PARADE JUARA ARSENAL: PERAYAAN KOMUNITAS DI BALIK KEMENANGAN
Ketika bus Arsenal berbelok dari Blackstock Road menuju Newington Green, kerumunan yang padat sudah siap menyambut. Momen singkat itu terhalang oleh asap merah, tetapi saat juara Premier League melintas, semua orang tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengambil gambar. Ponsel dikeluarkan, lensa diperkecil, dan momen itu tersimpan dalam ingatan, sebelum mereka kembali bergegas.
Kemacetan bukan hanya disebabkan oleh bus yang melintas. Para penonton bisa jadi ingin mengejar bus di titik lain, pulang, atau bergabung kembali dengan piknik. Ini bukan sekadar perayaan yang terikat pada rute resmi parade, tetapi perayaan komunitas lokal dan global, identitas yang terbentuk dari tantangan dan cemoohan, serta momen sukacita bagi generasi yang jarang memiliki hal untuk dirayakan.
Keramaian yang Mencengangkan
Kepolisian Metropolitan memperkirakan bahwa parade gelar Arsenal ini akan menjadi yang terbesar dalam sejarah olahraga Inggris, dengan lebih dari satu juta orang diperkirakan akan mengisi jalur sepanjang lima mil. Hal ini terlihat dari keramaian di kereta yang tiba di Kings Cross dari utara dan selatan. Di sekitar Highbury, setiap penduduk tampak menanti dengan kursi lipat di depan rumah mereka. Jalanan di sekitar Finsbury Park dipadati, dan di Holloway Road, banyak yang memanjat atap Tesco Extra untuk melihat momen bersejarah ini. Banyak yang menghias jendela dengan bendera atau menggelar handuk Gunnersaurus. Seorang pria paruh baya tampak berjalan di Holloway Road dengan kostum lengkap, termasuk sepatu boots. Rasio kaos Arsenal dibanding pakaian lainnya hampir dua banding satu.
Kisah Penonton
Solene, yang bersama temannya Zoe, menunggu parade di Petherton Road, Highbury. Meskipun kini tinggal di Birmingham, Solene pulang dari Republik Demokratik Kongo untuk merayakan. Ia mengungkapkan, “North London sangat berarti bagi banyak orang yang dibesarkan di sini. Arsenal tidak hanya merepresentasikan utara London, tetapi seluruh London dan aspirasi secara umum. Saya sangat bangga akan hal itu.”
Komentar Solene tercermin dalam keragaman kerumunan di sekitarnya. Di jalan-jalan, banyak yang hadir dengan latar belakang yang berbeda. Orang-orang dari berbagai etnis dan kebangsaan berkumpul, seperti wanita yang mengenakan hijab dengan bendera dan pria yang menyanyikan lagu dalam bahasa Turki. Generasi di bawah 30 menjadi wajah parade ini, seringkali mengenakan kaos tim dari era Invincibles di tahun 2004, meskipun mereka tidak memiliki memori langsung tentang tim tersebut.
Suasana Meriah di Emirates Stadium
Tujuan akhir dari parade ini adalah Emirates Stadium, meski upacara perayaan tidak dibuka untuk umum. Namun, itu tidak menyurutkan semangat para penggemar yang menyanyikan lagu dan merayakan di jalanan sekitarnya, menciptakan suasana seperti karnaval. Beberapa penduduk asli North London berbincang-bincang tentang bagaimana segala sesuatunya berubah seiring waktu.
Kenny dan Andrew, yang pernah menyaksikan perayaan Double winners tahun 1971, mengenang bagaimana era itu berbeda. “Dulu, kamu bisa mengikuti bus dan berteriak kepada para pemain. Sekarang bus berlalu cepat dan para pemain nyaris tidak melihat kami,” ungkap Andrew.
Perayaan yang Berbeda
Kedua sahabat tersebut terkejut dengan banyaknya penggemar baru yang hadir dan sejumlah uang yang dikeluarkan untuk merayakan, terutama untuk kaos replika yang harganya mulai dari £80. “Perayaan ini lebih besar dari sebelumnya,” kata Kenny dengan nada campur aduk. “Tapi saya mengerti, dunia saat ini rumit dan kamu harus meraih kebahagiaan ketika bisa.”
Perayaan ini lebih dari sekadar momen kemenangan Arsenal. Ini juga mencerminkan semangat komunitas yang kuat di tengah tantangan yang ada. Arsenal bukan hanya soal sepak bola; ini adalah simbol harapan, identitas, dan kebersamaan bagi para penggemarnya.
(PL/GN)
sumber : www.theguardian.com
Leave a comment