Kekalahan Beruntun Chelsea Menjadi Sorotan
Performa Chelsea saat ini menciptakan kekhawatiran yang mendalam, dengan data terbaru menunjukkan gambaran yang cukup suram. Sejak Minggu ke-26, Chelsea berada di peringkat kedua dari bawah dalam tabel form Premier League dengan hanya meraih satu kemenangan dari acht laga. Dan kondisi semakin memburuk, dengan tim ini mengalami empat kekalahan beruntun tanpa mencetak gol untuk pertama kalinya dalam lebih dari 28 tahun.
Pencapaian Buruk Terbaru
- 0-1 melawan Newcastle
- 0-3 melawan Everton
- 0-3 melawan Man City
- 0-1 melawan Man United
Delapan gol kebobolan, nihil gol dicetak. Ini jelas tidak dapat diterima.
Selain itu, Chelsea hanya mampu meraih satu kemenangan dari delapan laga terakhir di Premier League. Mereka juga mengalami tiga kekalahan berturut-turut di kandang untuk pertama kalinya sejak 1993. Rekor-rekor ini semakin memperjelas betapa susahnya situasi yang dihadapi tim di bawah kepelatihan Liam Rosenior.
Kekalahan Terakhir Menambah Frustrasi
Kekalahan terakhir terjadi saat menghadapi Manchester United di Stamford Bridge. Meski United datang tanpa beberapa pemain kunci di lini pertahanan, seperti Harry Maguire dan Lisandro Martinez, mereka tetap berhasil meraih clean sheet dan tiga poin. Chelsea memiliki lebih banyak penguasaan bola dan statistik yang lebih baik, namun itu semua tidak membawa arti. United bertahan dengan disiplin dan memanfaatkan peluang yang ada.
Sementara itu, Chelsea yang telah melakukan investasi besar, tampaknya masih kekurangan pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan. Kesulitan mereka mencetak gol, menjaga clean sheet, dan meraih kemenangan semakin terlihat jelas.
Moment Penentu
Gol satu-satunya dalam pertandingan tersebut dicetak oleh Matheus Cunha di menit ke-43, hasil dari serangan yang brilian dan umpan cutback dari Bruno Fernandes. Assist tersebut menjadikan Fernandes dengan 18 assist di Premier League musim ini, semakin mendekati rekor satu musim sepanjang masa.
Gap yang Menganga
Hasil ini melengkapi dua kemenangan beruntun untuk tim besutan Michael Carrick atas Chelsea musim ini. Kini United melangkah jauh dengan selisih 10 poin di posisi keenam, yang memberi mereka peluang besar untuk lolos ke Champions League musim depan.
Pernyataan Cole Palmer sebelum pertandingan kini terasa lebih berarti: “Jika kami tidak masuk Champions League, segalanya akan berubah.” Meskipun demikian, penampilannya saat melawan United tidak menunjukkan hal itu.
Kepala pelatih Liam Rosenior melihat pertandingan dengan perspektif berbeda: “Saya hanya bisa mengatakan apa yang saya lihat. Saya merasa kami adalah tim yang dominan dari awal hingga akhir pertandingan.”
Akun dan Tanggung Jawab
Apabila Chelsea gagal merebut tiket Champions League musim depan, situasi ini harus dianggap sebagai sebuah kegagalan total. Ketika kepemilikan ini mengambil alih, Chelsea masih berada di jalur yang benar dengan pelatih sukses seperti Thomas Tuchel. Kini, dengan kebijakan rekrutmen yang buruk, klub ini telah mengalami kemunduran yang signifikan.
Rekor Tidak Diinginkan dan Ketidakpuasan Suporter
Dari sisi performa, Chelsea tidak memberikan tanda-tanda perbaikan. Rentetan hasil buruk ini menciptakan rekor yang tidak diinginkan, dengan tiga kekalahan kandang beruntun di Premier League untuk pertama kalinya sejak 1993, dan empat kekalahan beruntun tanpa mencetak gol menjadi yang terburuk sejak 1998.
Sebelum pertandingan, ada aksi protes terhadap kepemilikan klub di luar Stamford Bridge, dengan pesan tegas “BlueCoOut”. Ketidakpuasan di antara suporter semakin meningkat. Mereka merindukan Chelsea yang dulu dan terlihat jelas dari teriakan dalam protes tersebut. Sikap mereka adalah respons atas manajemen buruk dari pihak atas.
Kontras mencolok terlihat saat United, yang tidak perlu bermain maksimal untuk meraih kemenangan, cukup tampil baik menghadapi Chelsea yang sedang kesulitan.
(LC/GN)
sumber : gulfnews.com
Leave a comment