Kisah Nuno Espirito Santo: Dari Pulau ke Puncak Manajerial
Nuno Espirito Santo, pelatih West Ham, baru-baru ini menceritakan masa kecilnya yang indah di São Tomé dan Príncipe, sebuah negara pulau di Afrika Tengah yang terletak di garis Khatulistiwa. “Saya hidup dekat laut, keluarga saya tinggal berdekatan. Saya merindukan tempat itu,” ungkap Santo yang lahir di pulau tersebut.
Dia menambahkan bahwa kunjungannya ke São Tomé membuatnya merasa rendah hati, karena melihat kondisi masyarakat yang berjuang dalam kemiskinan. “Itulah sebabnya kami merasa beruntung memiliki segala sesuatu yang kami inginkan,” ujarnya.
Perjalanan Karir Sebagai Pemain dan Pelatih
Santo meninggalkan pulau ketika berusia delapan tahun untuk mengejar karir sebagai pemain, berkiprah di klub-klub besar seperti Porto, Deportivo de La Coruña, dan Dynamo Moscow. Sejak 2012, ia mulai menjabat sebagai manajer dengan menukangi Rio Ave dan juga memimpin Valencia dan Porto sebelum berkelana ke Inggris pada tahun 2017.
Di Inggris, Santo mengelola Wolverhampton Wanderers, Tottenham Hotspur, dan Nottingham Forest. Saat ini, ia menjadi satu-satunya pelatih kulit hitam di Premier League. Namun, ia optimis bahwa manajer kulit hitam lain akan segera mengikuti jejaknya.
Dukungan untuk Keberagaman di Sepak Bola
Santo menyatakan, “Saya percaya banyak manajer kulit hitam yang berbakat akan segera terlibat di Premier League. Banyak di antara mereka yang akan memiliki musim yang baik dan akan tersedia.” Meskipun hanya 11 pelatih kulit hitam diangkat sebagai manajer tetap atau sementara selama era Premier League, Santo tidak merasa ada diskriminasi dalam perekrutan manajer untuk posisi tinggi.
Ia menambahkan, “Perbedaan di antara kami bukanlah sesuatu yang diperhatikan klub. Ini tentang bakat, kerja keras, dan sedikit keberuntungan yang memungkinkan proyek kita berjalan dengan baik.” Untuk menangani masalah keberagaman, English Football League memperkenalkan Rooney Rule pada tahun 2019, yang mengharuskan klub untuk mewawancarai kandidat dari etnis minoritas untuk posisi senior, termasuk pelatih.
Pentingnya Peluang untuk Pelatih Afrika
Deji Davies, direktur di Brentford dan ketua Dewan Penasihat Inklusi Asosiasi Sepak Bola, mengungkapkan bahwa meski banyak pemain kulit hitam di lapangan, kurangnya representasi di tingkat manajerial tetap menjadi masalah. “Hampir 50% pemain Premier League adalah kulit hitam,” katanya.
Namun, Santo percaya seorang pelatih asal Afrika akan segera diangkat di tingkat Premier League untuk pertama kalinya. “Saya memiliki kesempatan melatih beberapa pelatih Afrika dan terkesan dengan kualitas kerja mereka,” ungkapnya. Ia menilai bahwa pelatih Afrika memiliki pengetahuan dan pengalaman yang bisa saling melengkapi dengan sepak bola Inggris.
Target dan Ambisi Nuno Santo
Baru-baru ini, Santo berhasil meraih kemenangan pertamanya bersama West Ham dengan mengalahkan Newcastle. Target utamanya adalah menjaga timnya agar terhindar dari zona degradasi musim ini. Selain itu, Santo berambisi untuk memperbaiki sepak bola di tanah airnya, São Tomé dan Príncipe. “Suatu hari saya ingin kembali, mempengaruhi manajer di sana, dan berbagi pengalaman serta pengetahuan saya,” tuturnya.
Sebelum bergabung dengan West Ham pada September, Santo berhasil membawa Nottingham Forest lolos ke kualifikasi Eropa melalui posisi ketujuh di Premier League dan mencapai semifinal Piala FA musim lalu.
(PL/GN)
sumber : face2faceafrica.com
Leave a comment