Pembaruan Protokol VAR untuk Mengatasi Pelanggaran Sebelum Corner
Pietro Collina, mantan wasit legendaris, mengajukan perubahan pada protokol VAR agar bisa melakukan intervensi jika terjadi pelanggaran sebelum bola dimainkan. Hal ini bertujuan agar keputusan bisa lebih adil, terutama dalam situasi yang menguntungkan tim penyerang.
Contoh Kasus
Salah satu contoh yang diangkat adalah gol yang dicetak oleh Inggris dalam imbang 1-1 melawan Uruguay di Wembley pada bulan Maret. Dalam momen tersebut, Cole Palmer mengirimkan bola dari corner, namun sebelum bola ditendang, Adam Wharton menghalangi pergerakan Jose Maria Gimenez. Akibatnya, bola justru mengarah kepada Harvey Barnes yang tembakannya berhasil dihalau oleh Fernando Muslera, dan Ben White berhasil menjebol gawang dari jarak dekat.
Pembaruan Protokol
Sebelumnya, protokol VAR tidak memperbolehkan peninjauan untuk pelanggaran yang terjadi sebelum corner. Collina meminta kepada IFAB untuk mengubah aturan ini. IFAB kini telah menyetujui permintaan tersebut, menyatakan bahwa segala pelanggaran yang terjadi sebelum bola dimainkan, dan berdampak langsung pada situasi, kini bisa ditinjau. Ini berlaku untuk gol, penalti, atau sanksi disiplin yang terjadi pada corner atau free-kick.
Dampak pada Keputusan Wasit
Kebijakan ini akan diterapkan pada Piala Dunia mendatang dan akan dievaluasi setelah turnamen. Dengan adanya perubahan ini, VAR bisa merekomendasikan pengulangan corner jika terbukti ada pelanggaran yang dilakukan oleh Wharton terhadap Gimenez dalam gol tersebut.
“Kami merasa ini sangat tidak adil jika gol diberikan ketika seorang defender tidak memiliki kesempatan untuk bermain,” ungkap Collina. “Blocking yang jelas dan ilegal oleh penyerang, hanya untuk mencegah defender defend dengan baik.”
Aturan Baru untuk Komunikasi Antarpemain
Collina juga menjelaskan aturan baru terkait pemain yang menutupi mulut saat berdebat dengan lawan. Mulai sekarang, tindakan ini bisa berujung pada kartu merah setelah insiden kontroversial antara Gianluca Prestianni dari Benfica dan Vinicius Jr dari Real Madrid dalam pertandingan Liga Champions bulan Februari. Prestianni sendiri mendapat sanksi larangan bermain enam laga dari UEFA karena perilaku homofobik.
“Jika pembicaraannya bersahabat, mereka bisa tetap melakukannya tanpa masalah. Namun, saat melakukan interaksi yang penuh konflik, menutupi mulut berarti melakukan sesuatu yang sangat salah dan sanksinya adalah kartu merah,” tambah Collina.
Pantauan Grappling di Area Pertahanan
Collina juga menekankan kesiapan para wasit untuk mengawasi grappling di dalam area penalti, dengan perangkat statistik yang diberikan untuk memahami taktik tim. Hal ini diharapkan bisa meningkatkan keadilan dalam pertandingan, meminimalisir pelanggaran yang luput dari pengawasan.
(WC/GN)
sumber : www.bbc.com
Leave a comment