San Marino: Tim Sepak Bola Terburuk di Dunia yang Hampir Kualifikasi Piala Dunia 2026
Tim nasional pria San Marino saat ini menempati posisi terakhir dalam peringkat FIFA, yaitu peringkat 211 dunia. Namun, label ini hanya menggambarkan sebagian kecil dari perjalanan mereka. Dikenal sebagai La Serenissima, San Marino memiliki populasi lebih dari 30.000 orang, di mana sebagian besar pemainnya bukanlah profesional penuh waktu. Banyak dari mereka bekerja di kantor, pabrik, atau dalam industri terkait, dan beberapa masih berstatus pelajar. Mereka membagi waktu untuk berlatih di sela-sela jadwal kerja dan bertanding melawan tim-tim besar seperti Inggris, Spanyol, dan Jerman, sementara sering dihadapkan dengan cap yang tidak diinginkan: ‘Tim terburuk dalam sepak bola internasional’. Sejak pertandingan perdana mereka pada tahun 1990, San Marino telah kehilangan lebih dari 196 dari 200 pertandingan yang dimainkan dan kebobolan lebih dari 800 gol.
Bagaimana San Marino Masuk Dalam Pertandingan dengan Raksasa Sepak Bola
San Marino adalah anggota penuh UEFA, yang menempatkan mereka dalam sistem kualifikasi Piala Dunia yang sama dengan negara-negara Eropa lainnya, dari Prancis dan Spanyol hingga tim terkecil. Tidak ada putaran awal untuk memisahkan tim berdasarkan peringkat, sehingga semua 55 tim masuk dalam undian yang sama, di mana mereka dibagi ke dalam pot berdasarkan peringkat FIFA. Setiap grup termasuk salah satu negara dengan peringkat tertinggi dari Pot 1, sehingga San Marino hampir pasti akan menghadapi setidaknya salah satu tim terkuat Eropa di setiap kampanye. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah berlaga melawan Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Belanda, Belgia, dan Italia, tim-tim yang biasanya hanya bisa mereka lihat di televisi.
Keberanian di Lapangan
Ketika menjalani pertandingan melawan tim-tim yang lebih kuat, San Marino menyadari tantangan yang harus dihadapi. Hasil-hasil yang diperoleh pun mencerminkan perbedaan kualitas. Inggris telah melawan mereka sebanyak delapan kali dan selalu menang, dengan agregat skor 54-1, termasuk kemenangan 10-0 dan 8-0. Jerman menerima kemenangan 13-0 pada tahun 2006, yang masih menjadi kekalahan terberat San Marino dalam sejarah. Meski begitu, ada momen-momen berharga yang diingat. Pada November 1993, San Marino mencetak gol hanya dalam waktu 8.3 detik dalam kualifikasi Piala Dunia melawan Inggris—sebuah gol yang bertahan lama sebagai yang tercepat dalam sejarah internasional, meski akhirnya mereka kalah 7-1.
Kampanye Piala Dunia Terbaru
San Marino berada di Grup H kualifikasi Piala Dunia 2026 bersama Austria, Bosnia dan Herzegovina, Romania, dan Siprus. Dari bulan Maret hingga November 2025, mereka menyelesaikan delapan pertandingan dan finis di posisi bawah tanpa meraih poin, setelah kalah dalam semua pertandingan, mencetak dua gol dan kebobolan 39 gol dengan selisih gol minus 37. Kemenangan terberat mereka datang dari Austria dengan skor 10-0. Meskipun hasilnya tidak memuaskan, performa mereka melawan Bosnia dan Herzegovina yang berakhir 1-0 menunjukkan bahwa mereka bisa bertahan dalam pertandingan meski hasil akhir tetap tidak berpihak.
Peluang di Nations League
San Marino memiliki peluang “belakang” untuk Piala Dunia 2026 melalui Nations League. Setiap tim dapat dipromosikan atau terdegradasi antara edisi, dan grup juara yang berprestasi di liga yang lebih rendah juga berkesempatan untuk mendapatkan tempat di play-off Piala Dunia. Dalam siklus 2026, San Marino memenangkan grup mereka di Liga D, hasil terbaik yang pernah mereka capai, sehingga mendapatkan promosi ke Liga C. Meskipun terus kalah di grup kualifikasi reguler, mereka tetap memiliki harapan teoritis untuk play-off, meskipun pada akhirnya hasil di luar lapangan menutup peluang tersebut.
Kultur dan Komunitas di Dalam Tim
Menariknya, pemain-pemain San Marino sering kali adalah orang-orang biasa yang bermain sepak bola internasional. Sebagian besar dari mereka merupakan pemain paruh waktu yang harus menyeimbangkan sepak bola dengan pekerjaan dan studi. Mereka berlatih empat hingga lima kali dalam seminggu dan kembali ke rutinitas sehari-hari setelah masa pelatihan. Dalam hal ini, struktur tim San Marino mencerminkan sebuah persatuan dan kekompakan yang sulit ditandingi.
Pemimpin Tim
Matteo Vitaioli, kapten saat ini dan pemegang rekor penampilan terbanyak di tim, memulai karier internasionalnya pada usia 17 tahun. Baru-baru ini, San Marino meraih kemenangan penting melawan Liechtenstein yang menjadi momen bersejarah. Vitaioli menggambarkan kemenangan ini sebagai sebuah emosi indah setelah bertahun-tahun mengalami kekalahan. Kemenangan tersebut tidak hanya sekadar angka, tetapi menjadi perayaan bagi seluruh negara kecil ini.
Kesimpulan
Pencapaian tim San Marino harus dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Meskipun mereka tidak memenuhi syarat untuk Piala Dunia 2026 dan terus berada di peringkat 211 dunia, keberanian mereka untuk terus berkompetisi menunjukkan semangat yang tak tergoyahkan. Di saat dunia melihat hasil akhir, San Marino selalu memberi pelajaran tentang bagaimana tim kecil dapat bertahan dan berjuang di panggung internasional, meskipun hasilnya sering kali tidak menguntungkan.
(WC/GN)
sumber : timesofindia.indiatimes.com
Leave a comment