Piala Dunia 2026: Ancaman Penggusuran dan Mogok Sewa Sambut Hajat Akbar FIFA
Empat bulan sebelum kick-off Piala Dunia FIFA 2026, gelombang penggusuran sudah mulai terasa di kota-kota penyelenggara. Ajang sepak bola terbesar ini dijadwalkan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, di balik persiapan megah FIFA, perlawanan sengit dari masyarakat lokal tengah membara.
Serikat penyewa di berbagai kota tuan rumah telah melancarkan ‘Rent Strike 2026’, sebuah kampanye akar rumput yang menargetkan penggusuran massal dan praktik harga sewa yang melonjak tajam menjelang acara tersebut. Menurut laporan The Workers Rights, ribuan orang telah berjanji untuk menahan pembayaran sewa hingga kondisi yang adil terpenuhi.
Alasan di baliknya tidaklah sulit untuk dipahami.
Harga Sewa Meroket, Warga Tergusur
Beberapa properti sewaan sementara di kota-kota penyelenggara kabarnya dipatok dengan harga fantastis, mencapai $40.000 (sekitar Rp640 juta dengan kurs saat ini) untuk satu akhir pekan selama babak final turnamen. Angka ini terungkap dari laporan yang sama. Di Kansas City, New York, dan Mexico City, banyak penduduk lama terpaksa pindah karena pemilik properti mengubah unit mereka menjadi sewaan jangka pendek untuk para penggemar yang berkunjung.
Pola ini sebenarnya bukan hal baru, namun skalanya kali ini jauh lebih besar. Selama Piala Dunia 2022 di Qatar, harga sewa Airbnb melonjak rata-rata 112%. Di Los Angeles, tarif untuk periode Piala Dunia sudah naik 56%, bahkan beberapa properti di dekat Stadion SoFi mengalami peningkatan hingga 1.000%.
Michael Frisch, seorang profesor perencanaan kota dari University of Missouri, Kansas City, mengatakan kepada Bisnow, “Jika ada unit rumah yang kosong, atau kontrak sewa berakhir pada Mei atau Juni 2026, mengapa Anda harus mengisinya dengan sewa jangka panjang ketika Anda bisa mendapatkan keuntungan jangka pendek?”
Logika ini sudah mulai terlihat. Banyak pemilik properti mengubah hunian mereka menjadi rental jangka pendek. Penyewa yang masa kontraknya berakhir antara Mei dan Agustus 2026 menjadi pihak yang paling berisiko.
‘Rent Strike 2026’: Perlawanan Berpayung Hukum
Kampanye ‘Rent Strike 2026’ lebih dari sekadar aksi demonstrasi atau unggahan di media sosial. Serikat penyewa telah mengumpulkan sumber daya dan bantuan hukum untuk menciptakan apa yang disebut para penyelenggara sebagai ‘perisai terhadap penggusuran ilegal’. Ini memberikan kekuatan tawar menawar bagi penduduk untuk melawan pemilik properti korporat yang ingin meraup untung dari permintaan turis.
Tuntutan utama mereka jelas: pembatasan harga sewa selama jendela turnamen dan ‘Hak untuk Tetap Tinggal’ bagi semua keluarga berpenghasilan rendah dari Juni hingga Juli 2026.
Jennifer Li, direktur Centre for Community Health Innovation di Georgetown University, menjelaskan kepada Bisnow bahwa risiko ini sangat dalam. Stadion-stadion cenderung berada di daerah berpenghasilan rendah hingga menengah, menjadikan properti di sekitarnya sasaran empuk untuk konversi.
“Dalam rentang waktu yang singkat itu, ada risiko besar bagi pemilik untuk mengusir banyak penyewa saat ini atau menaikkan harga unit-unit tersebut,” kata Li. “Dalam jangka panjang, ini akan menggusur anggota komunitas berpenghasilan rendah dan menengah.”
Pola Lama yang Terulang di Event Besar
Mega-event olahraga memang memiliki sejarah panjang dalam menggusur komunitas yang seharusnya diuntungkan. Sebelum Piala Dunia 2014 di Brasil, diperkirakan 170.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, menurut kelompok advokasi yang dikutip pemerintah Inggris. Harga sewa melonjak 95% di São Paulo dan 132% di Rio de Janeiro pada tahun-tahun sebelum turnamen.
Sebuah laporan dari Queen’s University Belfast mengenai Piala Dunia 2026 juga telah menyoroti ‘pemerasan sewa’ dan ‘penggusuran paksa’ sebagai kekhawatiran hak asasi manusia utama bagi kota-kota tuan rumah.
Edisi 2026 adalah Piala Dunia terbesar yang pernah digelar. Ada 48 tim, 104 pertandingan, dan diperkirakan 6,5 juta penonton yang semuanya membutuhkan tempat untuk menginap. Hotel tidak akan mampu menyerap semua permintaan tersebut. Kekosongan ini diisi oleh pasar sewa jangka pendek yang telah tumbuh dua puluh kali lipat sejak 2011, berdasarkan laporan tolok ukur Granicus.
Bagi keluarga yang terimpit, pesan dari para penyelenggara sederhana:
“Keberhasilan kompetisi internasional apa pun tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan komunitas tuan rumah.”
Empat bulan sebelum kick-off, pertanyaan besarnya adalah apakah ada pihak berwenang yang mendengarkan keluhan dan kekhawatiran ini.
(WC/GN)
sumber : www.ibtimes.co.uk
- FIFA
- FIFA World Cup
- FIFA World Cup 2026
- Kansas City World Cup housing
- Kualifikasi Piala Dunia
- landlord price gouging
- mega-event
- New York World Cup rentals
- Piala Dunia
- Piala Dunia 2026
- Rent Strike 2026
- Right to Remain tenants
- short-term rental conversion
- tenant evictions World Cup
- World Cup 2026
- World Cup host cities
- World Cup housing crisis
- World Cup Qualifiers
Leave a comment