Roma Kembali ke Liga Champions, Tapi Masih Perlu Banyak Persiapan
Roma berhasil kembali ke Liga Champions, tetapi ada perbedaan besar antara sekadar hadir dan menjadi pesaing serius.
Dengan menyelesaikan kompetisi Serie A di peringkat ketiga, suasana di Trigoria berubah. Klub mengakhiri musim dengan 73 poin, mencetak 59 gol dan hanya kebobolan 31 gol, serta meraih lima kemenangan berturut-turut di akhir musim untuk mengamankan posisi mereka di kompetisi top Eropa, mengungguli Milan dan Juventus. Kemenangan 2-0 atas Verona menandai kembalinya Roma ke Liga Champions setelah terakhir kali berpartisipasi di musim 2018-19. Kembalinya ini bukan hanya soal prestasi olahraga, tetapi juga memberikan dampak finansial yang signifikan bagi klub.
Jaga Stabilitas Pertahanan
Kekuatan paling jelas Roma ada pada keandalan pertahanan. Hanya Como yang kebobolan lebih sedikit di Serie A dibandingkan total 31 gol yang diterima Roma, sedangkan Inter dan Napoli masing-masing kebobolan 35 dan 36 gol. Hal ini memberikan pondasi yang solid bagi Roma di Liga Champions, karena sistem permainan yang diterapkan oleh pelatih Gian Piero Gasperini dapat bertahan dalam situasi sulit jika lini belakang dan kiper tetap tajam.
Aturan pertama musim panas ini sangat jelas: jangan melemahkan inti pertahanan. Pemain seperti Mile Svilar, Gianluca Mancini, Evan Ndicka, dan Manu Koné seharusnya dipertahankan kecuali terdapat situasi yang memaksa untuk menjual mereka.
Dengan adanya kompetisi Liga Champions, Roma perlu mempertimbangkan untuk menambah dukungan pertahanan dan satu bek sayap yang mampu memberikan kontribusi di sektor penyerangan.
Kelemahan di Sektor Penyerangan
Meski serangan Roma telah memenuhi standar ‘Liga Champions’, tuntutan di kompetisi ini lebih tinggi. Inter mencetak 89 gol dan Como 65 gol, menunjukkan bahwa Roma perlu meningkatkan kemampuan menciptakan peluang dan menemukan alternatif lain dalam mencetak gol saat Paulo Dybala dikelola dengan hati-hati.
Donyell Malen memberikan dampak yang signifikan, namun hanya mengandalkan satu periode serangan yang baik tidaklah cukup. Nama-nama seperti Joshua Zirkzee dan Gianluca Scamacca diminati karena mereka menawarkan variasi dalam permainan penyerangan yang diperlukan oleh Gasperini.
Roma Dipandang sebagai Tim Kuda Hitam
Pada pasar Liga Champions awal, Roma ditempatkan sebagai tim outsider dibandingkan tim favorit lainnya. Opsi harga untuk masa depan biasanya berkisar antara 40/1 hingga 50/1, menunjukkan bahwa tim ini perlu meningkatkan performa dan modal pemain untuk bersaing dengan raksasa seperti PSG, Bayern Munich, dan Real Madrid.
Target Transfer Perlu Disaring dengan Jelas
Nama-nama yang muncul dalam daftar target harus dinilai sesuai dengan kebutuhan tim. Zirkzee bisa menjadi pilihan jika Roma mencari striker yang mobile, sementara Scamacca akan menjadi opsi yang lebih mengarah ke permainan kotak penalti. Selain itu, Antonio Nusa dan Crysencio Summerville juga dilaporkan sebagai pemain yang bisa memberikan kecepatan di posisi sayap.
Richard Rios dari Benfica mungkin juga dapat menjadi tambahan penting, sebagai gelandang yang bisa menjaga intensitas permainan Roma. Di posisi bek sayap, Mario Mitaj dari Al Ittihad atau Jayden Oosterwolde dari Fenerbahce diharapkan dapat memberikan lebar dan atletisitas yang lebih baik di sektor sayap.
Roma Perlu Kreativitas dalam Rekrutmen
Secara hipotetis, Roma harus memiliki daftar alternatif jika Zirkzee atau Scamacca melambung harganya, dan mencari penyerang muda yang kuat dan lincah seperti Brian Brobbey. Jika pasar sayap terlanjur mahal, penyerang sayap dengan kemampuan menggiring bola dan potensi jual kembali seperti Johan Bakayoko seharusnya dipertimbangkan.
Kesalahan yang harus dihindari adalah merekrut nama-nama terkenal yang tidak meningkatkan tempo permainan tim. Roma membutuhkan pemain yang cepat, konsisten dalam sprint, dan memberikan keputusan akhir yang baik saat berada di final third.
Pembangunan Musim Panas yang Terarah
Roma perlu jelas mengenai kelemahan mereka. Idealnya, tambahan dua penyerang level starter, satu bek sayap atletis, dukungan pertahanan, dan opsi rotasi di lini tengah akan memberikan energi tambahan bagi tim, asalkan anggaran memungkinkan.
Meski tantangan ini besar, bukan hal yang mustahil. Gasperini telah memberikan identitas kepada Roma dan kini pasar perlu memberikan kecepatan serta kemampuan mencetak gol yang cukup agar dapat bersaing di Liga Champions dan juga Serie A.
(LC/GN)
sumber : romapress.net
Leave a comment