Raphinha: Motor Kebangkitan Barcelona yang Tak Tergantikan
Performa impresif Raphinha menjadi salah satu faktor kunci di balik kebangkitan Barcelona musim ini. Blaugrana sempat menelan empat kekalahan di semua kompetisi, tiga di antaranya terjadi saat Raphinha absen karena cedera, dan satu laga lain ketika ia memulai dari bangku cadangan.
Namun, sejak pulih dari cedera hamstring yang membuatnya menepi selama dua bulan, Raphinha telah menjadi starter dalam tujuh pertandingan. Hasilnya? Barcelona memenangkan setiap pertandingan tersebut, dengan Raphinha terlibat langsung dalam delapan gol.
Sosok Berpengaruh di Ruang Ganti
Dampak Raphinha tidak hanya terasa di atas lapangan, tetapi juga di ruang ganti. Kehadirannya mampu mengangkat semangat rekan-rekan setimnya. Bek kiri Barcelona, Alejandro Balde, baru-baru ini menyatakan, “Memiliki Raphinha bersama kami adalah kebahagiaan besar, terutama bagi para pemain muda, karena ia selalu memberikan banyak nasihat.”
Bahkan, Raphinha bisa menjadi sumber kenyamanan dan dorongan bagi pelatih Hansi Flick. Saat kemenangan sulit atas Alaves pada November lalu, ia menghampiri sang pelatih yang tampak khawatir di bangku cadangan Barcelona. “Kami akan membaik,” katanya kepada Flick. “Kami akan jauh lebih baik di pertandingan-pertandingan mendatang.” Dan Raphinha memang benar.
Rentetan Kemenangan dan Ketajaman
Barcelona saat ini sedang dalam rentetan sembilan kemenangan beruntun di semua kompetisi. Kemenangan telak 5-0 atas Athletic Club di semifinal Copa del Rey pada hari Rabu terasa seperti sebuah pernyataan tegas dari tim.
Tak heran, Raphinha kembali menjadi bintang utama, dengan menciptakan dua assist dan mencetak satu gol sendiri. Ini adalah jenis penampilan yang sangat menentukan, mirip dengan yang sering ia tunjukkan musim lalu, dan mengisyaratkan bahwa tahun 2026 mungkin akan menjadi tahun yang lebih besar bagi bintang Brasil ini daripada 2025.
Ambisi Besar dan Misi Balas Dendam
Raphinha menggambarkan memenangkan Liga Champions sebagai “tantangan pribadi” dan mengangkat trofi Piala Dunia sebagai “mimpi terbesarnya”. Namun, ia juga mengakui bahwa ia termotivasi oleh kekecewaan karena tidak mendapatkan pengakuan yang ia rasa “layak” setelah musim terbaik dalam kariernya. Dan itu mungkin bukan hal buruk bagi Barcelona.
Hansi Flick tepat ketika ia menyebut tidak masuknya pemain berusia 29 tahun itu ke dalam The Best FIFA Men’s 11 sebagai “lelucon”. Namun, Los Blaugrana bisa saja menjadi pihak yang tertawa pada akhirnya. Pasalnya, sementara winger Real Madrid Vinicius Junior masih belum pulih dari kekecewaan Ballon d’Or 2024, misi balas dendam Raphinha sudah terlihat seperti akan menjadi sukses yang spektakuler.
Dampak Raphinha tidak bisa diremehkan. Dengan performa gemilangnya, baik sebagai pencetak gol, pemberi assist, maupun motivator, ia menjadi elemen krusial dalam ambisi Barcelona untuk meraih kesuksesan di sisa musim ini dan di masa mendatang.
(LC/GN)
sumber : www.goal.com
Leave a comment