tahun Pep Guardiola di Manchester City: Sebuah Era Bersejarah

Sepuluh musim di Manchester telah mengubah ritme sepak bola Inggris. Pep Guardiola tiba di Manchester City pada 2016, mengubah ide di lapangan latihan menjadi kebiasaan di hari pertandingan, dan meraih banyak trofi sepanjang perjalanan tersebut. Dari 593 pertandingan, City meraih 423 kemenangan, 77 hasil imbang, dan 93 kekalahan, dengan total 1.462 gol dicetak dan 557 gol kebobolan, menghasilkan rata-rata 2,27 poin per pertandingan.

Trofi yang Diraih: Enam Liga, Juara Eropa, dan Dua Kali Clean Sweep

Perjalanan Guardiola di City dipenuhi dengan pencapaian yang akan dikenang dalam sejarah klub. Pada 2017/18, tim yang dijuluki “Centurions” meraih 100 poin di Premier League dengan mencetak 106 gol. Setahun kemudian, mereka meraih treble domestik, memenangkan Premier League, FA Cup, dan EFL Cup pada 2018/19. Dominasi ini berlanjut dengan meraih gelar liga di musim 2020/21, 2021/22, 2022/23, dan 2023/24.

Gelaran Eropa menjadi tantangan tersendiri hingga musim 2022/23, saat City mengalahkan Bayern, kemudian Real Madrid, sebelum meraih kemenangan 1-0 atas Inter di final yang diadakan di Istanbul, berkat gol Rodri. Kemenangan ini melengkapi koleksi trofi City, termasuk UEFA Super Cup dan FIFA Club World Cup yang didapat tahun 2023.

Pencapaian di Premier League: Standar yang Ditetapkan Setiap Tahun

Peringkat akhir City di liga menunjukkan konsistensi dan capaian tertinggi. Musim perdana (2016/17) diakhiri dengan peringkat ketiga. Diikuti dengan dua gelar berturut-turut pada 2017/18 dan 2018/19, peringkat kedua di 2019/20, dan kembali ke papan atas dengan peringkat pertama pada 2020/21, 2021/22, 2022/23, dan 2023/24. Meski tidak selalu juara, City jarang tersisih dari peringkat atas.

Baca juga:  Flick berikan update jujur tentang masa depannya usai Barcelona tersingkir.

Dua musim terakhir menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam siklus panjang, dengan City menempati peringkat ketiga di 2024/25 dan kedua di 2025/26. Selama satu dekade, City berhasil mempertahankan posisi, dengan delapan finis di dua besar, enam gelar, dan hanya dua musim di luar posisi tersebut. Tim ini mampu bermain dengan kendali atau menyerang dengan gaya bermain yang mengalir, tergantung kebutuhan.

Transfer yang Membentuk Tim

Strategi rekrutmen di bawah Guardiola berhasil menggabungkan presisi dan kepribadian pemain. Ederson mengubah cara permainan City dengan distribusi yang akurat. Kyle Walker menambah kecepatan dan lebar permainan, sementara Bernardo Silva dan İlkay Gündoğan mampu mengendalikan permainan dengan fleksibilitas. Rúben Dias hadir di tahun 2020 untuk memperkuat lini belakang.

Pembelian Rodri pada 2019 menjadi titik penting, menjadikannya pengatur tempo dan pelindung di lapangan. Keberadaan Jack Grealish yang didatangkan dengan biaya €117,5 juta pada 2021 menambah kedisiplinan taktis. Erling Haaland yang bergabung pada 2022 mampu mengubah peluang menjadi gol secara instan, menetapkan rekor pencetak gol terbanyak dengan 36 gol di Premier League musim 2022/23.

Keberhasilan di Liga Champions 2022/23: Musim yang Melengkapi City

Puncak Eropa City pada musim ini ditandai oleh kontrol dan waktu yang tepat. Di perempat final dan semifinal, mereka tampil dominan melawan Bayern dan Real Madrid. Pertandingan final melawan Inter berlangsung ketat hingga menit ke-68, saat Rodri mencetak gol penentu. Struktur pertahanan yang kokoh, dengan Stones menempati posisi dalam dan Dias menjaga pertahanan, memastikan kemenangan.

Kemenangan ini mengantarkan City meraih treble bersejarah: Premier League, FA Cup, dan Liga Champions dalam satu musim. Selain itu, mereka juga berhasil menambah koleksi trofi internasional dengan UEFA Super Cup dan FIFA Club World Cup yang menyusul. Dampak dari kemenangan ini juga membawa perubahan dalam tempo dan strategi permainan City di Eropa.

Baca juga:  Update Cedera Eberechi Eze dan Martin Ødegaard Jelang Arsenal vs Bournemouth!

Perpisahan yang Menjadi Legasi

Guardiola meninggalkan pesan sederhana: tidak ada yang abadi, tetapi kenangan akan tetap hidup. Pendukung City telah terbiasa dengan permainan terstruktur dan momen-momen krusial yang menyegel kemenangan. Selama satu dekade ini, City berhasil mengumpulkan 20 trofi, enam gelar liga, trofi Eropa pertama, dan gaya permainan yang memengaruhi seluruh liga. Penyelesaian 2,27 poin per pertandingan dalam hampir 600 laga adalah suatu pencapaian yang layak dikenang.

Era Guardiola di Manchester City akan menjadi tolok ukur bagi masa depan tim ini dan akan diingat dalam perjalanan sepak bola Inggris.

(LC/GN)
sumber : www.sofascore.com

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Liverpool dan Real Betis Amankan Tempat di UEFA Champions League 2026/27!

Liverpool dan Real Betis berhasil mengamankan tempat di UEFA Champions League 2026/27,...

PSG rayakan kemenangan di Champs-Élysées jika kalahkan Arsenal di final!

PSG bersiap merayakan kemenangan spektakuler di Champs-Élysées jika berhasil mengalahkan Arsenal di...

Sunderland: Siapa Juara Club Promosi Terbaik?

Sunderland, klub bersejarah, mempertanyakan siapa juara promosi terbaik. Dengan prestasi gemilang, mereka...

Budapest Harap Dapat Dorongan Ekonomi dari Final Liga Champions

Budapest berharap final Liga Champions mendatang akan memberikan dorongan ekonomi signifikan, menarik...