Pergeseran Gaya Permainan di Liga Premier Inggris
Waktu berlalu cepat saat kita menyaksikan perubahan besar dalam sepak bola Inggris. Sepuluh pekan telah berlalu, dan kita sudah melewati lebih dari seperempat musim Liga Premier. Kita tengah mengalami perubahan gaya permainan terbesar dalam hampir satu dekade.
Perubahan Gaya Permainan
Dalam beberapa bulan awal ini, kita melihat lebih banyak umpan panjang, fokus yang lebih besar pada set piece, serta lemparan ke dalam yang langsung mengarah ke kotak penalti. Permainan terlihat kurang berkelas dan lebih kasar.
Saat tren awal musim ini mulai terbentuk, tabel Liga Premier juga mulai terbentuk setelah sepuluh pertandingan. Masih banyak pertandingan yang akan dimainkan, tetapi tabel tidak akan bergeser sebanyak yang kita bayangkan menjelang akhir musim.
Sejak musim pertama Liga Premier dengan 20 tim di tahun 1995-96, sekitar sepertiga tim hanya bergerak satu posisi — atau tetap di posisi yang sama — saat membandingkan pekan ke-10 dengan akhir musim.
Statistik Tabel Liga
Kita cenderung memberi makna lebih pada tabel liga setelah sepuluh pertandingan, mungkin karena kita tahu seberapa banyak informasi yang bisa kita ambil dari situ.
Arsenal kini memimpin tabel dengan catatan defensif yang mengesankan, mencatat tujuh clean sheet dari sepuluh pertandingan awal mereka dan hanya kebobolan tiga gol, yang merupakan rekor klub untuk tahap ini musim. Berdasarkan prediksi tabel Liga dari Opta, Mikel Arteta dan timnya berpotensi meraih 81 poin di akhir musim, dengan peluang 70 persen untuk memenangkan gelar pertama dalam dua dekade.
Sunderland menjadi kejutan musim ini dengan 18 poin dari sepuluh pertandingan pembuka, tak terkalahkan di kandang, dan menduduki posisi keempat di tabel. Tidak ada tim promosi yang terdegradasi setelah meraih sebanyak itu pada tahap ini musim, sehingga pelatih Regis Le Bris mungkin sudah lebih percaya diri dalam merencanakan kampanye berikutnya.
Di sisi lain, Bournemouth menunjukkan permainan yang mengesankan dengan gaya yang langsung dan bertenaga, sementara Andoni Iraola berupaya sedikit membawa perubahan dalam penguasaan bola. Keberhasilan awal mereka membuat mereka layak berada di posisi kelima.
Kondisi di paruh atas tabel cukup ketat, dengan hanya tiga poin memisahkan Aston Villa di posisi ke-11 dari Liverpool di posisi ketiga. Dalam konteks musim-musim sebelumnya, distribusi ini menunjukkan kompetisi yang sangat ketat di awal Liga Premier.
Data Statistik
Bagi yang mengamati statistik, deviasi standar — yang menunjukkan sebaran dataset — adalah yang terkecil sejak musim 2018-19 pada tahap ini. Oleh karena itu, ada kemungkinan tren ini mungkin tidak berubah musim ini, tetapi bukti dari musim sebelumnya menunjukkan bahwa tabel jarang mengalami perubahan drastic dari titik ini.
Sebuah penelitian tahun 2019 mencatat data pertandingan dari 1995 hingga 2017 dan menemukan bahwa tim yang memimpin Liga Premier setelah pekan ke-10 memiliki peluang 77,3 persen untuk finis di zona tiga besar. Arteta mungkin tidak mau mengakuinya, tetapi kerja keras bisa jadi sudah membuahkan hasil dalam mengamankan tempat Arsenal di Liga Champions musim depan.
Analisis dari studi tersebut menunjukkan seberapa stabil posisi tabel liga pada tahap ini. Di Liga Premier, ditemukan bahwa 77 persen variansi statistik pada akhir musim dapat diprediksi dari hasil pekan ke-10. Angka ini meningkat menjadi 87 persen pada pekan ke-20, dan 94 persen setelah pekan ke-30.
Dalam hal ini, melihat tabel liga sejak bulan November memberikan indikasi yang cukup baik mengenai posisi akhir setiap klub. Kita bisa menganalisis hubungan antara posisi sementara setiap pekan dengan posisi akhir selama musim 2024-25.
Perubahan Posisi Tim
Walaupun tabel tidak akan berbalik secara dramatis menjelang akhir musim, perbedaan antara posisi dapat sangat berarti, baik untuk gelar liga, posisi Eropa, atau kelangsungan hidup di Liga Premier.
Beberapa pengecualian yang jelas terlihat tahun lalu meliputi Nottingham Forest yang mengalami penurunan performa, meskipun mereka sebelumnya berada di zona Liga Champions setelah lima kemenangan, empat imbang, dan hanya satu kekalahan dalam sepuluh pertandingan pembuka. Kemunduran empat posisi mungkin tidak signifikan, tetapi perbedaan dalam pendapatan finansial dan pengalaman Eropa yang didapat sangat mencolok.
Tottenham Hotspur menjadi contoh penurunan terbesar, dengan jatuh sepuluh posisi dari November hingga Mei. Meskipun mereka meraih gelar Eropa, penurunan drastis di liga domestik berujung pada pemecatan pelatih Ange Postecoglou.
Di sisi positif, Newcastle berhasil merangkak naik setelah awal yang kurang memuaskan. Di bawah arahan Eddie Howe, mereka meraih enam kemenangan dari tujuh pertandingan di bulan Maret dan April untuk merebut satu tempat sisa di Liga Champions.
Melihat kembali pada statistik, tablet sudah menunjukkan stabilitas setelah sepuluh pertandingan. Di antara 20 tim pada musim 2024-25, sembilan di antaranya tetap di posisi yang sama atau hanya berpindah satu posisi antara pekan ke-10 dan akhir musim.
Kesimpulan
Belum semua tim bertemu, tetapi tabel mulai terlihat mantap, dan bukti sebelumnya menunjukkan bahwa pergeseran secara dramatis sangat tidak mungkin terjadi. Pergeseran yang lebih halus dalam posisi mungkin akan memberikan pengaruh besar bagi klub dalam hal gelar, kualifikasi Eropa, atau bahkan kelangsungan hidup di Liga Premier.
(PL/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment