FIFA Kenalkan Sanksi Baru Setelah Kontroversi Terbaru
Peraturan Kartu Merah Baru untuk Piala Dunia 2026
FIFA akan menerapkan dua langkah disipliner utama di Piala Dunia 2026 setelah disetujuinya sanksi baru oleh International Football Association Board (IFAB) di Vancouver pada 28 April 2026. Dalam aturan terbaru ini, pemain dapat mendapatkan kartu merah jika menutupi mulutnya saat berkonfrontasi, serta bisa menghadapi kemungkinan pengusiran jika terlibat dalam protes walk-off terhadap keputusan wasit.
Aturan yang Lebih Ketat Menjelang Piala Dunia Terbesar
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung mulai 11 Juni 2026, diawali dengan pertandingan antara Meksiko melawan Afrika Selatan di Stadion Kota Meksiko, dan akan berlangsung hingga 19 Juli di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ini akan menjadi edisi pertama dengan 48 tim, dan FIFA sudah mempersiapkan kontrol disipliner yang lebih ketat untuk tim peserta.
IFAB mengonfirmasi bahwa langkah-langkah baru ini diambil setelah konsultasi dengan para pemangku kepentingan terkait. Meski aturan ini tidak otomatis berlaku di semua kompetisi, FIFA menjamin penerapannya dalam Piala Dunia.
Kartu Merah untuk Konfrontasi dengan Mulut Tertutup
Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah sanksi kartu merah bagi pemain yang menutupi mulutnya saat menghadapi lawan. IFAB menyatakan bahwa penyelenggara kompetisi dapat memberikan kartu merah kepada pemain dalam situasi konfrontasi semacam itu. Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengurangi upaya menyembunyikan bahasa diskriminatif atau kekerasan sementara di lapangan dari kamera, pembaca bibir, dan wasit.
Kisah ini kembali mencuat setelah terjadi insiden di Liga Champions yang melibatkan Vinicius Junior dari Real Madrid dan Gianluca Prestianni dari Benfica pada Februari 2026.
Protes Walk-off Berisiko Lebih Tinggi
Aturan kedua mengacu pada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit. Dengan perubahan ini, wasit dapat mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang meninggalkan permainan untuk alasan tersebut.
Sanksi ini juga berlaku bagi ofisial tim yang mendorong pemain untuk meninggalkan lapangan. IFAB menambahkan bahwa tim yang menyebabkan pertandingan dibatalkan akan, pada prinsipnya, kehilangan pertandingan tersebut.
Peraturan ini muncul setelah insiden kontroversial di final Piala Afrika 2026, di mana pemain Senegal meninggalkan lapangan setelah keputusan penalti terlambat yang diberikan kepada Maroko. Meskipun Senegal kembali dan memenangkan pertandingan di babak tambahan, CAF kemudian campur tangan, dan kasus ini berlanjut ke sengketa hukum di Pengadilan Arbitrase Olahraga.
Dampak dari Aturan Baru
Penerapan sanksi baru ini menunjukkan upaya FIFA untuk menjaga integritas pertandingan dan menanggapi masalah komunikasi di lapangan. Tim dan pemain kini harus lebih waspada terhadap tindakan yang dapat berujung pada sanksi, selain berfokus pada performa mereka di Piala Dunia mendatang.
(WC/GN)
sumber : foot-africa.com
Leave a comment