Misi Carlo Ancelotti di Brasil: Buru Trofi Piala Dunia, Impikan Final Emosional kontra Italia
Carlo Ancelotti telah menaklukkan segala yang ditawarkan sepak bola level klub. Namun, impian terbesarnya kini terletak di panggung dunia. Sebagai pelatih kepala Brasil, ahli taktik asal Italia ini tengah mengejar satu-satunya gelar yang hilang dari daftar prestasi gemilangnya, yaitu trofi Piala Dunia FIFA.
Dengan turnamen 2026 yang semakin dekat, misi Ancelotti terasa emosional sekaligus bersejarah: mengakhiri paceklik gelar Brasil selama 24 tahun, dan mungkin, menghadapi tanah kelahirannya, Italia, di partai final.
Carlo Ancelotti Berhasrat Juarai Piala Dunia Bersama Brasil
Ketika Ancelotti meninggalkan Real Madrid setelah membawa mereka meraih gelar Liga Champions lainnya pada tahun 2024, hanya sedikit yang bisa memprediksi destinasi berikutnya. Namun, bagi pria yang telah mengangkat 29 trofi mayor di seluruh Eropa itu, daya tarik memimpin negara sepak bola tersukses di dunia terbukti tak tertahankan.
“Melatih tim nasional Brasil—yang tersukses dalam sejarah—adalah kesempatan yang tidak bisa saya tolak,” kata Ancelotti ketika ditanya mengapa ia memilih untuk mengambil peran sebagai pelatih kepala Selecao. “Saya tahu tentang gairah di sini, tetapi mengalaminya langsung itu berbeda. Ketika Brasil bermain, negara ini berhenti.”
Ditunjuk pada pertengahan 2024, kedatangan Ancelotti menandai era baru bagi Selecao. Pada Juni 2025, ia berhasil memimpin Brasil meraih kualifikasi Piala Dunia, mengamankan tempat setelah kemenangan tipis 1-0 atas Paraguay berkat gol Vinicius Jr. Catatannya dua kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan dalam empat pertandingan pertamanya mencerminkan pendekatan pragmatis yang dibangun di atas soliditas pertahanan dan disiplin taktis, kualitas yang sempat hilang dari Brasil dalam beberapa tahun terakhir.
Brasil Racikan Ancelotti Mulai Terbentuk
Brasil di bawah Ancelotti bukan hanya tentang flamboyan semata; ini tentang kontrol. Dikenal dengan kepemimpinan yang tenang dan manajemen pemain yang apik, ia telah mencoba membentuk tim yang menyeimbangkan gaya menyerang dengan efisiensi. “Kami ingin menang, dan kami tidak menyembunyikannya,” tegasnya. “Impiannya adalah Brasil memenangkan Piala Dunia keenam mereka. Ada ekspektasi besar, tetapi juga antusiasme yang besar. Fakta bahwa kami belum menang dalam 24 tahun adalah beban. Semoga tidak menjadi 28!” kata Ancelotti dalam sebuah wawancara dengan Dribbling di Rai Due.
Pilihan pemainnya telah memicu perdebatan. Absennya Neymar karena cedera jangka panjang, bersama dengan pengecualian sementara Vinicius dan Rodrygo, menimbulkan pertanyaan. Namun Ancelotti jelas: kebugaran, performa, dan keseimbangan lebih diutamakan daripada nama besar. “Penting untuk mengenal setiap pemain secara pribadi,” jelasnya setelah memanggil beberapa wajah baru seperti Caio Henrique dan Kaio Jorge selama kualifikasi 2025.
Kritik, Tantangan, dan Tekanan Menjadi Pelatih Brasil
Meski demikian, tidak semua orang yakin. Mantan kiper dan manajer Brasil, Emerson Leao, mengkritik penunjukan Ancelotti, menyebutnya sebagai “cerminan yang menyedihkan” dari kondisi kepelatihan Brasil. “Saya kecewa karena orang asing harus datang karena pelatih kami sendiri belum berhasil,” kata Leao kepada CNN. “Melatih Brasil jauh lebih sulit daripada melatih Real Madrid – di sini, seluruh bangsa menghakimi Anda.”
Ia mempertanyakan keakraban Ancelotti dengan talenta domestik dan gaya komunikasinya, memperingatkan bahwa “pekerjaannya akan sangat sulit.” Kritik ini menggarisbawahi sorotan luar biasa yang datang bersama pekerjaan pelatih Brasil — di mana setiap pilihan lineup menjadi perdebatan nasional dan setiap hasil, sebuah referendum.
Ancelotti, bagaimanapun, tetap tidak gentar. Setelah sukses di bawah tekanan klub paling intens, ia tahu bagaimana melindungi para pemainnya. “Saya fokus pada persiapan, persatuan, dan keyakinan,” katanya dalam konferensi pers. “Piala Dunia akan kompetitif, tetapi tujuan kami jelas.”
Mimpi Final Sempurna dan Abadi
Meskipun Ancelotti telah mengumpulkan banyak trofi juara liga di Italia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol, ditambah rekor lima Liga Champions, hatinya masih berdetak untuk momen-momen paling puitis dalam sepak bola. Dan mimpinya sangat personal.
“Saya ingin final antara Brasil dan Italia,” akunya dalam sebuah wawancara. “Itu akan indah bagi saya secara emosional.”
Bayangan Ancelotti memimpin Brasil dan mungkin melawan tanah kelahirannya di final Piala Dunia 2026 adalah bak drama sinematik. Bagi Brasil, ini adalah kesempatan untuk mengakhiri 24 tahun frustrasi; bagi Ancelotti, kesempatan untuk mencapai apa yang belum pernah dicapai oleh manajer asing mana pun, memenangkan Piala Dunia bersama Selecao.
“Saya telah memenangkan segalanya. Tetapi impiannya adalah menjadikan Brasil juara dunia lagi,” katanya dalam sebuah wawancara dengan FIFA.
Kisah Ancelotti dan Brasil ini menjadi salah satu plot paling menarik jelang Piala Dunia 2026, dengan harapan besar dan tantangan besar yang menanti di depan.
(WC/GN)
sumber : www.foxsports.com
Leave a comment