Risiko Suhu Ekstrem Dalam Piala Dunia 2026
Sávio Bortolini Pimentel, mantan pemain Flamengo, merasa sangat dekat untuk mewakili Brasil di Piala Dunia 1994. Pada saat itu, suhu di Rose Bowl, Pasadena, California, mencapai 32 derajat Celsius saat Brasil mengalahkan Italia. Beberapa pemain mengungkapkan bahwa cuaca panas sangat intens, terutama pada pertandingan final.
Namun, para pemain yang akan berlaga di Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, dan Kanada terancam suhu yang lebih tidak aman dibandingkan dengan tahun 1994. Penelitian dari Imperial College London memperkirakan peningkatan risiko suhu ekstrem akibat perubahan iklim. Laporan tersebut menunjukkan bahwa lima pertandingan kemungkinan akan berlangsung dalam kondisi suhu tidak aman, meningkat dari tiga pertandingan pada tahun 1994.
Suhu Berbahaya dan Olahraga
Menurut laporan, FIFA mengacu pada suhu kering dan lembab untuk memutuskan apakah kondisi aman bagi pemain. Saat suhu basah mencapai 28 derajat Celsius, penundaan pertandingan mungkin diperlukan. Sementara FIFA saat ini mempertimbangkan penundaan hanya pada suhu yang melebihi 32 derajat Celsius.
Chris Mullington, seorang ahli anestesi di Imperial College, menjelaskan pentingnya suhu basah dalam menentukan keamanan kondisi. Cuaca dengan kelembapan tinggi dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri, yang berpotensi mengganggu performa pemain di lapangan.
Pemain Menuntut Perubahan
Baru-baru ini, sekelompok pemain profesional mengirimkan surat terbuka kepada FIFA, mendesak perubahan pedoman suhu sebelum Piala Dunia. Mereka mencatat dampak serius yang dapat terjadi, seperti kelelahan, kram otot, hingga penurunan performa. Selain itu, mereka meminta FIFA untuk mengurangi jejak karbon dengan mengurangi sponsor bahan bakar fosil dan mengubah jadwal pertandingan.
Risiko untuk Penonton
Risiko suhu tinggi juga berdampak pada penggemar yang menonton dari stadion. Penting untuk menyediakan area pengisian air gratis agar penonton tidak mengalami masalah dehidrasi. Meskipun FIFA mengizinkan penggemar membawa botol kosong untuk diisi ulang, hal ini tetap perlu diperhatikan untuk memastikan keselamatan para penonton.
Sávio menganggap bahwa meski pemain saat ini lebih terlatih dalam menghadapi panas, tantangan tetap ada, terutama pada suhu tinggi yang bisa mencapai 35 derajat Celsius. Latihan yang baik memang membantu, tetapi suhu ekstrem tetap membutuhkan perhatian khusus agar pertandingan dapat berlangsung dengan baik.
Belajar dari pengalaman Piala Dunia sebelumnya, penyesuaian dalam protokol dan kebijakan sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan suhu yang meningkat akibat perubahan iklim. Ini menjadi penting bagi keberlangsungan acara besar seperti Piala Dunia dan kenyamanan semua pihak yang terlibat.
(WC/GN)
sumber : insideclimatenews.org
Leave a comment