Analisis Taktik Chelsea di Bawah Liam Rosenior
Penulis sepak bola Adrian Clarke mengidentifikasi pemain kunci, taktik tim, serta area di mana pertandingan bisa dimenangkan atau kalah pada Matchweek 23.
Penerapan Tekanan yang Efektif
Di bawah kepemimpinan Liam Rosenior, Chelsea menunjukkan pendekatan baru yang agresif dalam permainan. Dalam dua pertandingan pertamanya, tiga dari empat gol yang dicetak Chelsea berasal dari tekanan tinggi yang berhasil, sebuah hal yang tentunya membanggakan bagi pelatih berusia 41 tahun ini.
Rosenior menginginkan pemainnya untuk tampil agresif saat kehilangan bola, dan hasilnya terlihat cukup menjanjikan. Marking perorangan (man-to-man marking) menjadi salah satu ciri permainan Chelsea sejak pelatih baru ini mengambil alih, di mana beberapa anggota lini belakang diinstruksikan untuk mengikuti pemain lawan hingga ke lini tengah untuk memberikan tekanan.
Contohnya, dalam leg pertama semifinal EFL Cup melawan Arsenal, gol pembuka Arsenal diawali dari tindakan agresif Enzo Fernandez yang sedang melakukan marking terhadap Martin Odegaard. Fernandez berhasil melakukan intercept dari umpan yang tidak akurat, dan setelahnya Chelsea berhasil menguasai bola kembali sebelum mencetak gol lewat Alejandro Garnacho.
Dua gol Chelsea dalam kemenangan 2-0 melawan Brentford juga berasal dari press yang dilakukan dengan baik. Setelah kehilangan bola, Fernandez cepat sekali merebut kembali bola dari Michael Kayode di area penalti lawan, yang memberi kesempatan bagi Joao Pedro untuk mencetak gol.
Pola Permainan Bek yang Berbeda
Reece James dan Marc Cucurella dikenal sebagai bek sayap yang sangat aktif, tetapi Rosenior tidak mendorong mereka untuk terus berada di posisi lebar. Sebaliknya, ia lebih suka para winger berada di tepi lapangan menunggu umpan untuk menjalani duel satu lawan satu.
Kedua bek sayap tersebut seringkali berinisiatif untuk masuk ke tengah area pertahanan, menjaga posisi di samping Moises Caicedo saat membangun serangan. Hal ini berbeda dengan permainan di bawah pelatih sebelumnya, di mana mereka lebih leluasa untuk overlap dan membantu serangan di area final.
Posisi ini berhasil menciptakan peluang bagi winger Chelsea, sehingga bisa mengeksploitasi ruang di sisi lapangan dengan efektif.
Distribusi Bola Berani
Rosenior meminta pemainnya untuk berani dalam penguasaan bola agar bisa menggerakkan bola ke area yang lebih baik. Meskipun terlihat kesulitan saat memberi pas kepada gelandang di semifinal melawan Arsenal, situasi itu membaik saat melawan Brentford.
Strategi ini memang berisiko, karena bisa saja intersepsi terjadi, tetapi bila berhasil, Chelsea mampu menciptakan peluang yang menjanjikan. Distribusi yang tepat dapat membuka opsi serangan yang strategis.
Pola Permainan Bersistem
Dengan menggunakan formasi 4-2-3-1 atau 4-1-4-1, Rosenior tampaknya menerapkan pola permainan yang mirip dengan false nine. Joao Pedro sering turun ke belakang untuk menghubungkan permainan, memungkinkan Chelsea untuk menciptakan overload di area tengah.
Dengan posisi yang cenderung menarik pemain lawan, Chelsea harus berhati-hati agar tidak kehilangan penguasaan bola, terutama saat lawan menekan.
Proses Pembentukan Tim yang Masih Berlanjut
Setelah empat pertandingan, Chelsea di bawah Rosenior masih dalam tahap pembentukan. Taktik agresif, isolasi winger, dan penguasaan bola menjadi fokus pelatih baru ini. Namun, walau ingin menguasai pertandingan, mereka justru berada dalam posisi rendah dengan hanya 45,8% penguasaan bola saat melawan Brentford.
Pertandingan berikutnya melawan Crystal Palace di Selhurst Park akan menjadi ujian bagi Chelsea, dan diharapkan mereka bisa lebih menguasai jalannya permainan.
(PL/GN)
sumber : www.premierleague.com
Leave a comment